Monday, December 08, 2014

Mukjizat...?

Dulu ketika Rasul masih hidup dan tinggal di Madinah, bersabda "“bahwa Kota Konstantinopel akan jatuh ke tangan Islam. Pemimpin yang menaklukkannya adalah sebaik-baik pemimpin dan pasukan yang berada di bawah komandonya adalah sebaik-baik pasukan.” [H.R. Ahmad bin Hanbal Al-Musnad 4/335]. Pemahaman Ilmu pengetahuan yang terbatas namun keimanan yang sangat besar maka sabda rasul itu diyakini sebagai sebuah muhjizat. Mengapa ? Ketika itu, Konstatinopel adalah sebuah kerajaan yang dilengkapi dengan tentara terlatih dan dikelilingi oleh tembok kota yang sulit ditembus dengan tekhnologi yang ada pada saat itu. Dan lagi, ketika Rasul berkata itu, umat islam sedang dalam posisi hidup mati menghadapi serangan kaum kafir qurais,yang selalu terancam. Namun Sabda Rasul itu diyakini oleh para pengikutnya kecuali kaum yahudi. Mereka tahu bahwa apapun perkataan Rasul adalah bersumber dari Allah. Keimanan kepada Allah ,juga adalah keimanan kepada Rasul.  Kata kata Rasul itu dicatat dengan rapi oleh para sahabatnya, dan menjadi inspirasi hebat bagi para pejuang islam setelah Rasul wafat. Mereka ingin menjadi orang terpilih membuktikan sabda Rasul itu. Namun ketika itu diyakini sebagai Mukjizat maka ia  mengecoh. Terbukti berkali upaya penaklukan benteng Konstantinopel yang di lancarkan sejak  zaman Mu’awiyah bin Abi Sufyan , Khalifah Umayyah, Khalifah Abbasiyyah, termasuk di zaman Khalifah Harun Arrasyid. Beberapa usaha untuk menaklukkan Konstantinopel juga dilakukan oleh para pemimpin Daulah Utsmaniyyah termasuk Sultan Murad II yang pernah melakukan beberapa kali pengepungan ke benteng tersebut. Semua nya gagal.

Tapi, untunglah, tak semua dan tak selamanya orang teperdaya dengan Mukjizat. Sultan Murad II menyadari dan paham apa tersirat dibalik hadith Nabi itu bahwa itu bukan mukjizat yang seperti Nabi Sulaiman mendatangkan Istana Bulqis didepan matanya. Hadith menyebutkan hukum sebab akibat yang tak terbantahkah ( sunattullah ) bahwa hanya yang qualified berhak menjadi penakluk. Bahwa kemenangan itu hanya mungkin bila pemimpinnya baik dan rakyatnya juga baik.  Sultan Murad II menyatadari bahwa dia bukan orang yang qualified sesuai hadith Nabi itu. Untuk itu dia focus untuk mengawali rencana penaklukan itu dari mendidik putranya sejak usia dini untuk menjadi penakluk. Putranya itu bernama Muhammad Tsaniy,yang belakangan dikenal dengan Sultan Muhammad Al Fatih. Proses membuat Al Fatih menjadi penakluk bukanlah hal mudah atau simsalabim.Tapi proses panjang. Ia didik oleh guru terbaik diberbagai bidang. Melewati usia pertumbuhan dengan belajar dan belajar keras. Ketika dia terpilih sebagai khalifah dalam usia muda.Perencanaan penaklukan itu dibuat dengan sangat teliti dan melibatkan berbagai ahli dibidang alat perang, spiritual, management logistik perang . Tidak sekali serang langsung menang.Butuh berkali kali serangan dengan korban tak terbilang sampai akhirnya Al Fatih berhasil merubuhkan konstatinopel. Sejarah berhasil membuktikan sabda Rasul itu  bahwa Kota Konstantinopel jatuh ke tangan Islam. Namun tidak dengan mudah tapi proses panjang untuk bisa sempurna seperti syarat yang ditetapkan sabda Rasul itu.

Mao ingin agar Cina yang ”terbelakang” bisa beberapa tahun jadi sebuah negeri industri yang setaraf Inggris. Mao percaya dengan mimpi sosialis komunis yang tidak menciptakan kelas,kesetaraan dalam kebersamaan untuk membangun peradaban sama rasa sama rata. Untuk itu negara menguasai semua untuk memastikan terjadinya distribusi keadilan. Dengan hebat Mao menyampaikan retorika tentang kemujizatan komunisme yang akan memimpin dunia. Rakyat banyak termotivisi dan terinspirasiuntuk di mobilisasi demi mimpi Mao “Lompatan China jauh kedepan”. Di pedesaan Cina yang luas, ribuan tanur tinggi untuk produksi baja dibangun dengan mengerahkan segala bahan yang ada. Hasilnya: baja yang tak bermutu. Sementara itu, di seantero Cina yang luas, selama dua tahun berjuta-juta petani telah dikuras tenaganya untuk itu, hingga sawah dan ladang telantar—dan kelaparan pun datang. Berapa juta manusia yang mati akibat itu, tak pernah bisa dipastikan.  Ketika Deng menggantikan Mao, dia sadar bahwa mimpi  sosialis komunis bukanlah negara “berhak”  atas semua tapi negara “berkuasa” atas semua yang digunakan untuk tegaknya keadilan .Kesetaraan  itu bukan diterjemahkan sama rasa sama rata tapi bermakna keadilan sosial  dimana kesejahteraan orang tergantung dari kerja keras dan pengetahuannya. Hanya dengan cara itu mimpi sosialis komunis bisa tegak karena emansipasi rakya terbangun dan setiap orang memberikan kontribusi untuk terbangunnya peradaban yang makmur dan bermartabat.

Tentu saja harus dicatat: Indonesia hari ini bukan Khalifah Islam di masa Mu’awiyah  , Umayyah, Abbasiyyah yang percaya merebut konstatinopel adalah mukjizat bukan pula Cina di masa Mao yang percaya kemakmuran China karena mukjizat retorika komunisme. Indonesia harus bersikap seperti Sultan Murad II dalam menafsirkan hadith bahwa kemenangan adalah proses sunatullah,bukan mukjizat. Sultan Muhammad Al Fatih yang berhasil menaklukan Konstantinopel karena akhlak nya ( mental ) yang agung sehingga menjadi teladan bagi rakyatnya untuk meniru. Maka terciptalah lingkungan soslal politik yang meninggikan kalimah Allah  dimana kebaikan diutamakan, kebenaran dibela dan keadilan diperjuangkan.  Indonesia harus percaya bahwa kemakmuran itu bukan mukjizat tapi karena proses kerja keras dan kemampuan berkembang karena ilmu pengetahuan. Negara sebagai wasit yang adil dan bendahara yang jujur dan amanah serta komandan  yang tumakninah dengan aturan dan hukum yang mengutamakan keadilan bagi semua. Indonesia butuh kapitalisme demi terjadinya kompetisi dan efisiensi namun Indonesia juga butuh  sosialimse demi keadilan sosial dan Indonesia idak bisa lepas dari agama demi lahirnya peradaban yang dirahmati Allah. Kapitalisme dan sosialisme adalah kebudayaan dan Islam adalah agama yang menjadi penyeimbang dan memastikan mukjizat itu bukan too good to be true tapi mukjizat itu adalah kesadaran kita mengakui bahwa Tuhan menjamin rezeki semua makhluk namun  Tuhan tidak pernah mengirim makanan kesangkar burung. Inilah mukjizat manusia. Menyadari ini adalah inti dari kesadaran bertauhid yang benar. Bahwa manusia bukan hidup untuk “meminta” tapi “memberi.”

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...