Sunday, November 02, 2014

Kekuatan berbagi..

Waktu kunjungan ke Changsha ( Hunan, China ), teman saya dengan senang hati mengantar saya ke Mesjid untuk sholat jumat. Lokasi masjid tidak jauh dari Stadion Olah raga dan nampak terawat sangat baik. Ukuran mesjidnya cukup besar dengan diapit dua menara. Arsitekturnya sepertinya gabungan dari Arstitektur China dan Spanyol. Tamannya luas dan bersih. Ketika masuk kedalam masjid , saya bingung karena suasana sunyi. Apakah saya suda telat. Tapi saya lirik jam saya , ini masih belum waktunya sholat. Kedatangan saya disambut oleh 5 orang. Mereka semua pengurus masjid. Mereka membawa saya kedalam masjid. Kemudian, salah satu dari mereka azan. Apakah mereka sholat Jum’at baru akan dimulai hanya karena menanti saya.? Belum hilang kebingungan saya, salah satu dari mereka berdiri dipodium untuk kotbah jumat. Saya tidak paham apa yang disampaikan namun berlangsung sangat cepat sekali. Usai kotbat Jumat, salah satunya maju sebagai  imam sholat.  Makmum sholat jumat ini hanya lima orang, saya, tukang azan, pengkotbah dan dua lainnya dari pengurus. Semua proses sejak saya datang sampai selesai sholat jumat,  berlangsung kurang lebih 30 menit.  Teman saya menjawab kebingunan saya dengan penjelasan bahwa sebelum saya datang dia sudah menelphone pengurus masjid. Mereka sudah biasa lakukan untuk para turis,khususnya untuk acara sholat jumat. Tapi mereka juga melayani untuk turis melakukan sholat lim waktu. Namun imamnya tetaplah mereka.

Huogongdian
(Temple of Fire-god) Restaurant
Malamnya saya diajak teman dinner. Tempatnya bekas komplek Vihara. Vihara itu tetap berdiri utuh namun telah berubah fungsi. Tempat persembahan berubah fungsi menjadi toko cindera mata dan museum. Dibelakang vihara itu ada asrama para Biksu yang sudah berubah fungsi menjadi restoran berlantai dua. Suasana restoran seakan membawa kita kemasa era sebelum revolusi kebudayaan dimana Vihara menjadi pengikat antara rakyat dengan agamanya. Saya bingung mengapa vihara dirubah jadi restoran. Sementara masjid di biarkan berdiri. Hal ini saya tanya keteman saya yang kebetulan adalah pejabat pemda. Menurutnya, China tidak melarang masjid berdiri tapi melarang umat islam mengorganisir zakat infak dan sadaqah. Mengapa? Tanya saya tambah bingung. Untuk melemahkan Islam, tidak perlu masjid dirobohkan tapi larang mereka mengorganisir zakat, infak dan sadaqah. Lambat namun pasti maka Islam akan memudar dan tentu masjid akan ditinggalkan umat. “ Anda bisa liat tadi di Masjid. Yang sholat hanya anda. Itu yang memimpin ritual sholat juga tidak paham apa itu Islam. Mereka di training oleh Dinas Pariwista bagaimana melaksanakan ritual sholat jumat. Pemerintah china menanggung semua kebutuhan biaya merawat masjid, honor pengelola masjid, dalam pos anggaran kebudayaan.

Lantas mengapa Vihara ditutup, bahkan diganti dengan restoran.? tanya saya.Dengan tersenyum teman saya itu berkata,melemahkan budha haruslah dengan menghilangkan tempat ibadah. Karena tempat ibadah adalah lambang persatuan dan kekuatan mereka. Beda dengan islam, dimana kekuatan umat Islam itu adalah berbagi satu sama lain. Selagi mereka berbagi bukan karena agamanya, kita engga peduli. Itu urusan pribadinya dengan Tuhannya.Tapi kalau di organisir maka mereka menjadi kekuatan yang mengancam kekuatan negara dimanapun. Saya tidak tahu apakah kata teman ini memang menjadi kebijakan politik negara China namun sebagai kader Parti komunis china maka itu dapat dipahami karena Partai Komunis punya dokrin tidak boleh ada isme lain selain Komunisme. Apapun kekuatan diluar partai Komunis harus dilemahkan. Itu sebabnya tidak ada isme lain yang bisa hidup ketika Partai Komunis memegang kekuasaan. Juga bila isme lain seperti Agama memegang kekusaan maka komunisme tidak boleh ada. Menurut teman itu, bukan hanya komunisme yang melemahkan gerakan Islam tapi juga isme lain seperti Kapitalisme dan sosialisme. Kapitalisme menanamkan budaya individualisme dan hedonisme sehingga orang menjadi individu yang miskin empati untuk berbagi. Sosialisme menanamkan budaya orang hidup serba tergantung kepada negara sehingga orang malas berproduksi tentu akhirnya tidak mampu berbagi. Mereka menjadi kumpulan komunitas yang bergantung kepada negara,bukan kepada Tuhannya. Demikia katanya tersenyum dengan penuh arti seakan meminta saya tidak hanya sekedar memahaminya.

Saya termenung. Benarlah, dalam suasana demokrasi sekalipun , walau umat islam mayoritas namun partai yang mengusung bendera  islam tetap tidak bisa unggul.  Banyak ormas islam tidak punya pengaruh besar menentukan arah kebijakan politik yang bersumber kepada Al Quran dan hadith. Banyak sekali aliran Islam berjuang untuk tegaknya syariah islam namun mereka bagaikan kunang  kunang atau buih ditengah laut yang mudah tersibak oleh sampan terkecil. Teman saya ada benarnya bahwa walau Islam mayoritas tapi kekuatan islam semakin melemah karena semakin memudarnya semangat berbagi dan digantikan oleh budaya individualistik. Begitu banyak kegiatan tabligh Akbar diadakan dimasjid namun itu tak lebih seperti ajang motivasi keimanan dan ketaqwaan, bukan ajang berbuat nyata dalam program berbagi. Seperti program The Tzu Chi yang menggalang semua orang dari semua lapisan untuk berbagi. Ya berbagi apa saja yang mereka punya untuk cinta.  Saya rasa tidak ada salahnya belajar dari gerakan Tzu Chi. Saya yakin apabila gerakan ormas Islam bisa meniru cara Tzu Chi maka gerakan itu tidak akan butuh waktu lama untuk menjadi kekuatan yang diperhitungkan. Karena umat islam mudah sekali tersentuh kepada siapapun yang membelanya bukan lewat kata kata tapi lewat perbuatannya. Karena islam itu ada di hati dan hati hanya bisa ditaklukan dengan cinta.  Ormas islam harus mampu merebut cinta itu dengan program cinta.

Semoga kita mendapatkan hikmah dari keadaan di China. Kalau kekuatan spritiual kita di masjid tidak menimbulkan semangat berbagi maka tunggulah kekuatan umat Islam akan memudar dan akhirnya kalah total...KIni kita sudah kalah tapi belum kalah total. Tidak ada salahnya untuk berbenah diri..mari kerja ,kerja dan perterbal empati agar bisa berbagi...

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...