Saturday, November 15, 2014

Indahnya Islam...

Sedari kecil anak anak kalau pulang sekolah yang pertama dipanggilnya adalah ibunya. Apapun masalah  mereka bicara dengan ibunya. Semua kebutuhan mereka meminta kepada ibunya. Bahkan setelah berumah tangga , tetap ibunya sebagai magnit. Istri saya tidak pernah mengambil keputusan penting soal anak tanpa persetujuan saya, seperti kapan anak boleh bawa mobil sendiri,kapan boleh tinggal diluar, izin jalan jalan, dan setiap keputusan saya selalu ada syarat dan istri saya dapat menyampaikan syarat itu kepada anak anak dengan “bahasa ibu”. Mengapa mereka lebih dekat kepada ibunya dibandingkan saya? Sebagai anak yang juga putra dari ibu saya ,saya dapat merasakan alasan anak anak dekat dengan ibunya. Apa itu ? karena mereka merasakan ketulusan tanpa syarat pada ibunya. Ibu bagi mereka sebagai kekuatan ketika mereka lemah, sebagai penyeimbang ketika mereka ragu, sebagai tempat teraman dan terdamai  didunia. 5000 tahun sebelum masehi,manusia di Barat mempercayai “Bunda Agung”.Suatu lambang imajiner tentang ketulusan yang menentramkan. Semua orang, baik secara individu maupun kolektif menyimpan  “bunda agung” sebagai archetype, sebagai citra yang terawat dalam jiwa. Karena itu mereka bergerak kesatu arah dalam semangat kebersamaan. Agaknya sama dengan dikita “ibu Pertiwi” yang dipercaya sebagai tempat yang damai untuk pulang, karena disana ada “pemurah” penuh kasih dan sayang.

Tapi archetype itu kemudian tersingkir oleh citra Tuhan sebagai Bapa yang membatasi manusia dengan hukum dan pembalasan. Agama diperkenalkan tentang reward dan punishement. Tentang sorga dan neraka. Sesuatu yang sebetulnya agung tentang Tuhan menjadi hablur oleh prinsip kapitalisme agama. Orang dekat kepada Tuhan karena berharap sorga dimana semua serba menyenangkan tanpa kerja keras. Sejak itu bunda agung dipertanyakan, ibu pertiwi diragukan dan ketulusan/keikhlasan berubah menjadi rakus. Di masa itulah Adam Smith merumuskan pemikirannya tentang ekonomi: pada mulanya adalah Langka, dan langka pun jadi gerak, dan gerak menuju ke kekayaan. Ekonomi berjalan dari premis itu. Apalagi dari langka pula lahir nilai. Ketika kemudian yang berkuasa adalah ”nilai tukar”, uang dan bank pun kian berperan. Bank, yang memproduksi uang, sekaligus membuat uang sebagai sesuatu yang terbatas jumlahnya. Dengan memberikan pinjaman seraya memungut bunga, bank akan memperoleh lebih banyak uang tanpa ia harus memperbanyak uang yang beredar. Di barat dan juga di Indonesia, uang dan sistem peredarannya itulah yang membuat Langka dan Rakus ”terus menerus diciptakan dan diperbesar”. Bank Sentral, yang merawat langkanya uang dengan menjaga suku bunga, secara tak langsung menguntungkan mereka yang menyimpan uang di bank. Investasi di sektor riil jadi tak selalu memikat—terutama ketika dana bisa dengan cepat melintasi batas nasional dalam rangkaian pinjam meminjam dengan bunga berbunga. Lapangan kerja makin sedikit. Ketimpangan pun menajam, seperti di Indonesia kini, dan semua itu karena kapitalisme berarti rakus dan rakus berarti tidak ada ketulusan.

China ketika menerima kapitalisme, yang pertama dikendalikan oleh negara adalah sifat rakus dan tetap menjadikan Mao sebagai kiblat tentang ketulusan seorang ibu. Bagi Deng, semua didunia ini  hanyalah omong kosong bila ketulusan tidak ada lagi. Karenanya Deng tidak terlalu mengatur mekanisme pasar tapi mengatur ritme jantung dari kapitalisme. Apa itu? Uang. Negara memastikan hanya negara yang tahu nilai uang itu.Tidak boleh ada orang lain tau , apalagi pihak asing. Berapa kurs RMB tergantung oleh negara bukan oleh pasar. Rakyat tidak boleh pegang mata uang asing.Rakyat tidak bisa bebas memindahkan dananya keluar negeri. Berapapun devisa ekspor yang mereka dapatkan, itu akan diambil oleh negara dan mereka akan mendapatkan RMB. Siapapun yang menempatkan uang dibank akan rugi dalam jangka panjang karena negara menerapkan pajak progressive terhadap tabungan/devosito. Orang tidak boleh semakin kaya dengan hanya tiduran menikmati bunga. Orang harus kerja dengan uangnya agar distribusi uang melahirkan pabrik dan usaha yang menampung angkatan kerja. China menerapkan kapitalisme namun by system orang dipaksa “memberi”, dipaksa ikhlas. Dari itulah negara punya legitimasi dan dipercaya untuk semua orang berkiblat kesatu arah, Partai Komunis.

Nabi Muhammad SAW datang memperkenalkan Islam tentang makna ketulusan. Tidak ada batas antara Manusia dengan Tuhan. Setiap orang beriman percaya bahwa didalam dirinya ada islam, ada rahmatan lilalamin, ada bunda agung, ada ibu pertiwi, dan ada Tuhan. Semuanya tentang hakikat memberi dan pemurah. Berkali kali krisis politik dan ekonomi terjadi,indonesia tetap berdiri tegak bukan karena pemerintah kuat tapi karena didalam diri rakyat indonesia sebagian besar ada islam. Islam itu adalah  ”memberi”. ”Memberi” membebaskan manusia dari rakus, dari kapitalisme. Hanya dalam memberi, dalam berkorban, orang menemukan sesuatu yang suci, justru dalam sadar tanpa laba, ya seperti keikhlasan seorang  ibu. Karena ibu, Tuhan membuat semua menyenangkan, dan mendamaikan. Bila semangat “memberi” memudar, keikhlasan  terhalau maka sebetulnya Islam sudah hilang di negeri ini, karena islam sudah removed dihati umat islam. Islam yang ada hanyalah islam simbol ritual yang miskin spiritual sosial,yang selalu bertikai dalam amarah tak berkesudahan...

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...