Friday, November 07, 2014

Berbuat dan berharap.

Semua tahu bahwa standard international untuk bandara berkelas dunia adalah tersedianya fasilitas klinik. Tahukah anda, kemarin ketika di sidak oleh KemenHub, di Bandara Soekarno Hatta klinik berubah fungsi menjadi gudang ( banyak tumpukan karton). Bertahun tahun itu dibiarkan dan bandara kita seperti pasar malam namun hari itu juga dibenahi untuk dapat dipastikan seluruh fasilitas bandara berfungsi dengan baik. Semua tahu bahwa bahwa standard untuk PJTKI adalah tersedianya Tempat Penampungan yang manusiawi. Tahukah anda, kemarin Menteri Tenaga kerja sidak ketempat penampungan TKI tapi ditolak. Karena PJTKII itu ilegal. Ternyata penyebab brengseknya penyaluran tenga kerja  Indonesia karena banyak PJTKI ilegal. Ini telah berlansung tahunan tapi dibiarkan. Hari itu juga program audit PJTKI dilakukan secara nasional untuk memastikan tidak ada lagi PJKTI ilegal. Semua tahu bahwa para prajurit yang bertugas atas nama negara dimedan perang adalah pahlawan. Kemarin waktu Menteri Sosial bertemu dengan ex pejuang Timor TImur, ternyata banyak diantara mereka yang cacat tanpa ada kepedulian negara secara optimal, termasuk menyediakan kaki palsu dll. Hari itu juga dipastikan seluruh pejuang mendapat santunan dari negara. Semua tahu bahwa Listrik itu fital bagi rakyat. Tapi tahukah anda bahwa krisis listrik di Sumatera Selatan dan Lampung karena tidak adanya izini dari Mentri ESDM untuk mensupplai gas. Ini telah berlangsung 6 tahun, dan oleh menteri ESDM yang sekarang itu hanya selesai 1 malam.

Begitu banyak yang tahu tentang bagaimana seharusnya bandara berstandar international, bagaimana pengelolaan pengiriman tenaga kerja keluar negeri, bagaimana bertanggung jawab kepada pahlawan, bagaimana menyediakan sarana umum listrik, bagaimana memimpin negara. Begitu banyak yang tahu, begitu banyak yang mengerti tapi begitu banyak tidak berbuat. Itulah yang dipahami oleh Jokowi dan itulah yang diingatkan kepada para Mentri ketika usai dilantik bahwa mereka harus mengusai masalah dan tahu lapangan.  Menguasai masalah tanpa tahu lapangan akan terjebak dengan mesin birokrasi yang selalu terlambat meng up date masalah dan terkesan dengan keyakinan waktu akan menyelesaikannya ( Time will heal ). Usai dilantik, semua menteri langsung berkeja. Mereka datang, mereka liat, mereka selesaikan. Mereka harus terus bekerja keras karena masih terlalu banyak PR dari rezim sebelumnya yang elitenya sangat yakin tanpa kerja, tanpa sibuk pembangunan dapat sukses. Sebetulnya pemerintah itu bermakna dua yaitu bisa dia bermakna pengatur ( administratur) dan bisa juga bermakna pengurus. Di Indonesia , kesan pengatur lebih dominan karena itu birokrat sibuk rapat, sibuk buat perencanaan, sibuk studi banding, sibuk ikut seminar, agar bisa melahirkan produk yang bernama aturan. Setelah itu, mereka akan sibuk lagi buat aturan dan aturan. Sehingga mereka lupa bahwa aturan itu tidak akan efektif bila tidak diiringi dengan sikap pengurus.

Birokrat adalah bagian dari kepemimpinan Nasional. Pemimpin yang baik adalah mereka yang melaksanakan fungsi management. Yaitu pertama Planning, 25% waktunya membuat perencanaan dan berpikir, yang kedua organizing , 25% waktunya untuk mengorganisir rencana itu agar dapat terlaksana dengan baik, yang ketiga actuating , 25% waktunya untuk mengambil keputusan selama peksanaan, yang keempat controlling , 25% waktunya mengendalikan atau mengawasi untuk memastikan semua rencana atau niat dapat mencapai tujuan dan setiap masalah dapat segera diatasi dengan cepat. Pemimpin yang baik harus menjaga ritme kerja seperti itu. Karena kepemimpinan adalah juga proses dan pendelegasian wewenang maka keteladanan pemimpin paling atas atau presiden sangat menentukan ritme kerja dibawahnya. Apa yang dilakukan menteri, itulah yang diteladankan oleh Presiden. Kalau dulu semua serba telambat sehingga masalah menumpuk, ya itu yang diteladankan SBY kepada menteri dan tentu menteri akan meneladankannya kepada bawahannya lagi sampai ke level terendah. Akibatnya walau APBN naik berlipat namun infrastruktur masih buruk dan hutang terus bertambah , deindustrialisasi dan akhirnya terjadi defisit account yang merupakan gabungan dari semua defisit.  Sangat dahsyat sekali akibat dari ritme kerja yang berprinsip TIME WILL HEAL.  Ini sudah menjadi penyakit mental. Jokowi bertekad merubah mental TIME WILL HEAL menjadi TIME IS MONEY. Waktu sangat berharga dan lebih lagi bila diisi dengan kerja maka karena proses kerja keras itulah Time Will Heal.

Orang barat berkata "TIME IS MONEY ".Ini bukan berarti hidup mengejar uang atau hidup bermakna uang tapi betapa waktu begitu berharganya. Makanya orang yang suka menunda pekerjaan dengan keyakinan bahwa TIME WILL HEAL, sebetulnya orang yang sangat sombong dihadapan Allah. Mengapa ? karena begitu yakin Allah akan menolongnya dimasa depan sementara berkah usia yang diberi Allah hari ini tidak digunakannya untuk berbuat. Padahal perbuatan masa lalu berhubungan dengan masa kini dan perbuatan masa kini menentukan masa depan. Tanpa berbuat tidak ada hope.  Karenanya Rasul mengingatkan “Manfaatkan lima perkara sebelum lima perkara : [1] Waktu mudamu sebelum datang waktu tuamu, [2] Waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, [3] Masa kayamu sebelum datang masa kefakiranmu, [4] Masa luangmu sebelum datang masa sibukmu, [5] Hidupmu sebelum datang kematianmu.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, dikatakan oleh Adz Dzahabiy dalam At Talkhish berdasarkan syarat Bukhari-Muslim. Hadits shahih). Kita tidak bisa memastikan apa yang terjadi dimasa depan kecuali kematian. So berbuatlah sekarang dan berharaplah.... 

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...