Sunday, April 27, 2014

Parodi...

Pemilu tahun 2009 tentu berbeda dengan Pemilu 2014.Perbedaan itu sangat mencolok setidaknya sindrom italia tidak terlalu nampak lagi. Di Italia, pemain utama dalam sederet film porno, La Cicciolina, ikut dalam pemilihan umum pada pertengahan 1987. Ia dipilih; ia duduk di Parlemen mewakili ”Partai Cinta”. Pada 1992, ia terjun lagi, ketika di Italia pengangguran mencapai 11% dan inflasi 6%. Di Indonesia ada Angel Lelga ,dia bukan bintang blue film. Dia hanya bintang film horor yang berbumbu menampakan dada dan paha. Partai islam yang tidak begitu pede dengan islamnya bisa  laku dijual, mengundang Angel lelga sebagai caleg. Panggung musik dangdut digelar dan wanita cantik meliuk liukan bokongnya yang seksi dan orang ramai histeris dengan syahwatnya. Setelah itu orang diingatkan untuk datang ke bilik suara dan memilih partai. Artis cantik dan tenar gagal terpilih. Tak laku lagi dijual kecuali melayani pebisnis dalam paket penerbangan jet pribadi. Dulu diabad 20 , rakyat merupakan sebutan bagi sebuah kekuatan yang dahsyat (bahkan suci) karena dialah tenaga dasar perjuangan pembebasan, kini berganti jadi sehimpun angka dalam jajak pendapat. Tak ada sebuah agenda yang menggerakkan para pemilih agar aktif terlibat untuk sebuah republik yang lebih baik. Tujuan yang sejak Aristoteles disebut ”kebaikan bersama” tampaknya sudah hilang, atau dianggap sia-sia, atau kuno. Saya bingung namun para politisi memang mampu membuat orang banyak bingung dan berharap ada yang gratis setelah Pemilu. Padahal harapan hampa, selalu.

Tiap orang sudah muak dengan wajah para politisi itu. Golkar pecah menjadi Garindra, Hanura, Nasdem, yang masing masing dipimpin yang tadinya semua adalah elite Partai Golkar. Masing-masing menjanjikan banyak hal, tapi tak ada yang terjadi. November 2007, di Universitas Pennsylvania sebuah panel diskusi diselenggarakan dengan judul, Democracy and Disappointment, dan Alain Badiou dan Simon Critchley berbicara. Rasa kecewa bertemu dengan jemu ketika orang tahu bahwa ketidakadilan masih menginjak-injak sementara tak tampak lagi harapan akan terjadinya perubahan yang radikal. Biang ketidak adilan itu adalah Kapitalisme yang melekatkan liberalisme kedalam demokrasi sehingga menjadi demokrasi liberal. Demokrasi menjadi pasar terbuka untuk siapa saja bisa tampil menjadi pemenang asalkan mampu menjual dirinya. Barang dijual tak mungkin telanjang atau transfarance sehingga orang banyak bisa meliat. Pasar punya cara indah menempatkan barang di etalage. Selalu ada bandrol dan kemasan indah. Orang melihat kemasan dan kemudaian merogoh sakunya setelah melihat bandrol. Slavoj Zizek mengingatkan bahwa Marx menyamakan kekuasaan modal dengan vampir; kini salah satu persamaannya yang mencolok adalah bahwa ”vampir selalu bangkit lagi setelah ditikam sampai mati”. Betapa tidak ? bila demokrasi mengutamakan yang mayoritas berkuasa namun kenyataanya yang berkuasa adalah pemodal yang jumlah sangat minoritas. Adilkah ini?

Ada yang memutuskan untuk keluar dari medan pergulatan, dan memilih sikap seperti para nabi yang aktif bersuara tapi menjauhi istana, memperingatkan bahaya keserakahan bagi ”kebaikan bersama”. Ada pula yang jadi semacam rahib: setengah mengasingkan diri dan menolak menjunjung ”akal instrumental” yang selama ini dipakai untuk memanipulasikan orang lain dan dunia. Tapi tak jelas, apa yang berubah karena itu. Mereka yang lebih marah dan lebih ganas akan meledak­kan bom, menebar takut dan maut, seperti Al Qaidah. Tapi kini kita tahu, Al-Qaidah tak menghasilkan se­suatu yang lebih hebat ketimbang banyaknya kematian. Sang Iblis yang dimusuhinya tak musnah. Jaringan teror itu tak sebanding dengan Partai Komunis internasional yang juga gagal—meskipun dulu lengkap punya sebuah organisasi untuk memobilisasi massa, merebut kekuasaan, dan membangun sebuah negeri, bukan hanya menambah jumlah musuh yang mati.  Maka ada yang berkesimpulan, terhadap ketidakadilan yang bertahan itu, kita mengubah politik jadi parodi terhadap politik itu sendiri. Parade bintang sinetron itu, apalagi bintang porno, adalah contoh parodi yang tak disengaja: partai-partai berpura-pura menjalankan ”politik”, tapi sebenarnya mereka sedang menjalankan sebuah bisnis  dengan partai sebagai komoditas dan caleg sebagai penari latar. Yang dijual sebenarnya adalah ilusi namun mendatangkan yield tak terbilang. Tak ubahnya dengan business ponzi. Mereka paham bagaimana mengemas kata kata menjadi magic word. Mereka paham bagaimana membariskan calegnya dihadapan pembeli. Mereka paham berteriak dipanggung dan tersenyum indah di televisi. Semua packaging.

Politik sebagai Parodi. Layaknya sebuah sinetron, Capres dan Caleg berbicara lewat media massa tentang  hidup dan mati sebagai sesuatu yang gampang dan sedap dipandang, acap kali menyentuh hati, tapi selamanya bisa dipecahkan dan segera dilewatkan. Sinetron tak ingin membuat kita seperti Pangeran Siddharta yang tertegun melihat bahwa dunia ternyata sebuah sengsara yang layak direnungkan terus-menerus. Sinetron adalah sebuah statemen bahwa serius itu tak bagus. Ketika politik jadi versi lain dari sinetron, ia menjangkau orang ramai—tapi bukan karena sesuatu imbauan yang menggugah secara universal. Kalaupun ia berseru mengutuk ketidakadilan, itu pun hanya berlangsung untuk satu episode. Sejarah manusia yang dulu terdiri atas kemarahan dan pembebasan diganti dengan sesuatu yang jinak. Kini cerita manusia tetap masih gaduh, tapi itu kegaduhan suara merdu, tangis dan  ketawa galak yang palsu, dan bentrokan yang akan selesai ketika sutradara atas titah produser ( pemilik modal),  berseru, ”Cut!”. 

No comments:

Magic Word

  Waktu saya pergi merantau. Setiap bulan pasti surat ibu saya datang. Walau saya tidak kuliah. Pekerjaan tidak tetap. Tetapi tidak pernah i...