Sunday, April 20, 2014

Mencintai...

Tersebutlah dalam sebuah cerita. Seorang pria desa jatuh cinta kepada Ratu. Ratu dikenal dengan kencantikannya yang luar biasa dan belum punya suami .Semua pria lajang di kerajaan tentu menginginkan Ratu menjadi istrinya. Suatu waktu dengan keberaniannya, seorang pemuda sampai datang menghadap sang Ratu. Hasrat dan cinta disampaikan kepada Ratu. Dengan tersenyum sang ratu berkata bahwa bagaimana dia bisa yakin pria itu benar benar tulus mencintainya? Ujilah ,kata pria itu.Demi cintanya dia bersedia melewati apapun. Sang Ratu berjanji akan menguji pria itu dan meminta pria itu berlalu dari hadapannya. Suatu waktu, pria itu kedatangan seorang wanita yang berwajah kotor dengan pakaian kumal. Wanita itu memberikan secarik kertas yang merupakan surat dari sang Ratu. “Kalau benar anda mencintai saya maka sudilah kiranya anda menikahi wanita pembawa surat ini”. Setelah  membaca pesan itu,dengan serta merta pria itu meminta wanita itu pergi dari hadapannya. Menurutnya sang Ratu sedang menguji cintanya. Cintanya tidak akan berubah kepada Ratu, apalagi wanita yang ditawarkan sebagai istri adalah wanita berwajah kotor dan kumal. Ternyata wanita yang datang itu adalah sang ratu sendiri yang sedang menyamar menjadi wanita gembel. Setelah mengetahui bahwa yang datang itu adalah Ratu, pria itu terkejut dan malu. Sang Ratu berkata bahwa pria itu tidak pernah mencintainya,kecuali mencintai dirinya sendiri.

Dikisahkan bahwa Allah berjanji akan datang menemui Musa bersama para pengikutnya.  Dengan suka cita ,Nabi Musa menyampaikan berita ini kepada pengikutnya.  Merekapun mempersiapkan kedatangan Allah itu dengan sebaik baiknya. Pesta dengan makanan melimpah disediakan. Semua menanti harap cemas akan kedatangan Allah.  Jam demi jam berlalu namun Allah tidak juga datang. Yang datang justru pengelana tua yang miskin. Pengelana itu memohon diberi maka karena ia lapar. Namun dengan tegas Nabi Musa dan pengikutnya meminta agar pengelana tua itu menanti sampai Allah datang. Pesta dan makan ini tersedia hanya untuk Allah. Semua boleh makan setelah Allah makan. Pengelana tua itu berlalu begitu saja karena tidak bisa menanti terlalu lama. Setelah batas waktu terlewati dan Tuhan tidak juga datang, akhirnya mulailah pengikut Nabi Musa gundah. Mereka mulai meragukan kebenaran berita bahwa Allah akan datang dihadapan mereka. Nabi Musa sangat malu dihadapan pengikutnya. Allah pun berkata bahwa Dia selalu menepati janjinya. Bahwa pengelana tua yang miskin itu adalah Allah. Allah selalu ada bersama mereka yang  miskin dan lapar. Siapapun yang merindukan untuk bertemu dengan wajah Allah maka cintailah kaum miskin. Rasul menasehati keluarganya "Wahai ‘Aisyah, janganlah engkau menolak orang miskin walau dengan sebelah kurma. Wahai ‘Aisyah, cintailah orang miskin dan dekatlah dengan mereka karena Allah akan dekat dengan-Mu pada hari kiamat. 

Ketika pria mencintaimu karena pertimbangan akan kecantikanmu maka sebetulnya dia tidak mencintai dirimu tapi dirinya sendiri. Begitupula bila wanita  mencintaimu  karena ganteng dan karirmu maka wanita itu tidak pernah mencintaimu tapi dia mencintai dirinya sendiri. Dalam kehidupan kebanyakan pernikahan terjadi karena pra kondisi yang ditetapkan kedua belah pihak betemu. Ganteng dan cantik bersua. Tapi kebanyakan setelah menikah keduanya bersiteru hanya karena masalah sepele dan kalaupun rumah tangga tetap utuh namun derita tak berujung. Mengapa ? karena itu tadi bahwa masing masing tidak pernah saling mencintai. Mereka hanya mencintai dirinya sendiri.  Anda tidak akan pernah bisa menemukan kebahagiaan hakiki dengan orang yang tidak pernah mencintaimu, yakinlah. Kemuliaan pasanganmu bukan karena dia pintar, ganteng atau cantik, kaya tapi karena ia tidak melihat itu semua untuk mencintaimu.Dia hanya melihat kamu adalah kamu dan dia merasa nyaman kamu ada untuk dia. Susah senang akan menjadi sesuatu yang membahagiakan tanpa beban. Untuk mencintai tanpa syarat maka itu harus dasarnya hanya karena ibadah kepada Allah. Bertemu karena Allah dan melewatinya karena Allah dan berakahir karena Allah. Dalam keadaan seperti itu maka hari hari memang begitu indah, tentu banyak hal yang positip bisa dihasilkan.

Begitupula ketika kita menyembah Allah , karena kita berharap limpahan rezeki, kemudahan hidup, pahala agar masuk sorga dan terhindar dari neraka. Namun ketika Allah meminta kita menjadi wakilnya menebarkan kebaikan dan menegakan keadilan bagi kaum fakir miskin, yatim piatu kitapun berdalih. Sebetulnya kita tidak sedang mencintai siapapun. Kita lebih mencintai diri kita sendiri. Allah kita tempatkan  hanya sebagai provider untuk memuaskan nafsu kita. Sampai kapanpun kita tidak akan pernah bahagia karena Allah tidak akan pernah mencintai kita karena kita lebih mencintai diri kita sendiri. Belajarlah untuk mencintai, dengan diawali biasakanlah berbagi. Atau setidaknya mulailah setiap hari mendoakan kebaikan bagi saudara muslim kita , baik yang dekat maupun yang jauh. Mulailah biasakan mendoakan kebaikan bagi siapa saja. When you pray for anyone you tend to modify your personal attitude toward him. Dengan itu hati kita melembut dan Allah akan kita dekati bukan lagi karena berbagai kondisi dan harapan tapi memang kerinduan akan cinta yang tak terungkapkan dan tak terdefinisikan.

No comments:

Wahyu dan Zaman

  Wahyu yang selama ini dikenal dan dipahami oleh umat Islam berbeda dengan fakta dan klaim sejarah. Karena wahyu yang absolute hanya saat w...