Saturday, February 11, 2012

Memaklumi...

Cuaca winter diluar mendekati nol derajat. Sangat dingin. Tapi tidak didalam ruangan dimana saya dan bersama team saya sedang berkumpul. Suasana terasa panas ketika dia berbicara begitu kerasnya. Berbagai kata yang tak pantas terucapkan Dia berkali kali menyalahkan situasi dan juga saya. Kesimpulannya dia tidak lagi mempercayai situasi dan saya sebagai ketua team. Saya hanya diam sambil menatapnya. Pada situasi ini yang harus saya lakukan adalah mendengar semua keluhannya dan mencoba untuk mengerti sikapnya. Ya, pada situasi ini, saya hanya bisa mendengar karena hanya itu yang bisa saya lakukan. Setidaknya dia butuh orang lain untuk mendengarnya dengan segala tekanan akibat kegelisahannya, ketakutan, kekawatirannya terhadap masa depan. Saya tak ingin berdebat atau membela diri saya. Bagaimanapun dia adalah anggota team saya dan juga sahabat saya.Kami telah melewati waktu kebersamaan cukup lama. Setelah panjang lebar dia berbicara dengan segala emosi bercampur baur , akhirnya dia terdiam. Saya tahu dia lelah dengan sikapnya itu.

Keesokan harinya dia datang menemui saya untuk minta maaf atas sikapnya yang kemarin. Saya hanya tersenyum dan mengatakan kepada dia bahwa apa yang dia katakan tidak ada yang salah. Saya bersyukur karena dia bisa bersikap seperti itu dihadapan saya dan hingga saya mengerti untuk memahami agar saya bijak terhadap situasi. Dia bingung akan reaksi saya. Padahal dia tahu betul kata katanya kemarin sangat menyakitkan. Apalagi ada beberapa anggota team saya sempat memerah wajah.  Dan berusaha menenangkannya bahwa dia tidak pantas bicara sekasar itu kepada saya. Namun saya justru membiarkan dan membenarkan dia berkata apa saja. Mengapa ? Dia dalam keadaan frustrasi oleh situasi tidak seperti apa yang dia mau. Bila kemarahannya saya lawan dengan kemarahan pula maka tak ada solusi kecuali kehancuran persahabatan.

Kadang bila kenyataan tidak bersua dengan harapan maka timbul rasa sesal dan kekecewaan, dan mulai menyalahkan situasi dan kondisi. Ketahuilah bahwa ketika seseorang itu sedang frustrasi karena didorong oleh rasa takut, rasa kawatir , rasa kecewa dan segala rasa , maka dia telah kehilangan kesejatiannya. Dia tidak lagi mengendalkan dirinya. Setiap manusia apalagi pria, harus mampu meredam segala emosi melalui pengendalian diri. Suka tidak suka, tidak ada orang yang tahu akan masa depan. Tidak ada orang yang ingin kegagalan. Tidak ada orang yang ingin kekecewaan. Tidak ada. Tapi kehidupan ini tidak seperti apa yang kita ingin. Kita terjebak oleh ruang dan waktu, yang memaksa kita untuk terus belajar memahami situasi hari kini dengan bijak.

Dia adalah sahabat saya. Sebagai sahabat,  saya bertanggung jawab untuk mengembalikan sahabat saya kepada dirinya sendiri setelah dia terjebak oleh emosi rendahnya. Saya teringat bagaimana dialogh Allah dengan Rasul bila umat yang diserunya marah. Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam (Surah Qaaf: 39). Janganlah kamu bersedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Surah Yunus: 65). Dan Kami sungguh-sungguh mengetahui, bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan. (Surat al-Hijr: 97). ..Sesungguhnya kamu hanyalah seorang pemberi peringatan dan Allah Pemelihara segala sesuatu.(Surah Hud:12).

Sebagaimana Rasul yang juga kekasih Allah, tak bisa lari dari  ruang dan waktu yang kadang terjebak oleh rasa kawatir, kecewa, namun Allah telah mengingatkan dengan bahasa yang indah agar bersabar karena Rasul hanyalah pelaksana bukan penentu, sang penentu tetaplah Allah, so tidak perlu kita kawatir dan kecewa dengan kemarahan orang lain karena ini bukanlah antara kita dengan orang lain tapi antara kita dengan Allah untuk menguji kesabaran diatas niat baik karena Allah. Karena sikap saya, teman saya kembali kepada saya. Dia merangkul saya dan tetap berada disamping saya untuk bersama sama menapak masa depan. Apapun hasilnya kami akan ikhlas dan tak akan terpisahkan karena situasi dan kondisi apapun…

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...