Sunday, January 01, 2012

Sesal

Ketika di Bandara HKIA saya bertemu teman lama. Kebetulan ketika itu kami juga  bertemu dengan salah satu teman yang bekerja di Lambaga Keuangan International. Walau tujuan kami berbeda beda namun karena sama naik CX , gate kami bersebelahan. Kami yang businessman  dan satu lagi teman yang berkarir di lembaga keuangan kelas dunia. Dua dunia yang berbeda. Namun kami tetaplah sahabat. Dalam pertemuan ini kami bicara banyak hal. Yang menarik apa yang dikatakan oleh teman saya yang juga pengusaha seperti saya. Dia punya business tersebar di banyak negara namun penampilannya tetap sederhana.  Saya juga tahu bahwa dia banyak memberikan bantuan untuk program kemanusiaan. Tentu dia membantu dengan caranya yang jauh dari ceremonial ala orang berduit kebanyakan.  Apa katanya tentang dirinya ? 
***
Orang melihat kita dari sisi yang subjective. Demikian yang dapat saya pahami dalam kehidupan ini. Demikian katanya mengawali. Saya belajar dari kenyataan bahwa saya memenuhi syarat secara subjective sebagai orang  yang  gagal. Sebagai business man saya tidak punya mobil mewah lengkap dengan supir pribadi. Saya tidak punya keanggotaan club mewah. Saya bukan penggemar golf yang menjadi standard businessman kelas menengah. Saya tidak suka makan direstoran mewah karena merasa tidak bisa kenyang kecuali  direstoran murah meriah. Saya tidak peduli dengan pakaian bermerek seperti kebanyakan businessman. Jadi kalau ada pra syarat qualifikasi kredibilitas dari penampilan, maka saya termasuk businessman yang gagal. Bertahun tahun saya menjalani hidup sebagai businessman karena memang tidak ada pilihan. Karena bekerja sebagai orang kantoran tidak berbakat. Bekerja sebagai professional tidak punya akreditas.

Singkatnya hanya dunia business yang cocok bagi saya yang tidak butuh qualifikasi yang rumit asalkan ada nyali alias keberanian. Jadi ketika saya memasuki dunia business, saya tidak melihat itu sebagai profesi atau apalah. Saya hanya menjalani sebisa saya dalam kondisi tidak punya pilihan lain kecuali harus melangkah dalam dunia yang memang tidak pernah saya rencanakan dengan baik. Mengapa ? bagaimana saya harus berencana ? modal tidak ada. Pendidikan tidak cukup. Kepintaran meloby koneksi tidak ada.  Menjilat aparat agar diberi fasilitas sebagaimana banyak business lainnya ,juga tidak ada Mau mencoba suatu usaha, tidak tahu apanya yang harus dicoba.  Lantas dari mana saya memulai dan apa yang harus saya perbuat untuk menjadi business man ? Bingungkan ? oh jangan bingung. Sebagaimana saya katakan bahwa ini jalan yang tidak direncanakan dan memang harus dilawati tanpa pilihan. Maka yang terjadi , terjadilah.

Bertahun tahun dunia business saya geluti. Dari usia muda sampai kini menjelang setengah abad. Orang lain melihat saya adalah pribadi yang akrab dengan kegagalan. Itu penilaian mereka dari luar. Apalagi ketika banyak orang sudah lebih dulu sukses dengan segala rencananya dalam business dan melihat keadaan saya masih serba kekurangan dan kadang terjerat dengan masalah financial akibat kegagalan.  Itu mungkin  ada benarnya. Namun yang pasti benar adalah saya orang yang akrab berbuat. Tapi ketahuilah bahwa saya sendiri tidak pernah merasa gagal. Bagi saya , semua yang terjadi dalam hidup ini tak lain adalah proses belajar. Mungkin saya merasa beruntung karena tak henti mendapatkan kesempatan untuk terus belajar dan belajar. Apakah ada guru terbaik diplanet bumi ini dibandingkan kegagalan ? Saya rasa tidak. Hanya orang bebal yang tidak bisa belajar dari kegagalannya. Begitu keyakinan saya untuk berdamai dengan realita yang kadang menyesakan dada.

Apakah saya menyesal dengan kehidupan ini ? oh tidak. Karena yang paling saya akui dalam hidup ini adalah saya tidak pernah bisa menyesali sesuatu yang harus saya sesali. Seperti mengapa saya tidak jadi seorang insinyur atau ahli fisika nuklir sebagaimana mimpi saya ketika remaja dulu ? atau mengapa saya tidak jadi pejabat hebat yang memerintah orang banyak. Atau mengapa tidak menjadi seorang direktur BUMN  dengan standard kemewahan berkelas. Singkatnya tidak ada dalam kamus hidup saya tentang sesal. Mengapa ? sebagaimana saya katakan orang yang menyesal karena dia hidup dalam banyak pilihan dan ketika dia memilih bisa saja benar , bisa saja salah. Bila salah , dia akan menyesal. Namun tidak bagi saya. Saya hidup tidak untuk memilih karena memang tidak punya pilihan. Kalau dihadapan saya ada tanah, saya akan bertani. Kalau dihadapan saya ada sungai., saya akan buat kapal. Kalau dihadapan saya ada pasar, saya akan berdagang. Begitu saja.

Ini tahun baru setelah tahun kemarin terlewati. Ketika orang banyak bersuka cita dengan pergantian tahun karena hope untuk lebih baik ditahun mendatang maka saya hanya melewati pergantian tahun itu dengan hambar saja. Ketika  orang berduit berdatangan ke Hong Kong untuk menikmati persta kembang api paling spektakuler didunia justru saya memilih keluar dari Hong Kong untuk pulang kerumah tepat dimalam tahun baru.  Tahun berganti tahun, saya tetap dibumi Allah tanpa pernah berubah karena situasi apapun. Saya tetaplah saya sebagai hamba Allah yang lemah dan tak berdaya kecuali harus terus melangkah dalam kerendahan hati, tanpa symbol kesuksesan yang dimaknai orang banyak , sampai kelak pada titik pemberhentian dan selesai.

Apa yang diceritakan teman akan sikap hidupnya tak lain budaya  yang meniru air. Air mengalir ketempat yang rendah, Semakin rendah semakin kencang air mengalir dan selalu. Sekuat apapun bendungan menahan air hanya masalah waktu bendungan itu akan jebol. Air terlalu kuat untuk ditahan atau dihentikan dan keberadaan air tak lain sebagai sumber kehidupan bagi makluk diplanet bumi ini, begitupula kehidupan sebagai businessman sejati yang memang tak ada waktu untuk aktualisasi diri kecuali bagaimana setiap langkahnya memberikan manfaat bagi negara, pegawai , rekanan dan lingkungannya. Ya hidup dibaktikan untuk suatu manfaat bagi orang banyak,bukan dirinya sendiri.  Tak peduli karena itu harus berkorban dalam banyak kegagalan...
***
“Aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan. Dan tidak ada taufik bagiku melainkan dengan (pertolongan) Allah. Hanya kepada Allah aku bertawakkal dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” (Qs. Hud: 88)

No comments:

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...