Wednesday, September 14, 2011

Peduli

Sampai di stasiun Luohu ( Shenzhen) jam sudah menunjukan pukul 10 malam. Perut mulai terasa perih untuk mita diisi. Saya melangkah keluar stasiun dan kemudian menyeberang jalan kearah Shangrila Hotel. Terus menyusuri jalan. Disisi trotoar jalan nampak berjejer restoran cepat saji. Saya memilih KFC yang mudah dan cepat untuk segera menuju hotel. Walau sudah mendekati tengah malam namun antrian didepan kasir masih cukup panjang. Dengan sabar saya ikut antrian sambil menerima telp dari teman. Ketika itu dibelakang saya nampak seorang pria dengan pakaian kumal. Aromanya cukup menusuk hidup. Namun saya tetap menahan tanpa mendekap hidung saya. Pria itu tersenyum kearah saya. Saya mengangguk dengan ramah. Di belakang pria itu sudah ada pula antrian tiga orang. Namun sekonyong konyong nampak menejer restoran itu mendekati pria itu. Dengan ramah manager itu menuntun pria itu mendekati kasir. Dengan ramah pula manager itu memohon pengertian para pelanggan agar mengutamakan pria itu. Semua mengangguk.

Saya lihat pria dengan pakaian kumal itu berusaha mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong kecil yang kumuh. Ternyata itu uang receh. Pria itu menghitung dengan lambat setiap sen uang dan diletakan diatas meja kasir. Proses itu berlangsung cukup lama. Mungkin ada lebih 5 menit. Tak ada satupun pelanggan yang menggerutu. Tetap sabar menanti dan memperhatikan. Begitupula sang kasir tetap tersenyum memperhatikan pria itu menghitung uang sen demi sen. Akhirnya pria itu terdiam ketika tak ada lagi sen uang yang bisa dia keluarkan dari dalam kantong. Uagnya tidak cukup! Pria itu menoleh kebelakang dan melirik kekiri kekanan. Nampak seperti orang bingung. Sang manager memperhatikan dengan seksama. Dengan lembut dia membujuk pria itu untuk keluar dari antrian. Namun dengan seketika salah satu pelanggan yang ada dibelakang antrian bersegera mengatakan bahwa dia akan mencukupi uang pria itu. Kemudian serta merta yang lain para pelanggan membuka dompetnya untuk memberi pria itu uang. Semua berlangsung dengan cepat dan spontan.

Saya terkejut melihat situasi itu. Bagaimana masyarakat China yang bergulat dengan kehidupan keras dan berkompetisi dalam segala hal namun dapat spontan berbuat untuk cinta kasih. Ketika hal ini saya ceritakan sama teman keesokan harinya, Teman saya tertawa sambil menjelaskan bahwa di china orang mudah sekali berempati kepada seseorang yang punya keberanian berbuat. Pria kumal itu , dia miskin. Namun dia punya hasrat, dia tak malu untuk melangkah pasti kedalam restoran yang diperuntukan bagi orang berduit. Dia tidak takut akan resiko diusir karena tidak qualified sebagai konsumen. Bagi dia , masuk dalam restoran itu saja sudah berkah tersendiri. Bila apresiasi pelanggan lain begitu tinggi , itupun tak lain bagian dari budaya kami yang sangat menghargai kemauan orang lain sekecil apapun. Kami suka menjadi bagian dari effort orang lain , apalagi terkesan impossible. Jadi kalau para pelanggan lain spontan membantu , itu tidak aneh. Demikian penjelasan teman saya. Saya sempat tertegun.

Lanjut teman saya itu lagi, yang sangat dibenci oleh orang China adalah orang yang suka mengemis dan terlalu banyak rencana namun miskin berbuat. Orang china tidak peduli soal resiko. Bagi mereka berbuat jauh lebih baik walau sebesar apapun resiko daripada tidak berbuat sama sekali. Karena bila telat atau tidak berbuat sama sekali itu sama saja menerima resiko pasti, yaitu kehilangan waktu. Bukankah waktu begitu berharga dan merupkan berkah Tuhan tak ternilai bagi kita. Ia lebih dari apapun didunia ini. Jadi orang yang suka menunda berbuat dan kadang lebih terkesan menunggu orang lain membantu untuk baru berbuat , tak lain memenggal umurnya tanpa nilai apapun. Itu orang bodoh dan hidup sangat menyedihkan tanpa harus dikasihani. Demikian simpul teman saya.

Memang suksesnya China dalam bidang pembangunan ekonomi lebih karena disebabkan oleh semangat kerja keras dan tidak takut mengambil resiko berdasarkan setiap keyakinan meraih peluang. Mereka juga tak segan untuk merubah dirinya atau hijrah dalam segala hal hanya sekedar keyakinan untuk berbuat lebih baik. Namun dari itu semua , mereka tidak menyukai kekerasan.. Mereka cinta kedamaian. Mungkin itu sebabnya sebagian besar rakyat China tidak peduli dengan politik dan kekuasaan. Bagi mereka selagi pemerintah memberikan kesempatan mereka untuk berkembang maka itu lebih dari cukup. Siapapun memerintah , mereka akan patuh. Itulah yang dijadikan dasar oleh elite politik china untuk menggerakan potensi populasi dan budaya sebagai modal membangun china menjadi kekuatan ekonomi dunia.

Seharusnya pemerintah menyadari bahwa membangun negeri ini melihat dan mengenal betul karakter bangsa dan kemudian menjadikan karakter bangsa itu sebagai kekuatan untuk membangun peradaban. Populasi ndonesia yang mayoritas Islam dengan budaya gotong royong adalah kekuatan yang lebih dahsyat dibandingkan bangsa manapun. Tapi apa hendak dikata budaya kita terkikis oleh budaya luar, para elite politik membangun melihat dengan standard etika moral dari luar yang belum tentu bisa diterapkan di Indonesia. Maka jadilah berbagai aturan dan hukum tidak impelementative bagi tujuan membangun peradaban ala indonesia.

No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...