Saturday, September 17, 2011

Cinta dan hakikat

Jam 4 sore usai bersibuk diri dengan urusan yang melelahkan. Badan terasa lemah. Teman saya mengatakan bahwa tubuh saya tidak punya masalah hanya mungkin otak saya overload. Makanya tubuh bereaksi untuk minta istirahat.Ini proses recovery, katanya. Ya dia minta saya untuk refresh system tubuh saya. Caranya ya istirahat sebelum memulai aktifitas kembali. Saya butuh istirahat, tidur barang sejenak. Tapi tidak mungkin karena setelah sholat ashar saya juga harus sholat Maghrib. Kalau tidur setelah ashar,bisa bablas sholat maghrib. Saya memilih untuk sauna yang memang disediakan fasilitanya oleh pengelola apartement. Ketika usai sauna saya bersantai diruang istirahat sambil nonton TV yang menayangkan Discovery Channel.

ketika itu parhatian saya teralihkan kepada sepasang suami istri lanjut usia. Mereka sambil duduk bersebelahan dikorsi santai nonton TV dan tangan mereka tetap saling menggenggam. Kadang kadang nampak sang suami melirik istrinya dengan wajah tersenyum. Begitupula sang istri. Tak berapa lama nampak pula sang suami pergi kemeja mengambil minuman. Saya perhatikan, suami itu membawa dua cangkir teh. Satu cangkir untuk istrinya dan satunya untuk dia. Mungkin karena saya perhatikan , kedua pasangan itu tersenyum ramah kepada saya. Mereka menanyakan kwarganegaraan saya dengan ramah maka akhirnya dialogh terjadi. Dalam dialogh itu saya sempat bertanya bagaimana dalam usia lanjut mereka masih nampak mesra. Dengan tanggap sang suami menjawab bahwa awalnya ketika mengenal istrinya lebih didorong karena kecantikan phisik dan performance lainnya tapi berlalunya waktu , yang tersisa hanya rasa persahabatan. Ternyata nilai persahabatan itulah yang membuat mereka tak terpisahkan.

Ketika muda, istri yang cantik, kulit yang kencang, langkah yang anggun. Sang pria juga nampak ganteng, perkasa, langkah yang tegap. Wanita mengutamakan performance pria dan begitupula sang pria. Lewat itulah cinta bertaut dan selanjutnya proses hubungan terjadi secara systematis hingga bermetamorfosa menjadi hubungan persahabatan. Yang ganteng, yang cantik,yang kaya, yang segalanya yang dulu dibanggakan ,setelah umur bertambah, rambut mulai memutih, langkah semakin loyo, wajah semakin berkerut, maka yang tersisa tinggalah nilai persahabatan. Maha Besar Allah. Menciptakan eksistensi manusia yang begitu sempurna. Pada intinya performance tetaplah performance yang dapat lekang oleh waktu tapi hakikatnya tak berubah yaitu cinta kasih.

Mungkin sebagian orang mempertanyakan apa perbedaan antara keluarga dan teman. Yang bisa saya katakan adalah bahwa kita tidak pernah punya teman sejati tanpa mempertimbangkan dirinya sebagai bagian nyata dari hidup kita. Mereka hadir didalam hati kita sebagai sebuah rumah yang menjadi tempat untuk pulang, tempat yang hangat di mana cinta bersemayam. Didalam ruang hati itulah kekurangan menjadi cukup, kesempitan menjadi lapang, kepanasan menjadi sejuk, kekeringan menjadi tempat subur. Mereka akan selalu tahu bagaimana cara untuk menemukan jalan dan menempkkan diri disetiap pojok ruang hati kita. Karena didalam hati itu semua nampak terang benderang dengan cahaya ilahi untuk lahirnya kebahagiaan bagi semua.

Ada cerita dan bisa dijadikan analogi bijak. Seorang bijak kedatangan tamu. Para tamu meminta nasehat bagaimana hidup bisa dekat dengan hakikat hingga tidak tertipu dengan penampilan. Orang bijak itu menghidangkan teh hangat dengan teko dan beberapa cangkir yang beraneka ragam. Ada cangkir cantik terbuat dari keramik, Kristal yang indah, stainless yang berkilau dan adapula cangkir yang buruk. Ketika teh dihidangkan semua tamu memilih cangkir yang indah dan cantik. Sementara cangkir yang buruk tak ada satupun yang menyentuhnya. Setelah masing masing telah menuangkan teh dalam cangkirnya, sang bijak berkata bahwa lihatlah ada beraneka ragam cangkir tapi yang terpilih hanyalah cangkir yang indah dan cantik. Tak ada satupun yang memilih cangkir buruk. Padahal cankir buruk atau indah , isinya tetap sama yaitu teh. Hakikatnya adalah teh bukan cangkir. Tapi kita lebih memilih cangkir dan mengabaikan teh sebagai hakikat.

Begitupula dalam kehidupan ini. Begitu banyak kita terjebak dengan apa yang kita inginkan. Sebetulnya itu hanyalah permainan nafsu agar kita melupakan hakikat. Orang kaya , wanita cantik, pria gagah , berkuasa, hanyalah fotomorgana yang dapat lekang karena waktu dan situasi. Tapi hakikat manusia tetaplah manusia yang diminta Allah untuk menghidupkan cinta dihatinya. Siapapun kita, apapun profesinya, apapun kehebatannya, apapun penderitaanya, hakikatnya semua sama yaitu mencari keridhoaan Allah. Cara menjalaninya juga sangat sederhana, kendalikan nafsu untuk menjadi terbatas dan lapangkan hati menjadi tak terbatas. Dengan cara itu, perjalanan waktu akan membuat orang terdekat kita maupun lainnya akan merasa tentram untuk saling membahagiakan.

No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...