Wednesday, September 01, 2010

Waktu Sholat

Bukankah sholat dilakukan pada dua bagian siang dan disebagian dari malam sebanyak lima waktu. Artinya sholat itu berhubungan dengan cahaya matahari. Lantas bagaimana dengan daerah lain yang pergantian siang dan malam itu jauh sekali. Di St Peterburgs, pada tanggal tertentu dibulan juni , pada malam hari matahari masih nampak. Di Finlandia, malam hanya satu jam. ” Demikian kata teman saya ketika kami berdiskusi soal agama.” Kalau memang Islam itu untuk seluruh umat manusia , saya rasa ibadah sholat dan Puasa benar benar kacau bagi masyarakat diluar wilayah tropis yang jauh dari lahirnya agama islam. Dan kalau kita berpatokan dengan waktu sholat yang ada sekarang , bukankah jam baru ditemukan ketika era Khalifah Harun Al-Rasyid. Sebelumnya tidak ada. ” katanya kemudian. Saya dan mungkin sebagian orang Indonesia yang selama in diajarkan tentang pergantian siang dan malam sebagai hakikat waktu sholat dan puasa. Memang bisa bingung juga..

Apa yang diungkapkan teman itu berangkat dari persepsi dan fiqih yang terdapat dalam firman Allah ( Qs. Al Israa 17:78 ) Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh.. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). Dan ( QS. Huud 11:14) dirikanlah sholat itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat” Dari dua ayat ini, kita mengetahui kata kata tentang gelap malam yang berhubungan dengan eksistensi cahaya matahari. Kita diwilayah tropis dan siapapun yang berada diwilayah tropis seperti Arab dan Afrika, tentu tidak ada masalah untuk melaksanakan ritual sholat dan puasa sesuai dengan eksistensi cahaya matahari. Bahkan dari dulu kala kita menggunakan tongkat istiwa’ (istilah Jawa: bencet) di setiap (depan) masjid Arah bayangan tongkat yang diterpa matahari itulah yang dijadikan dasar menentukan waktu sholat.

Tapi bagaimana dengan daerah subtropis ? yang keberadaan cahaya sangat minim seperti ungkapan teman saya itu ? Ada dua hal menjawab tentang cahaya ini. Pertama , mungkin cahaya matahari bukan berarti pengertian cahaya seperti kita didaerah tropis, dimana matahari bersinar terang dan bila malam langit kelam. Bisa saja malam seperti kita di daerah tropis tidak sekelam seperti orang di daerah subtropis. Atau siang di daerah tropis tidak seperti siang didaerah subtropis. Perbedaan ini berhubungan dengan sunnatullah, factor abiotik yang tiap wilayah berbeda beda karena dipengaruhi oleh iklim dan lainnya. Tentu semua manusia mempunyai kemampuan untuk beradaftasi dan karena waktu pula yang mempengaruhi kualitas cahaya untuk manusia bekerja dan istirahat. Ini bagian ekosistem kita dibumi. Jadi tidak bisa menjustifikasi cahaya matahari seperti wilayah tropis adalah harus sama dengan wilayah subtropis, ya kan.

Kedua, sebagaimana firman Allah pada (QS. 17:12) “Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Rabbmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas”. Nah dari firman Allah semakin jelas bahwa istilah malam dan siang “sebagai sebuah tanda “ , agar kita ”mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan”. Ada arahan dari Allah untuk kita mengetahui ”perhitungan” , yang bisa kita gunakan pula untuk menentukan jadwal sholat. Seorang sahabat bertanya kepada Rasul ”Wahai Rasul, bagaimana dengan daerah yang satu harinya (sehari-semalam) sama dengan satu tahun, apakah cukup dengan sekali shalat saja". Rasul menjawab "tidak... tapi perkirakanlah sebagaimana kadarnya (pada hari-hari biasa)". Istilah perkirakan ini berhubungan dengan ” perhitungan” waktu. Dan kita semua tahu walau kini kita sudah menguasai matematika namun dalam konteks ruang dan waktu, itu tetap relative ( perkiraan).

Prinsip perhitungan waktu adalah berdasarkan “garis Bujur “ peta bumi ( Globe map), dimana wilayah Utara, Equator, Selatan memiliki waktu yang sama pada bujur yang sama. Juga disepakati bumi mengedari matahari secara teratur. Keliling bumi 360 derajat. Sehari 24 jam atau 1440 menit atau 86400 detik. Maka setiap derajat ( 86400/360 derajat ) sama dengan 4 menit. Nah dari sinilah koordinat wilayah menentukan jam waktu sholatnya. Tapi bukankah jam baru dikenal manusia ketika era Khalifah Harun AL Rasyid. Lantas bagaimana cara manusia berhitung soal waktu sebelum itu. ? Saya hanya mengingatkan bahwa jauh ribuan tahun lalu Allah telah memberikan muzizat kepada Nabi Idri AS. Bahwa beliau adalah manusia pertama yang mempunyai kemampuan berhitung,menulis dan menerangkan tata surya dan rasi. Inilah cikal bakal lahirnya peradaban modern seperti sekarang ini..

Agama Tauhid turun secara berevolusi sesuai dengan zamannya dan mencapai puncak kesempurnaannya ketika Era Nabi Muhammad (QS. Al Maidah (5) : 3 ) ”Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu menjadi agama bagimu.” Kesempurnaan itu terletak kepada ilmu pengetahuan untuk melaksanakan syariat dengan benar, untuk semakin beriman kepada Allah. Jadi , kita harus bijak untuk menyikapi fenomena modern dewasa ini , apalagi menjustifikasi firman Allah tidak universal. Islam adalah agama berlaku untuk semua dan dimana saja dibumi ini.

Nah kini sudah ada jadwal sholat yang ditentukan berdasarkan perhitungan matematika itu untuk seluruh wilayah dibumi. Dimanapun anda berada, anda tetap sholat sesuai waktu yang ditentukan dan dilakukan secara teratur lima kali sehari. Begitupula puasa sesuai jadwal ( rentang waktu ) yang sudah diperkirakan pula.

Wallahualam.

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...