Tuesday, May 04, 2010

Trustee

Suatu saat anda terkejut bila seseorang yang bukan “siapa siapa “ lantas menjadi “siapa” dan dibicarakan oleh orang ramai. Dia tampil di media massa , layaknya selebritis. Masuk dalam deretan orang terkaya. Dia kaya raya dengan berderet perusahaan yang terdaftar di bursa. Anda bisa saja bingung. Pemahaman tradisional bersusah susah dahulu, senang kemudian tak terdengar lagi. Mereka tampil dalam prinsip, bersenang senang dahulu dan , senang selamanya kemudian. Kalau orang berlayar harus berakit tapi dia tak butuh berlayar karena dia ada jet first class yang dapat melintasi samudera luas.

Siapakah mereka itu dan mengapa mereka tampil begitu cepat? Sebetulnya keberadaan mereka tak lebih karena sebuah fenomena management. Dulu sebelum IT system melilit dunia jadi satu, konglomerasi diperlukan untuk menjaring orang dan mengontrol orang secara phisik. Holding company diperlukan untuk membuat orang berbaris lurus kearah kiblat yang sama. Tapi sejak IT system dengan database online terhubung secara virtual maka konglomerasi menjadi cyber. Holding company hanyalah berupa paper company ( nama tanpa phisik ). Para pemodal yang disebut “ Private Investor/equity “ dapat terus mengembangkan usahanya berskala global tanpa diketahui keberadaannya. Jauh dari kejaran media massa , apalagi populeritas

Para private investor itu berlindung dibalik global financial system. Mereka memilik financial resource berskala raksasa dan tersembunyi di undisclosed account Financial Center. Mereka bergerak lincah menggunakan tangan tangan fund manager, lawyer, auditor,financial analysis untuk mengambil alih project , membangun project, menciptakan aliansi /sinergi /kolaborasi. Jaringan tebaran modal tidak lagi masuk kewilayah kertas saham atau obligasi tapi masuk ke jaringan kaum muda yang ambisius dan terdidik. Para kaum muda yang dijadikan target sebagai “trustee “ adalah mereka yang matang karena didikan kampus terbaik atau diperusahaan terbaik. Value kaum muda inilah yang diangkat untuk menjadi “Trustee” sebagai komandan digaris depan; berhadapan dengan karywan, public, mitra, pemerintah untuk memuaskan private investor.

Para trustee itu mendapatkan wewenang yang begitu besar untuk mengembangkan nilai uang dan para private investor menikmati pertumbuhan uangnnya tampa harus berlelah lelah memimpin rapat, menilai laporan keuangan dan sibuk loby sana loby sini. Kehidupan social mereka berbeda dengan trustee itu sendiri. Mereka hidup tak dikenal oleh orang banyak. Mereka tetap hidup sederhana dan bebas menikmati hubungan sosialnya dengan siapapun tanpa terkungkung protocol. Mereka jauh dari media massa. Mereka jauh dari rutinitas management yang menyesakan. Mereka memiliki dirinya sendiri dan tentu mampu mengontrol "sang trustee" lewat IT system yang terhubung dimanapun mereka berada.

Lantas bagaimana fenomena ini terus berkembang dan bahkan menjadi pilihan utama oleh para private equity untuk mengembangkan uangnnya. ? Apakah mereka tidak kawatir akan penyalah gunaan dana atas wewenang yang begitu besar kepada seseorang yang ditempatkan sebagai trustee itu ? Kekawatiran itu sangat kecil sekali. Karena alasan sederhana bahwa business adalah manusia itu sendiri. Mengelola business adalah mengelola manusia dengan menempatkan manusia pada nilai rasa hormat. Dengan prisip inilah potensi seseorang yang tadinya tenggelam menjadi muncul. Kekurangannya menjadi tidak relevan. Itulah yang membuat sesorang yang biasa biasa saja namun ketika ditunjuk sebagai trustee , dia menjadi berkilau.

Itu semua karena menempatkan hubungan yang harmonis antara professional dan pemodal. Sebuah hubungan rasa hormat. Inilah yang kadang terlupakan oleh pemikir kapitalis yang telah membuat konglomerasi hancur dan menjadi beban Negara dan public dengan hutang tak terbilang. Dan fenomena ini sebetulnya kembali kepada fitrah manusia untuk ikhlas berbagi dan saling menghormati…

Dosa kolektif.

  Kalaulah kerajaan di Nusantara ini tidak membuka pintu kepada Inggris, perancis, pertugal, belanda  untuk datang berniaga, mungkin tidak a...