Sunday, September 17, 2006

Menentukan sikap

Ketika berkumpul dengan teman teman ,berdiskusi soal “membela kaum lemah”. Diantaranya berkata bahwa tanpa uang ditangan dalam jumlah besar , mustahil kita bisa mengangkat kaum lemah dari ketidak adilan system. Banyak lagi retorika yang mengemuka dalam diskusi itu. Semua serba menyalahkan keadaan. Ada juga yang bicara bahwa setiap bulan dia menyisihkan penghasilannya untuk membantu fakir msikin. Ada juga yang bicara membantu sanak famili yang kekurangan. Semua memang punya kepedulian. Tapi “membela kaum lemah” bukan hanya soal memberi dan selesai. Tapi lebih daripada itu adalah bagaimana membangun kelembagaan yang bisa melindungi mereka yang lemah dari ketidakadilan dan sekaligus memperbaiki system yang mengakibatkan semakin banyaknya orang terzolimi. Itulah makna “membela “

Selama ini kita hanya mengenal orang yang lemah adalah orang yang tidak berharta dan tidak memiliki akses social. Sebetulnya mereka yang lemah bukan hanya itu. Ada sekelompok lain yang justru lebih lemah dari pada yang kita saksikan dalam bentuk kemiskinan. Mereka itu adalah orang yang berharta dan berkuasa tapi tak berdaya karena system yang membuat mereka menjadi monster ganas. Para Politisi dan Pemerintah adalah mereka yang terkena paling parah sebagai akibat kezoliman system menjajah dari kelompok pemodal raksasa. Mereka setiap hari menghadapi tekanan dan tak berdaya dihadapan kekuatan asing. Berbagai regulasi terbentuk dan akhirnya meminggirkan mereka yang lemah modal, lemah pengatahuan , lemah jaringan. Apapun yang kita lakukan secara partial tidak akan menyelesaikan masalah terjadinya kezoliman dinegeri ini bahkan dibelahan dunia lain. Inilah makna “membela”

Dalam sebuah hadith sahih Rasulullah Saw bersabda “ sesungguhnya kalian hanyalah akan ditolong dan diberikan rezeki oleh Allah Swt manakala kalian membela orang orang yang lemah” Maka membela mereka adalah berbuat secara terstruktur dalam barisan ( Ashaf ) dan kelembagaan yang rapi dan teratur, Upaya ini memang tidak mudah apalagi hampir semua resource dikuasai oleh segelintir manusia berhati iblis namun satu prinsip yang membedakan antara orang yang beriman dengan yang tidak beriman adalah terletak pada harapan dan optimisme itu. Allah berfirman :

Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka ( musuhmu). Jika kamu menderita kesakitan , sesungguhnya merekapun menderita kesakitan pula, sebagaimana kamu menderitanya, sedangkan kamu mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan. Dan adalah Allah maha mengetahui lagi maha bijaksana( QS AL –Nisa (4):104). Dengan demikian dalam berjuang membela mereka yang lemah harus diyakini bahwa rahmat dan pertolongan Alla Swt tersebut hanyalah akan diberikan kepada orang orang beriman yang salah satu syaratnya memiliki komitmen yang kuat untuk membela orang orang yang lemah.

Apabila terbersit sedikit saja dihati kita untuk membela yang lemah namun lebih mengutamakan kepentingan pribadi dalam bentuk apapapun maka rahmat allah akan menjauh dan kehinaan akan datang kepada kita. Ketahuilah ,bagi orang beriman, rahmat, inayah dan pertolongan Allah Swt merupakan suatu keniscayaan dan kebutuhan yang bersifat mutlak. Kerja keras yang kita lakukan tidak mungkin akan menghasilkan sesuatu atau dapat memecahkan suatu persoalan secara optimal tanpa pertolongan dari Allah.

Umat islam pada masa sekarang berada dalam posisi dizalimi dan difitnah. Tugas kitalah sebagai umat untuk berada digaris depan membersihkan dari berbagai fitnah dan isu yang tidak benar dan menyesatkan. Sudah saatnya kita berupaya memberikan fakta dari keteladanan untuk menangkis isu negative yang disampaikan oleh kelompok lain yang bersumber kebencian kepada kita. Tidak dengan membalas melalui kebencian tapi dengan kesabaran sambil terus berjuang karena Allah. Dengan demikian lambat atau cepat akan terbangun kesadaran bagi siapapun bahwa islam itu membawa kedamaian dimuka bumi. Seperti apa yang disampaikan oleh Rasulullah “ Tolonglah saudaramu yang zalim maupun yang dizalimin”

Mereka yang menzalimi kita harus kita tolong dengan mencerahkan mereka lewat keteladanan kasih sayang. Sehinggga cara dan hakikat perjuangan Rasulullah memperbaiki akhlak umat manusia dapat pula kita terapkan. Maka lengkaplah visi kita sebagai muslim yang menjadi rahmat bagi alam semesta. Bersikaplah yang benar maka kita akan sampai pada tujuan yang sebenarnya.

No comments:

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...