Wednesday, August 09, 2006

Mencintai

Saya sangat berharap putra saya memilih jurusan tekhnik untuk mendapatkan gelar insinyur. Betapa tidak? karena gelar ini adalah cita cita saya yang kandas dan akhirnya membuat saya masuk dalam dunia ekonomi dan keuangan. Tapi apa hendak dikata , ternyata putra saya lebih memilih Fakultas Ekonomi. Saya lepaskan ego saya , harapan saya dan selanjutnya saya beri dukungan kepada putra saya. Dalam perjalanan waktu, timbul rasa percaya dirinya untuk sukses dalam dunia pendidikan. Kelak bila dia berhasil , maka saya tahu itulah pilihannya dan dia pantas mendapatkan kebahagian dari pilihannya itu. Tentu saya akan lebih bahagia karena berhasil membuatnya bahagia dengan pilihannya.

Saya tahu bahwa teman saya tidak suka berkelakar. Dia sangat serius. Sementara saya suka berkelakar untuk menciptakan suasana santai. Bila bertemu dengannya, saya harus merubah diri saya menjadi sangat serius. Padahal teman ini dalam posisi lemah dihadapan saya. Kadang setelah masalah serius selesai, saya lebih memilih diam karena kehilangan kata kata untuk bicara banyak. Maklum saya tidak terlatih bicara banyak dengan serius. Kami menikmati suasana diam itu tanpa senyuman apapun. Tak berapa lama , kamipun pergi untuk berjanji bertemu kembali. Bagaimana pendapat anda ? tentu hambar hubungan ini. Oh tidak. Saya dan dia tetap bersahabat dengan baik.Kami saling menjaga dan merindukan untuk bertemu. Mengapa ? Saya berusaha menempatkan diri saya seperti apa dia mau.

Dari cerita diatas, maka terkesan bahwa saya naif. Kepada anak yang hidupnya saya tanggung , saya mau saja mengikuti apa yang dia inginkan. Kepada teman yang hanya doyan serius tanpa memperhatikan keinginan saya untuk santai, saya harus mengikuti gayanya walau saya dalam posisi kuat. naifkah saya ? lantas dimanakah hak saya ? Ini bukan soal naif atau hak. Tapi ini soal mencintai. Bila kita mencintai anak atau teman atau siapapun, maka kita harus bisa memberi kepadanya. Tentu memberi dalam arti mendukung dan memahami sikapnya. Menempatkan rasa hormat akan keberadaanya untuk pantas dihargai. Rasa hormat dan dihargai adalah kebutuhan jiwa hubungan antar manusia yang hakiki. Dan sikap rasa hormat dan dihargai itu hanya ada pada orang yang mencintai. Orang yang ikhlas. tanpa memikirkan diri sendiri.

Sebaliknya bila saya menggunakan kekuatan saya untuk memaksa putra saya mengikuti Fakultas yang saya mau maka saya harus senantiasa berpikir untuk terus mengarahkannya. Mengingatkannya untuk tidak melakukan kesalahan, Kadang mungkin bila dia salah maka saya akan marah. BIla dia gagal saya akan lebih dulu kecewa. Apa yang terjadi ?. Keberadaan anak bagi saya tak lain hanyalah tempat memuaskan ego saya. Dari itu semua saya merasa tampil sempurnan dan anak saya tidak sempurna. Andaikan berhasil apa yang saya mau, maka sebetulnya yang berhasil adalah saya sendiri. Anak saya tetap tidak memiliki dirinya sendiri dan hidup dalam bayang bayang saya tanpa mampu untuk mandiri. Begitupula dengan teman saya , bila saya gunakan kekuatan saya agar dia mengikuti gaya saya maka pertemuan hanya akan terjadi bila dia membutuhkan saya , selebinya tak akan ada pertemuan. Lantas apa arti hubungan ini ?

Begitupula bila kita mencintai Allah maka kita harus melepas ego kita dan mengikuti apa Allah mau. Maunya Allah adalah agar kita menjadi orang bertaqwa dengan meninggalkan larangannya dan mengikuti perintahnya. KIta inginkan harta berlebih untuk memanjakan diri sendiri tapi Allah maunya agar harta itu digunakan untuk membantu fakir miskin dan orang orang duafa harta dan ilmu, maka kita harus mengikuti maunya Allah. Dan hebatnya ketika kita mampu berbuat karena dasar mencintai maka pada waktu bersamaan kita akan mendapatkan kebahagiaan karena anak semakin mencintai kita , teman semakin mencintai kita, dan Allah semakin mencintai kita. Semua itu karena kita menanamkan sikap berbuat dan memberi untuk cinta.

No comments:

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...