Wednesday, August 02, 2006

Harga diri

Kemarin saya bertemu dengan teman lama di loby hotel Mandarin Singapore. Dia langsung memeluk saya dengan hangat. “ Lama kita tidak jumpa ya. Kamu nampak kurus sekali tapi wajahmu bersih” Katanya dengan airmata mengambang. Saya menjawab “ Setahun lalu saya terkena stroke ringan. Alhamdulillah berkat pernyakit darah tinggai dan kolestrol membuat hidup saya lebih teratur. Hasilnya kini lihatlah. Tubuh yang tambur nampak langssing karena saya vegetarian sekarang.” Teman ini tersenyum cerah. Tapi sebetulnya ada bayangan diwajahnya rasa malu dihadapan saya. Tapi dengan sikap saya yang hangat telah membuat tak ada lagi jarak. Dia sahabat saya dan dia adalah saudara muslim saya.

Tentang sahabat ini, mengingatkan saya kepada peristiwa dua tahun lalu. Dia sebetulnya adalah mitra saya dalam business. Orangnya well educated dan pernah menjadi CEO salah perusahaan yang diseganis di era Soeharto berkuasa. Kemitraan ini didasarkan oleh keyakinan saya bahwa dia orang yang memiliki pemahaman agama yang luas. Disamping penguasaan tekhnis dibidang keuangan. Tak ada sedikitpun keraguan saya untuk bermitra dengannya. Berjalannya waktu, teman ini mulai menampak sosok lain dari yang saya harapkan. Dia mulai bersikap culas. Berbagai cara dilakukannya untuk menyingkirkan saya dalam kemitraan. Namun upaya itu tidak pernah berhasil sempurna. Bahkan diapun hampir kelelahan. Tapi saya sendiri tidak pernah mempermasalahkan sikapnya itu. Saya masih berharap suatu saat dia dapat menyadari sikapnya.

Satu ketika, akhirnya upayanya berhasil sempurna membuat saya terpojok bahkan membuat saya teraniaya. Fitnah yang dibuatnya secara systematis berhasil sudah. Sayapun tersingkir sebagai pecundang. Kepada yang lain , saya tidak pernah mengungkapkan kemarahan ataupun kekecewaaan akan sikapnya. Juga tidak pula mencoba membela diri. Semua telah terjadi secara sempurna dan legal. Hukum manusia telah berlaku membuat saya menjadi pihak yang kalah. Bagi saya hokum Allah lebih dari segala galanya. Kita tidak tahu ada apa dibalik ini semua. Secara akal saya telah berusaha menjadi pemenang tapi Allah berkehendak lain.

Hanya berselang satu bulan, teman ini datang lagi kesaya. Pertemuan di lounge executive hotel. Kebetulan saya sedang bersama teman teman. Dihadapan teman teman saya dia marah dengan mengeluarkan kata kata yang pedas. Saya hanya tersenyum tanpa sedikitpun membalas makiannya. Kemudian dia kembali mengeluarkan kata umpatan dengan fitnah. Sayapun hanya diam dan tetap tersenyum. Terakhir, mungkin karena saya tidak bereaksi membalas umpatannya , diapun melepaskan kepalan tangannya kearah saya. Namun kekuasaan Allah membuat saya replek bergerak kekiri dan pukulan itu meleset. Diapun terjatuh karena dorongan tubuhnya sendiri ketika memukul saya. Saya berusaha mendirikannya . Namun kembali dia memukul saya dan kembali meleset. Saya tetap tersenyum dan akhirnya memilih melangkah keluar. Dia mengikuti saya. Pada saat itulah saya berkata “ Istighfar ..istighfar…ingat allah” Dia terkejut dengan kata kata saya itu. Dan melangkah pergi meninggalkan saya.

Teman teman yang menyaksikan peristiwa itu sempat terkesima. Mereka melihat ketenangan saya menghadapi orang yang mengzolimi dan memfitnah saya tanpa sedikitpun terpancing untuk membalas. Padahal salah satu teman mengetahui bahwa saya Karateka Dan 2 yang pernah ikut perlombaan karate Shindoka seasia facific. Artinya bukan hal sulit bagi saya untuk melumpuhkan teman itu. Bagi saya kekuatan phisik ilmu bela diri tidak akan membuat kita menjadi pemenang sejati dalam bertarung. Karena ketika orang menzolimi kita dan menganiaya kita sebetulnya ada ribuan malaikat hadir bersama kita. Para malaikat sedang menyaksikan sebuah keutamaan anak adam melawan hawa nafsunya untuk menjadi mulia dihadapan makhluk apapun yang diciptakan Allah. Namun apabila kita membalas makian dengan makian, pukulan dengan pukulan, pada saat itulah para malaikat berhamburan pergi. Yang datang dan mengelilingi kita adalah Iblis. Ketika itulah kita menjadi hina sehinanya dari semua makhluk ciptaan Allah.

Sikap sabar bukanlah kelemahan.Jusru adalah kekuatan sejati. Ketika orang marah dan memaki , dan kita tidak membalas maka yang terjadi adalah kita sedang melatih kekuatan spiritual kita dan sekaligus menolong orang yang sedang marah dari kehinaan dihadapan Allah.

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...