Monday, March 20, 2006

Agent of Development

Dalam banyak hal kita hanya bisa melihat segala sesuatu dari apa yang dapat kita lihat. Padahal tidak selalu yang nampak dimata adalah mencerminkan sesuatu yang sebenarnya. Dulu sebelum Columbus menemukan benua Amerika ,orang melihat bahwa bumi itu datar dan ada batas. Namun akhirnya semua mengetahui bahwa bumi itu bulat. Ada batas indra melihat namun menjadi ruang tanpa batas bagi “hati” manusia memandang apapun yang nampak.

Saya menyadari sepenuhnya makna teropong hati ini. Karenanya saya tidak pernah melihat seseorang dari apa yang dapat saya lihat dengan mata saya. Kesan yang terdalam adalah ketika anda menatap mata silawan bicara. Mata adalah gerbang mendalami rahasia hati dibalik banyak ungkapan yang keluar dari mulut seseorang. Kemudian bila mata itu tenang dan diikuti oleh wajah yang bersih berhias senyum maka taulah kita bahwa lawan bicara kita orang yang bijak dan patut dihormati.

Hal tersebutlah yang nampak dari pertemuan saya dengan Chritine. Ketika awal saya bertemu dengan dia di Holiday Inn , Kowloon. Bila target saya hendak bertemu dengan Pejabat teras bank maka dia bukanlah sosok yang pantas. Dia terlalu sederhana bagi seorang Banker. Dan lebih takjub lagi , dia menyempatkan diri untuk menemui sendiri clientnya. Namun setelah sepuluh menit berbicara, maka taulah saya wanita berusia 36 tahun ini tergolong super smart di balik kecantikan wajah tanpa banyak mike up. She is humble and wonderful lady.

Wawasannya tentang LBO , Financial Engineering , layering dan banyak hal yang terlalu sulit dipahami oleh banker di Indonesia, bagi dia begitu mudah dijelaskan dan lebih hebat lagi dia mampu memberikan solusi total. Saya merasa bersyukur mendapatkan mitra seperti ini. Terlalu bernilai bagi kemitraan group perusahaan saya dimasa mendatang. Dalam dialogh tersebut dia berusaha lebih banyak mendengar dan berusaha menyelami masalah yang sedang saya hadapi. Ketika dia berbicara maka yang keluar adalah kebijakan seorang banker dengan kehati hatian mengemukakan “janji” namun tetap mencerminkan kepercayaan bahwa kita berbicara pada orang yang tepat untuk menyelesaikan masalah kita.

Di Indonesia , para banker telah menjadi layaknya se orang raja. Hidup bergelimang dengan banyak status dan facilitas. Bila dia berada di suatu pesta maka selalu dikelilingi oleh banyak petualang. Hanya senang memberikan solusi bila ada kolusi. Dia tidak peduli bila kolusi ini berakhir pada konspirasi jahat merugikan bank yang dikelolanya. Yang menjadi landasan berpikir banker adalah bagaimana mengelola politik kekuasaan dengan pemegang saham. Untuk itu dia tau betul bahwa suap ( dalam bentuk apapun ) adalah cara terampuh untuk membuat para pemegang saham tunduk tanpa memperdulikan kinerjanya. Hal ini utamanya terjadi pada Bank bank milik pemerintah.

Patut dihayati apa yang diungkapkan oleh Christine “ Banker dizaman modern dewasa ini telah menjadi Pahlawan untuk tumbuhnya ekonomi bangsa. Banker telah menjadi agent bagi Negara untuk mendukung program pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan, produktifitas, dan peningkatan standard hidup manusia. Lebih daripada itu banker telah menjadi Public Relation yang ampuh menciptakan pengertian dan kepercayaan masyarakat investor kepada pemerintah. Karenanya , teramat Naif bila banker ikut dalam konspirasi jahat dengan nasabahnya hingga berakibat runtuhnya kepercayaan masyarakat kepada bank. “

Indikator kepercayaan international kepada pemerintah Indonesia adalah sejauh mana kepercayaan financial community international kepada bank bank yang ada di Indonesia. Sampai hari ini , surat hutang sampai dengan bank instrument dari bank yang ada di Indonesia menempati rating sangat rendah. Juga sangat sulit mendapatkan investor. Para banker menyalahkan pemerintah yang tidak mendukung langkah langkah kebijakan bank yang sehat .Padahal kesalahan terbesar ada pada para banker. Selagi banker Indonesia tidak menempatkan azas moral diatas segala galanya dan kecintaan professi tidak menjadi landasan berkarya maka jangan diharap ada “kepercayaan “ terhadap bank pada khususnya dan Negara pada umumnya.

Ketika saya berpisah dengan Cristine dan berjanji akan bertemu lagi dilain waktu untuk dinner, saya terpukau dengan kesederhanaan, kecerdasannya. Pantas china dapat tumbuh begitu cepat dengan beban lebih dari satu miliar penduduk. Bangsa ini memiliki banker pekerja keras dan tanggung jawab moral sebagai “agent of Development “bagi bangsanya. Mereka bangga dengan profesi itu walau tidak harus hidup bergelimang fasilitas kemewahan layaknya banker di Indonesia.


No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...