Tuesday, December 15, 2009

HUKUM KITA ?

‘Bibit – Chandra sudah dibebaskan dari segala tuntutan hukum. Akibat intervensi pemerintah dan publik. Walau tadinya begitu kuat upaya polisi dan jaksa menjadikan kedua pejabat KPK itu tersangka. Prita, yang sudah dinyatakan bersalah oleh Hakim, akhirnya kini mengarah kepada penyelesaian kasus diluar persidangan. Pihak Omni akan mencabut gugatan perdatanya. Soal Pidana akan diselesaikan sendiri keliatannya tanpa harus mendekam dalam penjara. Kedua kasus tersebut menjadi perhatian publik dan akhirnya selesai begitu saja. Tapi ada yang perlu dicatat disini bahwa system peradilan kita memang brengsek dan akhirnya tidak diyakini dapat memberikan rasa keadilan bagi publik.

Sekarang Kasus Century, anehnya tidak ada elite DPR dan publik mempermasalahkan kenapa Hakim menjatuhkan hukuman hanya 4 tahun kepada Robert Tantular. Tidak ada. Padahal gugatan ini dilaporkan Menteri Keuangan atas kejahatan perbankan yang sehingga negara dirugikan. Tidak ada yang memperhatikan bagaimana Menteri Keuangan langsung mengajukan banding atas keputusan hakim yang tidak adil itu. Bila semua tuntutan Menteri keuangan dipenuhi maka bukan tidak mungkin dana yang dilarikan keluar negeri dapat kembali dikuasai negara. Dalam hal ini pemerintah cq Menteri Keuangan adalah pihak yang dirugikan oleh hukum itu sendiri. Tapi tidak ada dukungan publik kepada menteri keuangan agar Hakim dapat menetapkan hukum seadil adilnya dengan membongkar siapa saja yang terlibat pidana dalam kasus Century ini.

Pada kasus Bibit – Chandra , Polisi dan Jaksa melihat materi hukum sebagai dasar untuk mengkriminalkan. Tapi publik melihatnya dari sisi politik. Publik menang. Soal Prita, Jaksa dan Polisi bersikap karena materi hukum itu sendiri tapi publik melihat dari rasa keadilan yang subjetive. Publik menang. Kasus Bank Century , lagi lagi polisi dan jaksa serta hakim melihat materi hukum bukan melihat azas keadilan tapi publik melihat kearah politik. Keliatannya publik lagi yang menang. Dengan dijadikannya Menteri keuangan dan Wapres sebagai pesakitan. Ketiga hal ini berkaitan dengan rasa keadilan, azas keadilan, politik. Dengan ketiga hal ini membuat keadaan hukum di Indonesia menjadi serba membingungkan.

Keadaan Hukum sekarang memang menyedihkan. Bukan saja rakyat yang bingung tapi juga penegak hukum dan pemerintah. Mereka bekerja berdasarkan system yang dibuat oleh negara dan tentu mereka harus tunduk dengan system itu sendiri. Kalau mereka melanggar system itu maka mereka dianggap tidak beriman kepada negara.Tapi kehendak publik soal keadilan yang kadang tabrakan dengan system hukum itu sendiri. Inilah dilemanya. Yang membuat system itu adalah DPR yang diusulkan oleh Pemerintah. Sudah lebih 10 tahun reformasi, masalah perbaikan system hukum belum juga sampai kepada rasa keadilan itu sendiri. Biangnya adalah elite politik yang tampil dipanggung memang brengsek. Niatnya sudah salah. Mau berkuasa dan dijadikan pemimpin karena ingin dihormati dan harta.Bukan berjuang karena Allah.

Suatu negara dikatakan berdaulat bila dia punya Hukum.Suatu masyarakat akan dinamis dan kondusif bila hukum tegak. Karena hukum lah kita berdiri tegak didepan mereh putih dan percaya dengan rupiah. Karena hukum lah kita mau datang ke bilik suara untuk memilih orang jadi pemimpin kita. Karena hukum lah kita bangga sebagai bangsa. Tapi apa jadinya bila hukum itu sendiri membuat kita ragu untuk berdiri tegak didepan merah putih dan ragu pegang rupiah. Ragu dengan pemimpin yang kita pilih. Ragu akan kebanggaan kita sebagai bangsa. Itulah yang kini dirasakan oleh publik. Seharusnya ini disadari oleh kita semua untuk focus kepada perbaikan system peradilan di Indonesia.

Jadi tak ada gunanya menjadikan DPR sebagai pahlawan soal kasus Century ini.Ini kotra productive bagi pembangunan bangsa. Harusnya publik mendesak DPR dan Pemerintah untuk melakukan upaya serius memperbaiki system hukum di Indonesia. Sudah saatnya hukum di Indonesia digali dari agama karena antara agama dan masyarakat telah terikat secara moral dan budaya berabad abad. Bila hukum bersumber dari agama maka tentu Allah yang akan menjaga ketertiban di bumi Indonesia. Masalahnya, masih adakah elite kita percaya kepada Allah ?

Thursday, December 10, 2009

Informasi dan Jiwa

Ada kemarahan ditengah masyarakat terhadap kasus korupsi yang sudah mewabah di negeri ini. Sebetulnya korupsi bukan hanya terjadi sekarang di era SBY tapi juga terjadi di presiden sebelumnya. Bahkan korupsi yang dilakukan oleh sebelum SBY mungkin lebih dahsyat quantitas maupun kualitasnya. Kalaupun ada kemarahan ketika itu namun hanya bersifat sementara. Tidak ada kemarahan terorganisir seperti sekarang ini. Karena peristiwa Century, Bibit – Chandra - Anggodo, Prita, terlah menimbulkan kemarahan secara masive kepada institusi negara seperti POLRI, Kejaksaan, Kehakiman serta lembaga kepresidenan dan DPR. Mengapa seperti ini ? apakah ini sebuah fenomena dari system demokrasi yang kita anut?

Untuk menjawab hal tersebut diatas mungkin kita harus kembali menelaah siapa diri kita sebenarnya. Pada manusia itu terdiri dari Ruh, Nafsu, JIwa dan Raga. Ruh berisi tentang blue print /hakikat kita sebagai manusia yang bermuara kepada cinta dan kasih sayang . Karena Ruh bersumber dari Dzat Allah. Tapi disebelah lain ada juga Hawa Nafsu yang juga adalah Dzat Allah. Sifat dan sikap Nafsu selalu ingin copy paste terhadap eksistensi Ruh. Bila Ruh bersifat berkuasa, berkehendak dan segala sifat agung Allah maka nafsu juga sama. Hanya yang membedakn nafsu dan Ruh adalah soal kualitas.

Ruh hanya hak Allah. Suci tak tersentuh oleh pengaruh dari luar. Sementara nafsu dapat dimasuki oleh pengaruh external yang merupakan mahakarya dari Iblis. Apa Mahakarya Iblis itu ? Tipu daya dengan memanfaatkan kelemahan materi kita sebagai manusia yang terisolasi oleh ruang dan waktu. Semua informasi tentang Ruh dipelesetkan oleh Iblis untuk memanjakan jiwa kita namun menipu. Nafsu itu dapat dengan mudah berlaku seperti Ruh, yang akhirnya justru kekuasaan menimbulkan korup, kehendak menimbulkan kerakusan ? Mengapa sifat “berkuasa” tidak menimbulkan kasih sayang, mengapa sifat "berkehendak" tidak menimbulkan sifat tawadhu dan sabar? Dan berbagai sifat maha agung Ruh menjadi hablur ketika sampai kepada nafsu.Padahal sifat Ruh selalu kepada kasih sayang. Justru hal inilah yang tidak ada pada nafsu. Mengapa ?

Ternyata nafsu berperan besar mempengaruhi Jiwa bersikap. Jiwa berada dipersimpangan jalan antara Ruh dan Nafsu. Memang mikrokosmos berupa sel, jaringan sel, organ sampai raga digerakan oleh Ruh. Namun pusat komando ini berasal dari otak manusia untuk mensikronkan kerja indra, organ dalam maupun luar tubuh. Dibalik otak inilah jiwa kita bersemayam. Apa yang kita pikirkan dan kemudian timbul inisiatif untuk begerak tegantung dari jiwa kita sendiri. Allah memberikan hak inisiatif kepada jiwa untuk itu. Itulah sebabnya Allah mengirim Rasul dan menurunkan AL-Qur’an sebagai tuntunan , agar jiwa cerdas menentukan jalan yang benar.

Nutrisi raga kita adalah makanan. Semakin sehat yang kita makan semakin sehat pula tubuh kita.Begitupula sebaliknya.Nutrisi jiwa adalah informasi. Semakin sehat informasi yang diterima maka semakin sehat jiwa kita. Begitupula sebaliknya. Bila informasi hukum dan ekonomi serta pengetahuan kita dapat dari pemikiran sekuler maka jiwa kita akan bersikap sekuler (individualistis, hedonis, materialistis ). Bila informasi itu kita dapat dari AL Quran dan Hadith maka jiwa kita akan bersikap seperti Rasul. Orang yang setiap hari mendapatkan informasi dan terus berulang ulang maka akan mendorong jiwanya memaknai seperti apa yang diinginkan oleh informasi tersebut.Inilah hakikat "jiwa"

Jadi bila kini gema informasi Anti Korupsi lewat berbagai media terus berkembang maka ini adalah berkah tak terhingga dari Allah untuk bangsa kita. Hal ini sebelumnya tak pernah terjadi. Dari maraknya kemarahan orang banyak tentang korupsi maka sebetulnya ini adalah genderang perang secara terbuka melawan nafsu. Khususnya jiwa sekuler sedang diperangi leh jiwa religius. Kita bisa berharap semoga bagi jiwanya yang sudah dikuasai oleh Nafsu dapat disadarkan untuk berkiblat pada Ruh. Pada saat itulah jiwa akan berangsur angsur mulai menghadap kepada Ruh. Maka Al-Qur”an dan Hadith mulai dilirik untuk memperterbal khasanah pengetahuan agar hak inisiaptif jiwa hanya bermuara kepada cinta dan kasih sayang untuk lahirnya kebaikan, kebenaran dan keadilan disini. Semoga...

Friday, December 04, 2009

Kiamat

“Benarkah kiamat tahun 2012.? “ demikian putra saya bertanya kepada saya seusai dia menonton film berjudul 2012. Saya hanya tersenyum mendapatkan pertanyaan itu. Apa yang terbayang oleh saya adalah kehebatan Holiwood menjual tema tetang hal yang menakutkan atas sesuatu yang selama ini tidak diyakini oleh orang barat /orientalis.Tapi bagaimanapun film 2012 sudah mampu mengingatkan esensi kehidupan kita bahwa pada saatnya kehancuran itu akan terjadi sebagai bagian dari sunatullah tentang eksistensi alamsemesta berserta isinya. .

Fase manusia itu “ada” melewati tahapan. Semuanya berhubungan dengan sang waktu. Waktu bergerak kedepan dan tak pernah surut kebelakang. Keadaan awal manusia tercipta pada suatu "ruang yang tak berwujud". Dia ada tapi tiada. Fase ini melewati rentang waktu yang sangat panjang sampai Allah membuat blue print / formula eksistensi manusia dalam bentuk saripati tanah. Saripati inilah yang dibentuk utuh menjadikan manusia Adam ( prototipe manusia ) setelah dicampurkan jiwa dan ruh. Setelah Adam dijadikan oleh Allah maka proses berlangsung miliaran tahun sampai dibentuknya bumi berserta alam semesta.

Ketika Bumi terbentuk , Manusia tak lagi diciptakan seperti Allah menjadikan Adam. Tapi berasal dari air hina ( sperma plus ovum ) yang juga merupakan saripati tanah. Sebetulnya tidak berbeda dengan Adam. Hanya prosesnya berbeda. Kalau Adam diciptakan langsung dari cetakan ( Protipe) tapi manusia setelah Adam dijadikan melewati proses terbentuknya saripati tanah melalui zat makanan yang dimakan manusia. Keberadaan alam semesta berserta isinya tak lebih mendukung eksistensi manusia di bumi. Itulah sebabnya manusia itu disebut rahmatan lilalamin.

Alam semesta sendiri awalnya dibentuk dari bioplasme yang sangat kecil ( hampir tak nampak dengan kasat mata ) namun mempunyai energy tak terbatas. Enstein sendiri hanya bisa menduga besaran energy itu dalam teori relativitas energy. Biosplasme ini meledak yang dikenal dengan BIG BANG. Ledakan tersebut menimbulkan debu kosmik yang berputar , berproses , bermetamorfosa , miliaran tahun hingga menjadi galaksi termasuk bumi.. Sampai kini proses itu terus berlanjut sampai semua menjadi tidak ada atau kembali kepada Allah.

Jadi kiamat itu adalah sunatullah dari eksistensi alam semesta berserta isinya termasuk manusia. Kiamat bukanlah hal yang mistik tapi sesuatu yang jelas diinformasikan oleh alquran dan hadith. Ini pasti terjadi. Tapi kapan itu akan terjadi,kita tidak akan pernah tahu.Karena kita terisolasi oleh ruang dan waktu. Selagi jiwa kita dibalut oleh raga kita maka selama itu pula kita tidak akan pernah tahu tentang masa depan. Hanya “jiwa “ yang bisa melihat masa depan. Makanya ketika raga kita tercabut dari jiwa kita karena kematian maka secara sunatullah pula kita bisa melihat peristiwa kiamat dengan jelas. Walau waktu dibangkitkan /kiamat belum sampai kepada kita tapi jiwa kita mampu melihat masa depan itu. Kebenaran akan Alquran dan hadith menjadi terang namun rasa sesal untuk memperbaiki kesalahan tak ada gunanya lagi karena raga kita sudah tercabut.

Kiamat adalah kelanjutan proses keberadaan alam semesta dan manusia. Bumi sebelumnya telah digulung, kitab mulia sudah digulung, hadith telah digulung, juga alam semesta sudah digulung. Yang ada adalah dunia baru dengan dimensi lain namun tetap dibumi (QS: Al A'Raaf (7):25). Fase pada bumi baru ini akan melewati proses miliaran tahun bahkan lebih lama dibandingkan proses keberadaan bumi kita sekarang. Pada proses inilh ujud sejatinya eksistensi manusia diadili (QS: Al An 'aam (6): 160) tentang kebenaran, kebaikan. Pada fase ini pula kehidupan hanya diisi dua kelas, yaitu sorga dan neraka. Tidak ada pemerintah,presiden atau Raja selain Allah.Yang sorga mendapatkan nikmat sebaik baikya disisi Allah (QS. Huud (11): 108). Yang neraka mendapatkan seburuk buruknhya azab dari Allah ( QS. Huud (11) : 106-107)

Fase terakhir bukanlah kiamat. Fase tarakhir adalah apabila semua lenyap dan yang eksis hanyalah Allah QS: Ali Imran (3): 109 ). Maka usailah sudah drama keberadaan manusia melewati rentang waktu (QS: An Aam (6): 62). Makanya Allah berfirman ( QS; AL Ash (103) :1-3“ Demi waktu , sesungguhnya manusia hidup dalam keadaan merugi kecuali orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh dan saling menasehati supaya mentaati kebenaran dan saling menasehati supaya mentapi kesabaran.. “ Saatnya menebarkan kebaikan amal sholeh dimuka bumi untuk cinta hanya kepada Allah, satu tanpa dipersekutukan ( QS: Al Baqarah (2) : 165)

Wallahu a’lam bishshawab...

Tuesday, December 01, 2009

Kerja besar

Ketika terjadi glombang krisis keuangan global tahun 2007, banyak negara yang tergolong paling maju ekonominya ambruk. Diawali oleh rontoknya Lembaga keuangan di AS kemudian melanda negara maju lainnya seperti Jepang, Korea, Eropa, Inggeris, China. Di AS , Lehman Brother dinyatakan bangkrut, yang juga menyeret Perbankan kelas dunia lainnya dalam kubangan kerugian berskala gigatic. BOA, Citicorp dan lainya. Juga bank bank kecil limbung dan akhirnya masuk antrian penyelamatan dari pemerintah akibat hancurnya pasar CMO dan CDO. Di Inggeris, Barclay dan RBS terpaksa dibail out oleh FSA akibat CMO dan CDS yang gagal bayar. Tetangga terdekat kita, Singapore juga terdesak akibat krisis ini dan akhirnya membail out UBS melalui Temasek ( BUMN sngapore )

Hampir tak ada satupun negara yang mencatat record tertinggi ekonominya , selamat dari gelobang krisis ini. Bahkan China terpaksa mem bail out perbankannya sebesar USD 320 billion. Rusian terpaksa menutup bursa pasar modal dan keuangannya. Tapi Indonesia mungkin adalah satu satunya negara yang masuk 20 Negara dengan GNP terbesar didunia yang paling kecil dampaknya. Apa yang membuat Indonesia dapat berkelit seperti ini ?: Tak lebih setahun sebelum krisis terjadi ketika pertemuan Menteri Keuangan se Asia di Tokyo, Sri Mulyani sudah menyampaikan indikasi akan terjadi glombang krisis ini. Tapi para peserta pertemuan tak memberikan perhatian serius atas masalah ini. Kita bisa maklum tentang analisis Sri Mulyani karna dia mantan petinggi IMF dan lama berkecimpung dalam dunia riset dibidang ekonomi. Tentu dia tahu arah makro dari suatu masa depan ekonomi.

Arah makro yang mungkin disadarinya adalah invisible power dalam dunia keuangan. Ini ada tapi tiada. Ada , karena banyak kebijakan pemerintah tak bisa lepas dari invisible power yang didukung oleh negara maju dan lembaga multilareral. Tidak ada , karena memang lembaga yang bernama invisible power itu tidak ada selain yang real power yaitu negara. Fiksi tentang kekuatan neoliberal yang bertujuan untuk mengkerdilkan pemerntah dihadapan pasar sangat dipahaminya sebagai sebuah realitas. Karena itu analisisnya menjadi tajam. Dia paham betul bahwa pasar keuangan yang semakin liberal hingga kekuatan pemerintah dipasung untuk me-restore bila terjadi goncangan.

Itulah sebabnya ketika krisis global, pasar keuangan hancur dan negara dipaksa untuk mengikuti aturan pasar melalui program bail out LPS atau di AS disebut dengan FDI. Bila ini tidak cukup ya hukum pasar berlaku ”. Free entry free fall ” sesuai dengan amanat Neoliberal.. Tapi bila ini diikuti maka praktis kepercayaan publik akan hancur terhadap sistem perbankan nasional. dan ini akan berujung kepada hancurnya kepercayaan publik kepada pemerintah. Inilah efek sistemik yang ditakuti sebenarnya. Disamping itu, ini juga sebagai target utama dari kekuatan invisible power ; Pemerintah yang lemah dan akhirnya memohon dukungan dari Lembaga Multilateral. Seperti ketika tahun 1997. Tapi , kali ini masalah itu sudah dipahami betul oleh Sri Mulayani. Dengan cepat Perpu dibuat sebagai cara membuka belenggu tangan pemerintah dari kedigdayaan UU perbankan dan pasar uang..

Dengan Perpu itulah KKSK bergerak cepat mengatasi masalah Bank Century hingga tidak menimbulkan efek sistemik. Mungkin orang bertanya bahwa masalah bank century bukan masalah besar yang sehingga dapat menimbulkan efek sistemik. Tapi orang lupa hakikat pertarungan yang sebenarnya dalam konstelasi global disektor moneter. Ketika itu CDS Indonesia melonjak dari kisaran 350 bps menjadi lebih dari 1200 bps hanya dalam kurun waktu kurang dari 1 bulan pada Oktober 2008. Sebagai pembanding, pada November 2009, CDS Indonesia berada pada angka di bawah 200 bps. Yang disebabkan oleh tingginya country risk kita diprediksi oleh pasar. Artinya tanpa disadari serangan itu sudah mengarah kepada kekuatan stabilitas keuangan nasional. Hanya butuh letupan kecil sudah cukup melahirkan bomb sekala nuklir hingga rontok semua kekuatan financial kita. Inilah yang harus dipahami dasar keluarkannya kebijakan bail out.

Soal adanya pihak yang mendapatkan manfaat dari situasi keruh ini, ya kita harus mengawasi proses hukum Bank Century di Pengadilan. Kita harus mem pressure Jaksa dan Polisi, KPK agar bekerja lebih efektif untuk membongkar siapa saja yang mendapatkan manfaat akibat kebijakan pemerintah hingga negara dirugikan. Soros pernah berkata ” Pemain akan selalu diuntungkan dari situasi apapun bila pemerintah lengah...dan apa kata orang tua " Ingat ! kejahatan bukan hanya karna niat tapi karena memang ada kesempatan. Berhati hatilah !. Bukan tidak mungkin mereka yang diuntungkan itu adalah agent dari kekuatan invisible power. Itulah yang harus diganyang. Bukan kebijakannya

Bila kini DPR dan LSM berkoar menyudutkan Sri Mulyani dan Pemerintahan SBY maka kita perlu pertanyakan niat mereka. Apakah memang mereka inginkan pemeritah lemah ketika badai terjadi. Ataukah memang DPR tetap berkeinginan UU dibidang Perbankan diserahkan kepada mekanisme pasar yang notabene dikuasai oleh Invisible power. Seharusnya dari peristiwa Century ini dan krisis tahun 2007, dijadikan dasar bagi kekuatan politik di DPR untuk me restore UU pebankan dan Investasi Indonesia agar tak lagi berkiblat kepada kekuatan neoliberal yang direkomendasikan oleh IMF dan groupnya. Kembalilah kepada hukum yang diamanahkan oleh Al-Quran dan hadith secara kafah. Itulah kerja besar kita kedepan. Jangan ada lagi sengketa yang melelahkan. Karena kita semua bersaudara dan musuh kita jelas ada didepan mata bahkan sangat dekat dengan kita.

Saturday, November 21, 2009

Rasa keadilan

Prita, seorang pasien rumah sakit yang telah membayar jasa layanan yang diterimanya, harus berhadapan dengan proses hukumm hingga ke pengadilan. Tuduhan yang dilayangkan kepada Prita karena diduga mencemarkan nama baik rumah sakit melalui e-mail keluhan yang dibuatnya. Akhirnya dikenakan hukuman 6 bulan. Sedangkan Anggodo, begitu enaknya menyebut nama pemimpin negara kita bebas dari usutan apapun. Aksi oknum polisi yang menembak seorang sopir angkot 102 di Limo, Depok karena diduga berjudi. Subagyo, sang sopir angkot itu, akhirnya meregang nyawa saat dibawa ke RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Tapi buronan seperti Djoko Tjandra kasus cesi Bank Bali, yang kabur ke luar negeri, malah dibiarkan. Atau nenek di jawatimur yang ketahuan mencuri 3 biji kakao harus menghadap meja hijau sebagai pesakitan sementara perampok dana Century aman aman saja.

Begitu banyak peristiwa disekitar kita yang mengusik rasa keadilan kita. Ingin rasanya kita menjerit keras dalam kemarahan dihadapan hakim yang berminyak muka dan Jaksa berperut buncit , pengacara yang membosankan. Mengapa negeri ini tak pernah mampu memotong lingkaran kemiskinan ? Mengapa kemiskina dibiarkan akrab bagia rakyat jelata. Mengapa mereka harus terjabut dari cinta dan kasih sayang. Benarlah bahwa kita berada didalam sistem yagn memusuhi orang miskin. Mereka tak punya pilihan kecuali memang begitulah system berkerja untuk memanjakan penguasa diatas limpahan fasilitas sebagai abdi negara. Padahal ketika awal negeri ini dibentuk dibangun dari rasa keadilan itu sendiri yang tertuang dalam kata ”adil dan beradad” untuk tercapainya ”keadilan sosial. ”:

Adil dan beradab, berati sangat mendalam. Berakar kedalam relung hati terdalam. Yang tak dikotori oleh nafsu yang didokrin oleh akal tentang ketamakan dan penindasan. Membayar orang dari hasil pekerjaannya adalah ”adil” tapi membayar dengan murah adalah tidak beradab. Apalagi tidak peduli dengan kebutuhan pokok yang terus melonjak. Tapi membayar orang dengan pantas dan cukup untuk kebutuhan hidupnya adalah adil dan beradab. Tak ada ukuran matematika yang disebut pantas. Ukuran itu ada didalam hati, sebagai sikap memanusiakan manusia. Adil dan beradab tak lebih ungkapan cinta dan kasih sayang. Memberikan ruang dimana cinta bertaburan menghias senyuman dan sapaan untuk saling berbagi.

Namun apa yang kini kita rasakan. Cinta mengalir penuh bersyarat dan keadilan pun diperdagangkan. Keadilan menghantui kita, begitu rupa. Ia mungkin satu satunya pengertian yang tak bisa ditertawakan, pada akhirnya. Telah sulit untuk dirumuskan secara tetap. Karena kepentingan penguasa yang ingin bebas memperolok kemiskinan ditengah penindasan atas nama hukum. Hukum mudah ditafsirkan, diurai dan akhirnya menjadi tidak lagi tentang keadilan. Tapi hukum dilahirkan oleh kekuatan politk, dan ekonomi, merupakan hasil kompromi dan kalkulasi. Hukum juga ditulis sebagai teks dan sebab itu senantiasa merupakan hasil interpretasi. Adapun keadilan tidak. Hukum bukanlah keadilan.

Hukum yang kita yakini sebagai benteng keadilan , tak lebih hanyalah perkakas yang di create dari sebuan konvensi. Keadilan berada diluar dan diatas hukum ( dan undang undang ). Rasa keadilan itu semakin jauh dijangkau oleh produk hukum dan undang udang. Semakin sulit dimaknai oleh para penegak hukum. Pada titik ini, keberadaan agama sebagai pencipta rasa keadilan semakin dijauhkan dari hukum itu sendiri. Bahkan diragukan untuk tidak melanggar HAM. Maka hanyalah soal waktu negeri ini akan hancur untuk sia sia ...Semoga kita dapat menyadari ini semua sebelum semuanya terlambat.

Wednesday, November 18, 2009

Malu

Kemarin saya bertemu dengan tamu dari luar negeri. Dia berkata ” apakah anda tidak merasa malu bila membaca laporan PBB , Indonesia masuk rangking nomor 6 negara terkorup didunia dan tahun 2009 PERC ( Lembaga konsultan Risiko dan Politik Ekonomi ) mengumumkan bahwa Indonesia tetap menempati raking nomor satu sebagai negara PALING KORUP di Asia.” Saya tersentak. Teman ini berbicara tentang rasa malu. Memang yang membedakan manusia dengan binatang adalah rasa malu itu. Karena binatang tidak peduli dengan rasa malu tapi manusia diberi jiwa yang mudah tersentuh akan rasa malu itu.

Kita bisa saja berkata bahwa kita negeri religius , negeri yang taat hukum. Menghormati hukum. Tapi orang lain, orang asing, melihat kita tak lebih mempermainkan hukum. Globalisasi yang seharusnya diukir dengan prestasi kehormatan bangsa tapi nyatanya diukir dengan mempermalukan diri sendiri. Dapatkah kita bayangkan bagaimana perasaan president dan Menteri ketika menghadiri forum G20 atau APEC. Semua mata ketika melihat mereka maka yang pertama teringat bahwa ”inilah pejabat atau pemimpin ” yang negerinya mencatat record teringgi soal KORUPSI. Malukah mereka bersanding dengan negara lain yang tingkat korupsinya rendah ? Kalau mereka merasa diri manusia, tentu mereka akan malu dan mungkin tak mampu menaikan dagu dihadapan negara lain.

Tapi bila korupsi dari satu rezim ke rezim berikutnya tak pernah surut maka tahulah kita bahwa penguasa negeri ini tak punya lagi rasa malu. Salah satu ciri utama fitrah manusia adalah memiliki rasa malu. Ketika rasa malu hilang, manusia secara pasti memperturutkan hawa nafsunya dan mengabaikan petunjuk akal dan nuraninya (QS. Al-A’raf: 179).. Inilah yang sangat memilukan bila kita tahu bahwa 90% pejabat dan pemim pin kita adalah beragama Islam. Sifat malu mutlak dimiliki seorang Muslim. Sebab rasa malu tak lain merupakan refleksi keimanan, laksana perisai yang dapat mencegah seseorang dari melakukan kemungkaran dan kemaksiatan. Bahkan mulia-hinanya akhlak seseorang dapat diukur dari rasa malu yang ia miliki.

Mengapa pentingnya rasa malu ? Malu dapat dimaknakan sebagai sifat atau perasaan yang membuat enggan melakukan sesuatu yang rendah atau tidak baik. Dalam buku Adab an-Nabi, ustads Abdul Qadir Ahmad ‘Atha membedah secara bahasa kata ‘malu’ dengan cemerlang. Menurutnya, kata ‘al-hayyaa’ (malu) pada dasarnya memilki sinergi erat dengan kata ‘al-hayaat’ yang berarti kehidupan. Sebab, kata itu mengandung makna: perasaan sedih dan perubahan jiwa yang dapat menyedot segala kekuatan lahir dan batin, mencoreng kehormatan diri dan mengurangi harkat nilai keidupan manusia.

Karena itulah, malu tak dapat dipisahkan dari keimanan. Keduanya selalu hadir bersama-sama. Makin kuat iman seseorang, makin tebal pula rasa malunya. Begitu juga sebaliknya. Rasulullah saw bersabda: “Iman itu memiliki 60 sampai 70 cabang, yang paling utama ialah pernyataan ‘Laa ilaaha illallah’. Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri dari jalan. Dan rasa malu adalah salah satu cabang dari iman,” (Muttafaq ‘alaih). Dari negeri yang memilikii idiologi pancasila yang menempatkan Tuhan diatas segala galanya. Rasa malu itu seharusnya ada tapi justru kita masuk rangking tertingi sebagai negara yang tidak punya rasa malu didunia.

Bagaimanakah nasip bangsa kita bila rasa malu pada diri pejabat itu tidak diperbaiki dan korupsi terus terjadi ? Dengarlah sabda Rasulullah saw . “Jika Allah ingin menghancurkan suatu kaum, maka dicabutlah dari mereka rasa malu. Bila rasa malu telah hilang maka yang timbul adalah sikap keras hati. Bila sikap keras hati itu membudaya, maka Allah akan mencabut dari mereka sikap amanah dan tanggung jawab. Bila sikap amanah telah lenyap maka yang muncul adalah para pengkhianat. Bila para pengkhianat sudah merajalela maka Allah akan mengangkat rahmat-Nya dari mereka. Bila rahmat Allah telah sirna maka akan tampillah manusia-manusia terkutuk. Bila manusia-manusia laknat itu telah berkuasa maka akan tercabutlah dari kehidupan mereka tali-tali Islam.” (HR. Ibnu Majah).

Saturday, November 07, 2009

KPK ?

UU No. 39 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pindana korupsi memang berbeda dengan hukum tindak pidana biasa. Karena kurang menghormati asas praduga tidak bersalah dalam rangka pembuktian perkara. Keberadaan UU ini merupakan anak kandung dari reformasi. Sebagai ujud keinginan semua rakyat untuk lahirnya pemerintahan yang bersih dari segala tindak pidana korupsi oleh kekuasaan. Tahun 2001 UU No. 39 ini direvisi dengan lahirnya UU No. 30 Tahun 2002 tentang Pendirian Lembaga khusus memberantas Korupsi , namanya KPK ( Komite Pemberantasan Korupsi ).

UU sebelumnya dirasa sangat sulit menjangkau tindak pidana korupsi karena sulitnya mendapatkan bukti akibat harus dijaminnya azas pra duga tak bersalah. Tidak mudah untuk menetapkan seseorang menjadi tersangka apalagi terpidana. Acap kita dengar pengacara koruptor dan Polisi berkata " Kita harus menghormati azas praduga tak bersalah "Sytem penegakan hukum di negeri ini copy paste terhadap system hukum kolonial. Hanya efektif untuk menghadapi kejahatan generik yang biasa terjadi dikalangan bawah. Tapi sangat sulit bila berhadapan dengan kejahatan terdidik ( koruptor ). Orang terdidik sangat mengenal kelemahan hukum yang bertele tele itu dan juga kenal betul mental aparat yang digaji ala kadarnya itu. Makanya , sangat sulit sekali menjerat kejahatan terdidik ini, yang jumlahnya dari tahun ketahu terus meningkat. KPK menjawab segala kekurangan itu.

Keberadaan KPK sebagai penghibur ditengah terik panas kehausan rasa keadilan bagi rakyat. Ini sebagai Amanat rakyat untuk memberantas KKN lewat TAP MPR XI/1999. Walau rakyat tidak merasakan langsung akibat sepak terjang KPK namun satu demi satu pejabat publik dipertontonkan menjadi pesakitan di hadapan media massa. Maka itu sudah cukup menghibur rakyat yang selalu bingung menghadapi ongkos hidup yang semakin mahal. Megawati yang meng syahkan berdirinya KPK menjelang akhir jabatannya namun SBY mendapatkan berkah pujian rakyat ketika KPK mulai beraksi. Maka SBY dan kabinetnya boleh menyebut dengan bangga dirinya sebagai clean government and professional. Rakya terpukau dan kembali memilihnya.

Namun perjalanan waktu , ternyata cara praktis atau menjadi extra ordinary bagi procedure formal lembaga yang sudah ada ( jaksa dan Polisi ) membuat gerah para elite negeri ini. Tak sedikit pejabat trias politika yang masuk bui dan yang belum tertangkap terasa duduk diatas bara. Kenyaman tak ada lagi. Sementara kebutuhan tak bisa dikekang. ” Apa arti kebebasan dan kekuasaan bila setiap hari dikecam rasa takut dan semua itu karena KPK” Kira kira demikian yang ada dibenak para elite. Perseteruan antara POLRI dan KPK tidak mungkin datang begitu saja tanpa keterlibatan invisible hand elite politik yang ingin mengembalikan cara cara lama dipakai dalam membrantas korupsi. Terbukti tahun 2007 pernah diajukan RUU untuk merevisi KPK namun tak terjadi.

Padahal disadari oleh elite politk bahwa KPK adalah sebuah kompromi final dari kemuakan rakyat terhadap ulah rezim Soeharto yang hoby KKN. Ini sebagai jalan terbaik daripada lahirnya revolusi sosial. Rakya dapat menerima semua efek dari kesalahan orde baru asalkan ada cara yang efektif untuk membrantas korupsi. Namun sebuah kekuasaan ternyata memang tak nyaman bila harus ada system hukum yang antibodi seperti KPK , yang dengan mudah menyadap, menyita , menyekal dan menangkap tanpa memperdulikan "azas pra duga tak bersalah"

Perserteruan antara KPK dan Polri hanyalah satu bentuk yang nampak dipermukaan sebagai bagian dari upaya elite ( DPR dan Pemerintah ) untuk memandulkan peran KPK agar kekuasaan menjadi berkah yang nyaman dan menyamankan. Hingga tak ada lagi kelak, pejabat DPR yang dipermalukan karena korupsi atau pejabat gubernur atau menteri harus berhadapan dengan palu hakim. Karena banyak sekali kasus yang siap menjadikan mereka pesakitan dihadapan rakyat.

Survival..

  APBN itu adalah politik. Disusun dengan pendekatan politik anggaran. Pasti ada konsensus dan kesepakatan antara pemerintah dengan  DPR. Na...