Friday, May 10, 2024

Ganjar milih Oposisi Pemerintah.




“Semangat yang besar selalu menghadapi perlawanan keras dari pikiran yang biasa-biasa saja. Pikiran yang biasa-biasa saja tidak mampu memahami orang yang menolak untuk tunduk begitu saja pada prasangka konvensional dan memilih untuk mengungkapkan pendapatnya dengan berani dan jujur.” - Albert Einstein.


***

Negara kita tidak mengenal oposisi. Karena kita menganut presidentil. Bukan parlementer. Tugas Parlemen menjadi mitra pemerintah dalam pengawasan namun tidak punya hak judicial untuk menghukum presiden yang dianggap mengkhianati janjinya. Karenanya oposisi terkesan outsider yang dipandang sebelah mata. Bahkan patut dicurigai, dan perlu dibungkam lewat UU ITE, atau lewat buzzer pemerintah dilakukan Character assassination. Karena corong media dikuasai pemerintah dan modal, bisa sangat efektif membuat orang yang kritis atau oposan tenggelam di tengah keramaian.


Ganjar sadar itu. Saat dia mengikrarkan sebagai oposisi pemerintah. PDIP, partai yang membesarkanya, dengan tegas mengatakan itu pernyataan Ganjar secara personal. Ya. Ganjar berani mengambil resiko itu secara personal. Itu juga menyiratkan bahwa PDIP tak ingin jadi oposisi pemerintah. Ada pertarungan lain setelah Pilpres dan Pileg, yaitu ,menjadi penentu formasi koalisi pemerintah untuk mengawal agenda politik PDIP, agar  tetap bisa diperjuangkan lewat kekuasaan.


Sebagai politisi, Ganjar punya kalkulasi sendiri saat bersikap oposan terhadap pemerintah. “ Biarlah yang salah saya makan semua. Yang baik hanya untuk partai. “ Kira kira begitu sikapnya. Ini bukan tentang mencoba bermanuver dari kekalahannya dalam Pilpres. Selama dia jujur dan mengutarakan apa yang dia yakini benar, pemerintah akan menjadi musuh dia, suka atau tidak. Selalu begitu.


Di dunia ini selalu ada oposisi. Karena setiap logika saja pasti ada dialektika. Setiap tesis akan selalu ada antitesis. Orang bijak tidak pernah menganggap kritik oposan itu sebagai sebuah penghinaan atau kebencian, tetapi sebagai pengingat bahwa tidak ada manusia yang sempurna dan tentu pasti tidak ada sistem kekuasaan yang sempurna. Dan lagi, tidak ada gunanya membungkam daya kritis dan oposan. Karena mereka yang kritis itu sadar. Semakin besar restrictions yang mereka terima, itu adalah tanda yang menunjukkan bahwa mereka menuju ke arah yang benar.


Kritik oposan adalah bentuk lain dari perjuangan kaum terpelajar dan elite yang sadar akan tanggung jawab moralnya dimanapun dia berada. Terutama disaat dia berada jauh dari lingkaran kekuasaan. Prabowo 5 tahun jadi oposisi dan akhirnya merasa pantas menjadi teman rivalnya, Jokowi. Oposisi juga bisa menjadi sparring partners. Duel wacana bisa menjadi api yang membuat besi ditempa menjadi pedang, dan berdamai dengan realitas, ibarat air yang mendinginkan besi yang membara dan akhirnya pedang terbaik tercipta. Jangan pernah lari darinya; belajarlah darinya!

No comments:

Persepsi pasar.

  Ketika Lehman Brothers bangkrut pada 15 September 2008, reaksi   dunia seperti mau kiamat. Mereka mengatakan ini akhir dari kapitalisme pa...