Tuesday, December 26, 2023

Membela petani.

 




Selama 30 tahun terakhir, sebuah transformasi telah terjadi dalam kehidupan masyarakat Thailand Timur Laut (Isan).  Banyak  daerah pedesaan di Asia Timur dan Tenggara,tadinya secara historis dianggap (dan bahkan dicemooh) sebagai "petani kampungan", yang bertani untuk sekedar ganjel perut. Kini mereka bermitra dengan trading house international dan menjadi supply chain industry global. Itu berkat peningkatan pendidikan bagi petani, by process lewat sains memicu serangkaian perubahan dari bertani tradisional ke industry. Dari petani inferior menjadi superior.


Transformasi ini disertai dengan pergeseran dari sistem sosial yang berpusat pada desa ke jaringan sosial yang terhubung lebih luas. Perubahan yang dihasilkan secara dramatis mengubah tatanan sosial, termasuk demografi, organisasi sosial, budaya, kesehatan, pendidikan, dan pekerjaan, serta aspirasi dan identitas. Transformasi masih berlangsung, lewat proses globalisasi kawasan yang semakin meningkat.


Dalam buku orisinal dan provokatif, Kate Zhou berpendapat bahwa petani China—yang merupakan seperlima dari populasi dunia—telah menjadi kekuatan pendorong dibalik pertumbuhan ekonomi dan perubahan sosial China yang fenomenal selama lima belas tahun terakhir. Dipandu oleh kekuatan partai komunis yang in-lane dengan kepentingan petani sendiri, mampu menciptakan pasar baru, mendirikan industri pedesaan yang sekarang menghasilkan lebih dari setengah PDB China.


Zhou tidak memuji keberhasilan ekonomi China berkat reformasi yang dilakukan oleh kepemimpinan Partai di China. Memang, Zhou berpendapat bahwa para petani itu efektif justru karena gerakan mereka spontan, tidak terorganisir, tanpa pemimpin, nonideologis, dan apolitis. Para petani secara bertahap melepaskan ketergantungan kepada kekuasaan tanpa konfrontasi atau kekerasan terbuka. Atau tepatnya “Reformasi dari bawah”. Mereka sukses menghasilkan perubahan mendasar dan paling tahan lama yang pernah dicapai oleh china kontemporer. 


Harus diakui baik di Thailand maupun China, yang membuat pertanian menjadi mesin pertumbuhan dan  sumber kemakmuran rakyat, karena suksesnya land reform atau reforma agraria.  Pemerintah merampas semua lahan milik perusahaan diatas 10 hektar yang tidak dimanfaatkan secara optimal lebih dari 2 tahun.  Tanah itu dibagikan kepada rakyat petani. 


Prinsip pembagian lahan adalah pembagian atas dasar manfaat untuk hidup layak. Misal, di China dan Thailand, setiap petani dapat lahan 3 hektar.  Pendapatan dari 3 hektar lahan itu dibagi tiga, yaitu menutupi biaya produksi, biaya konsumsi dan tabungan.  Petani dilarang menjual atau menggadaikan tanah itu atau mengalih fungsikan lahan itu selain tani. Kita sejak era SBY sampai Jokowi, reforma agararia gatot ( gagal total) cuman OMDO. Emang kagak ada niat baik. Sekarang karena stok kurang, sibuk impor beras  dan gula jutaan ton, takut kalah pemilu dan chaos..


No comments:

Politik pangan paska Pemilu.

  Ketika melihat orang antri beli beras dengan jatah 5 kg. Entah mengapa saya menangis. Saya membayangkan istri saya yang sedang dalam antri...