Friday, November 03, 2023

Beda pilihan

 




Tadi sore setelah meeting di kantor bank di bilangan SBDC, saya ketemu amprokan dengan Herman di pacific place. “ Pak B, kita ke lantai 6. Teman pada ngumpul. “ Katanya. Saya ragu ikut. Ngapain kumpul dengan pengacara. Pengangguran banyak acara. Tapi karena didesak, saya mau juga ikut. “ Jam 6 saya harus ketemu orang lain. Jadi sejam doang ya” Kata saya mengingatkan.


Memang ada 6 orang sedang kumpul di cafe itu. Meja digabung. Jadi jumlah 8 kursi. “ Mantul ada B. Dapat traktiran kita” kata Danang. Saya senyum aja. Saya kenal mereka semua.


“ Pak B, kita ini bersahabat tetapi orientasi politik berbeda. “ Kata Herman. “ Itu Danang. Pilihannya Anies, Lihat jenggotnya. PKS dia. Itu, Dodot tahulah kita.. Pastilah Ganjar pilihannya. Itu Andi, dia kebetulan pilihannya Prabowo, karena dia garis lurus dengan Jokowi. Pilih Prabowo karena Gibran. “ lanjut herman.


“ Tadinya gua pilih Jokowi. Tetapi sekarang gua engga mau tegak lurus ke Jokowi. Gua pilih Ganjar. “ kata Dodot.


“ Ah lue aja bego. Percaya lue sama emak banteng? sampai segitunya benci Jokowi dan pilih Ganjar. “ kata Andi.


“ Bukan soal emak banteng. Tetapi soal gua dibohongi oleh Jokowi.” kata Dodot dengan wajah sinis.


“ Eh emang lu siapa sampai merasa dibohongi” Andi menyela cepat.


“ Dulu gua senang sekali ada orang dari keluarga miskin, yang bukan jenderal, bukan elite partai bisa jadi capres. Apalagi lawannya gank cendana. Ex mantu pak Harto . Ya semangat bela 45 “ kata Dodot sambil udut rokok dalam dalam..


“ Tapi…” lanjut Dodot. “ pas kemarin dengar anak nya jadi cawapres yang didukung oleh partai ex Orba dan ex mantu cendana. Gua  bingung. Walau dia bilang sebagai orang tua hanya merestui dan bedoa untuk anaknya. Tapi gua anggap Jokowi itu sedang begoin gua. Itu bukti dia tidak jujur dihadapan rakyat. “ Kata Dodot dengan menggeleng gelengkan kepala “ Siapa Jokowi ini sebenarnya? Mengapa dia tega bohongi gua rakyat yang miskin dan bodoh. Tapi ya udahlah. Biar Tuhan yang akan membalasnya. “ Kata dodot.


“ Sabar Dot “ kata Danang. “ Kan cebong engga boleh sedih”


“ Ah lue aja baper. Emang salah anaknya ikut kontestan Pilpres. Kan pada akhirnya yang menentukan dia terpilih atau tidak adalah rakyat. Kenapa sih baper amat.” Kata Andi.


“ Gua ngerti An. “ Kata Dodot dengan tenang“ Sangat ngerti. Namanya demokrasi, kan begitu maksud lue. Tapi demokrasi procedural, yang cacat moral dan etika. Tidak ada nilai nilai demokrasi tentang equality terutama terhadap kader Golkar dan partai lain yang sudah puluhan tahun mengabdi namun tidak ada peluang dicalonkan partai, sementara ini sehari jadi anggota partai besok jadi cawapres. Hanya karena dia putra presiden. Kalau bapaknya pedagang kaki lima mana mungkin bisa begitu.”


Andi mencibir. Dan Danang senyum aja. Melihat cebong bertengkar. Saya tetap menyimak.


“  Kecintaan gua kepada JOkowi bukan personal. Tetapi kecintan kepada Indonesia. usia gua sudah kepala 5. Gua tadinya berharap banyak dari Jokowi karena kita bisa lebih baik dari era sebelumnya. “ Kata Dodot.


“ Tapi kok begini. “ Dodot lanjutkan. Saya perhatikan airmatanya berlinang “ Kalau Gibran jadi cawapres dan capresnya Muhaimin, mungkin  gua bisa berdamai. Bahkan walau dia bukan lagi PDIP. Tak apa. Tapi ini dia rangkulan dengan orang yang dulu kita sama sama kalahkan lawan baaknya dalam Pilpres 2014 dan 2019. “ katanya.


“ Loh itu kan sama saja lue membenci dan meninggalkan Jokowi dengan paranoia. Mengapa pragmatis sekali. Cepat sekali berubah ? kata Andi.


“ Gua tidak berubah sampai sekarang. Lawan gua tetap mantu Soeharto dan nepotisme. Justru yang berubah ya Jokowi. Walau sebagai presiden dia netral tapi secara personal, dia dan keluarganya sudah gabung dengan gank orba dan cendana. “ Kata Dodot. Yang lain diam saja. Namun andi tetap sinis.


“ Kalau engga ada Pak B, gua yakin udah perang mereka berdua” Kata Herman terhadap Dodot dan Andi.


“ Coba kita dengar mentor kita, pak B. “ Kata Herman. Saya senyum aja.


“  Aristoteles berkata, " Kata saya mulai mencerahkan. " Aku menganggap orang yang mampu mengatasi hawa nafsunya lebih berani daripada orang yang mampu menaklukkan musuhnya, karena kemenangan tersulit adalah mengalahkan dirinya sendiri. Jadi kita tidak bisa mengadili Jokowi dan keluarga secara personal. Karena kalau kita jadi seperti jokowi belum tentu kita bisa melawan hawanafsu.


Nah kembali kepada kita. Apakah kita orang baik? Jauh di lubuk hati, apakah kita benar-benar ingin menjadi orang baik, atau apakah kita hanya ingin terlihat seperti orang baik agar orang lain menyukai kita? Apakah ada perbedaan? Bagaimana kita bisa tahu apakah kita sedang membohongi diri sendiri, secara moral?


Kejahatan imajiner itu romantis dan beragam; kejahatan yang nyata itu suram, monoton, tandus, membosankan. Kebaikan khayalan itu membosankan; tetapi kebaikan sejati selalu baru, menakjubkan, memabukkan dan ngangenin. Tak pernah saling melupakan dan apalagi meninggalkan. Demikian dari saya. Maaf saya segera pergi, Bill saya bayar ya..” kata saya pergi kekasir.

No comments:

Persepsi pasar.

  Ketika Lehman Brothers bangkrut pada 15 September 2008, reaksi   dunia seperti mau kiamat. Mereka mengatakan ini akhir dari kapitalisme pa...