Monday, September 18, 2023

Hukum lumpuh.

 




Pablo Escobar, putra seorang petani dan guru sekolah, memulai kehidupan kriminalnya saat masih remaja. Menurut beberapa laporan, skema ilegal pertamanya adalah menjual ijazah palsu. Dia kemudian melakukan pemalsuan rapor sebelum menyelundupkan peralatan stereo dan mencuri batu nisan untuk dijual kembali. Escobar juga mencuri mobil, dan karena kasus inilah yang dia dipenjara pertamanya, pada tahun 1974. Tak lama kemudian, ia menjadi penyelundup narkoba yang mapan, dan pada pertengahan tahun 1970-an ia membantu mendirikan organisasi kejahatan yang kemudian berkembang menjadi kartel Medellín .


Seorang Escobar,  akhirnya menjadi orang terkaya di dunia dari bisnis narkoba. Diperkirakan net asset nya mencapai USD 25 miliar saat itu. Marketnya hanya 1% dalam negeri. Sisanya dia ekspor ke Manca negara dan terbesar ke Eropa dan AS. Setiap minggu nilai ekspornya mencapai USD 440 juta. Dengan laba 400%. Itu lebih besar dari ekspor Migas kita. Fenomena seorang Escobar, tidak bisa dilepaskan oleh sistem politik dan kekuasaan Kolumbia yang hampir semua level bisa disuap. Semua lembaga demokrasi lumpuh dan hipokrit. Begitu sibuknya para elite berbagi dan bertransaksi kue kekuasaan, sehingga mereka lupa tugasnya mensejahterahkan rakyat.  


Saat itulah Escobar tampil di panggung politik seperti Robinhood. Dia membangun rumah sakit, stadion, dan perumahan bagi masyarakat miskin. Dia bahkan mensponsori tim sepak bola lokal. Popularitasnya di mata banyak orang Kolombia ditunjukkan ketika ia terpilih menjadi anggota Kongres negara itu pada tahun 1982. Sayangnya, anggota kartel dia sendiri tidak happy dengan karir politiknya. Sampai mereka membayar Menteri kehakiman melakukan investigasi.. Karena itu Escobar mengundurkan diri. Hanya dua tahun anggota kongres. Tapi setelah itu Menteri Kehakiman dibunuhnya.


Aparat keamanan dan peradilan bertekad menghabisi Escobar. Itu bukan karena penegakan hukum. Tetapi AS membayar lebih besar dari apa yang dibayar oleh Escobar kepada Elite Politik Columbia.  Maklum yang paling menderita akibat bisnis narkoba Escobar adalah AS sendiri. Escobar punya segala galanya, tetapi sebagai swasta dia tidak punya akses politik international. Dan politik hanyalah milik elite penguasa. Tapi Escobar percaya bahwa hukum yang rapuh telah membuat rakyat juga muak dengan kekuasaan. Terutama kepada aparat polisi. hakim, jaksa dan tentara yang bergelimang harta dari suap dan transaksi ilegal.


Escobar cerdas. Dia memberikan hadiah bagi rakyat yang bisa membunuh Polisi atau Tentara. Upah satu kepala aparat USD 100- USD 3000. Tergantung tinggi pangkatnya. Apa yang terjadi kemudian? ribuan polisi dan tentara mati ditangan rakyat sendiri.  Kalau akhirnya perang melawan Narkoba atau gank kartel Medellín  bisa dikalahkan, itu bukan karena aparat Kolumbia hebat. Tetapi peran team FDA dan CIA yang dominan dalam operasi pemberantasan. Praktis Aparat polisi hanya jadi penonton saja terhadap aksis team FDA. 


Dari kisah Escobar kita tahu bahwa bila  hukum tidak berpihak lagi kepada keadilan dan aparat bisa disuap atau dibeli, disaat itulah eksistensi negara dengan mesin pemerintahannya lumpuh. Praktis legitimasi negara hanya ada pada simbol istana presiden dan gedung parlement serta gedung pengadilan. Yang menentukan adalah asing  atau pemodal. 



No comments:

Ambisi yang merusak

  Pada tanggal 17 Desember 2011, Presiden Korea Utara, Kim Jong-il meninggal dunia. Di Korut, Politik Pemujaan terhadap Kim Jong-il sudah bi...