Monday, September 25, 2023

Akal.

 


Saya sedang di cafe Grand Hyatt. Awi datang bawa relasinya untuk ketemu saya. Seorang wanita. Dia pengusaha. Dia berencana mau jual cold storage nya. Usia sekitar 40an. “ Saya tahu nama anda tapi baru kali ini ketemu.” Katanya.


“ Tahu darimana ?


“ Dari tulisan anda di blog” katanya. Saya senyum aja.


Dia terdiam. Saya juga diam aja. “ Bro, kita pindah ke Safehouse aja. Enak disana ngobrolnya.” kata Awi. Ya udah, Kami pindah ke gedung sebelah.


“ Sejak orang tua saya meninggal. Salah satu usaha yang tidak saya pahami adalah bisnis ikan. Keliatan mudah cuan tapi mudah juga tekor. Tadinya bisnis property bagus. Sekarang juga nyungsep. Dan setelah cerai dari suami saya jadi males bisnis. “ Katanya. “ BIsa bantu memotivasi saya untuk tetap bersemangat. Setidaknya bisa membuat saya hebat. Tidak larut dalam keluhan. Saya benar benar dalam titik terendah dalam hidup saya” Lanjutnya. Saya tersenyum menatapnya.


“ mengapa ? Katanya mengerutkan kening. “ saya lebih tertarik bertemu anda untuk ngobrol daripada bisnis. “ Katanya.


“ Semua manusia lahir dalam keadaan telanjang. “ Kata saya muulai mencerahkan ala pedagang sempak. “ Mau anak raja atau konglomerat atau rakyat jelata, sama saja. Tidak ada perbedaan. Namun dalam perkembangannya manusia jadi berbeda, tentu berbeda nasip. Mengapa ini terjadi? ini berkaitan dengan mindset. Orang-orang yang kuat mencari sesuatu (potensi) di dalam dirinya sendiri. Sementara orang yang lemah mencari sesuatu (potensi) pada diri orang lain.” Kata saya. Dia mengangguk.


“ Anda tahu kan Yahudi. “ lanjut saya. “ Populasinya sekarang hanya 15 juta. Tapi etnis mereka mengontrol keuangan dan investasi di seluruh dunia. Bahkan perubahan zaman selalu dimotori oleh kaum Yahudi seperti lahirnya kapitalisme dan sosialisme. Nah kalau orang Yahudi melihat keluar dari dirinya, mereka pasti sudah jadi follower dan pasti ditelan oleh perubahan zaman. Karena mereka minoritas tanpa negara. Tapi karena mereka tidak pernah melihat keluar dirinya. Tapi selalu melihat ke dalam dirinya. Yaitu, potensi kekuatan yang dianugerahkan Tuhan kepada dirinya. “


“ Apa itu? tanyanya cepat. Artinya dia menyimak dengan baik saya bicara.


“ Akal. “ jawab saya tegas. “ Akal itu gabungan dari IQ dan EQ. BIsa saja IQ orang rendah tetapi EQ tinggi, dia bisa dianggap lebih berakal. Dan jauh lebih berakal bila dilengkapi dengan spiritual. Jadi dapat disimpulkan akal itu lebih bersifat rohaniah, yang berkembang menjadi kecerdasan berdasarkan pengalaman, dan pengetahuan. Itulah yang disebut dengan mindset.


Zaman dulu di Eropa, orang yahudi dilarang berdagang dan membangun pabrik. Apakah mereka jatuh miskin? tidak, Mereka tidak larut dengan situasi dan kondisi yang diciptakan diluar dirinya. Dari larangan yang bersifat diskriminasi itulah mereka menciptakan bank simpan pinjam. Ya berdagang barang tidak boleh. Buat pabrik engga boleh. Ya mereka membuka jasa. Jasapun bersifat titipan saja. Dari sanalah awal bank tercipta di era modern, sampai kini mereka kuasai sistem perbankan. Dari sistem perbankan ini, mereka mengembangkan pasar modal dan pasar uang.” Kata saya. Dia terpesona.


“ Jadi orang yang senantiasa mengeluhkan sesuatu, itu karena akal nya tidak berfungsi. Dia selalu melihat keluar dari dirinya. Selalu jadi follower. Bila kamu melihat ke dalam kamu tercerahkan. Dimana Tuhan anugerahkan kamu kekuatan besar untuk menjadi special. Dan Tuhan create kamu itu tidak main main. Serius banget. jadi kuatlah, bersukurlah. “ kata saya. Dia termenung. Mungkin berpikir. Saya tidak berharap dia cepat mengerti. Setidaknya berharap dia terus bertanya.


“ Pak ini kantor atau apartement.” tanyanya. Seakan tidak ingin melanjutkan pembicaraan.


“ Tepatnya apartement merangkap kantor saya pribadi. “


“ Lounge nya keren banget. “ Katanya melangkah kearah jendela kaca lebar, menghadap ke Thamrin Pulman. “ Tapi kok hape saya mati ya. “ Katanya bingung. “ engga ada sinyal.” saya senyum aja.

“ Ok soal bisnis nanti kamu bicara aja dengan Lina dirut saya.” Kata saya. Dia mengangguk senang.


No comments:

Persepsi pasar.

  Ketika Lehman Brothers bangkrut pada 15 September 2008, reaksi   dunia seperti mau kiamat. Mereka mengatakan ini akhir dari kapitalisme pa...