Paradox

 




Teori ekonomi itu bagus. Hukum permintaan dan penawaran sangat ideal diatas asumsi yang juga ideal. Hukum hubungan antara pendapatan, konsumsi dan tabungan begitu apiknya dalam rumus persamaan keseimbangan. Lantas kemudian krisis ekonomi terjadi. Bukan hanya sekali tetapi berkali kali. Lucunya masih juga kembali lepada teori sebagai solusi.Hasilnya tetap aja krisis. Kalau dianalogikan. Ketika anda yakin semua akan baik baik saja karena teori maka saat itu anda sedang onani. Menikmati euforia karena halusinasi saja.


Mungkin lebih separuh manusia di planet bumi penganut agama yang taat. Sebagian lagi tidak taat. Faktanya terjadinya perang dan kerusakan, pencurian, korupsi, palacuran dan lain sebagainya perbuatan amoral dilakukan oleh mereka yang beragama. Caranya semakin canggih dan vulgar. Tokoh agama engga malu pamer harta kekayaannya padahal hidupnya dari donasi. Lucunya, selalu solusinya kepada agama. Kalau anda yakin bahwa agama sebagai solusi, maka sebenarnya anda sedang euforia karena halusinasi saja.


Seperempat abad yang lalu Albert Hirschman sudah mengatakan hal itu dalam esainya, Against Parsimony: Three Easy Ways of Complicating Some Categories of Economic Discours: ketika kapitalisme bisa meyakinkan setiap orang bahwa ia dapat mengabaikan moralitas dan semangat bermasyarakat, public spirit, dan hanya mengandalkan gairah mengejar kepentingan diri, sistem itu akan menggerogoti vitalitasnya sendiri. Sebab vitalitas itu berangkat dari sikap menghormati norma-norma moral tertentu, sikap yang katanya tak diakui dan dianggap penting oleh ideologi resmi kapitalisme.


Adam Smith, sang Nabi ekonom dalam bukunya, The Theory of Moral Sentiment, menyebutkan tentang perlunya perikemanusiaan, keadilan, kedermawanan, dan semangat bermasyarakat..Artinya ketika kapitalisme kehilangan moral dan kebersamaan, dan lebih mengandalkan kepentingan pribadi, maka kapitalisme sebagai sistem akan hancur. Misi kenabian paling utama Rasulullah Saw adalah menyempurnakan akhlak mulia. Hal ini sesuai sabda beliau: Aku diutus oleh Allah Swt, semata-mata untuk menyempurnakan akhlak mulia. Coba tanya pada agama lain. Esensinya sama, yaitu moral atas dasar kasih dan sayang.


Tapi lucunya hal yang esensi dari Adam Smith dan Rasul itu, tidak pernah masuk dalam teori dan apalagi sebagai solusi. Ketika saya katakan bahwa pasar uang dan modal sumber kerusakan kapitalisme dan paradox dari sistem ekonomi, saya dianggap sok tahu. Ya udah. Saya katakan bahwa demoralisasi terjadi bukan karena syariat agama tidak diterapkan, tetapi karena akhlak buruk, yang siapapun termasuk yang taat syariat juga bisa brengsek kelakuannya.


Saya bersukur tidak pernah sekolah ekomomi dan walau menguasai tidak euforia dengan teori itu. Saya juga tidak merasa salah tidak ahli agama walau saya menghormati syariat. Hidup saya realistis saja. Saya tidak merasa rendah selagi engga bokek dan tidak merugikan orang lain, menghormati siapapun yang berbeda. 


Comments

Popular posts from this blog

Keterpurukan ekonomi AS

Pria itu

Harapan ...