Merebut hati.

 



Dulu waktu SMA kalau liburan saya acap diajak menemani ibu saya berdakwah di tempat lokalisasi PSK. Semua yang hadir dalam majelis taklim adalah PSK. Tak pernah sakalipun ibu saya menceramahi "dosanya menjadi pelacur" atau menjabarkan betapa pedihnya siksa neraka itu bagi para pezina. Betapa pedihnya siksa kubur bagi pelacur. Tidak pernah!.Ketika hal ini saya tanyakan, ibu saya menyampaikan dengan bijak bahwa mereka para PSK itu adalah orang yang lupa. Jangan ingatkan neraka, besarnya dosa maksiat , Jangan!.


Ibu saya mengingatkan mereka tentang kasih sayang Allah, Ingatkan kemurahan Allah. Bahwa Allah akan menjaga mereka siang dan malam. Bahwa Allah lah sumber keselamatan dan sumber kebahagiaan. Allah tempat sebaik baiknya harapan dan tempat sebaik baiknya kembali.Karenanya kembalilah kepada Allah agar yang sempit menjadi lapang. Ya isi ceramah yang disampaikan hanya berkaitan tentang cinta dan kasih sayang Allah saja.


Suksesnya pegiat gereja , Hindu, Budha mengembalikan PSK ke masyarakat dan Tuhan, juga percis sama. Mereka tidak pernah bilang PSK itu jahat. Pendosa, Pezina. Tidak. Mereka yakinkan kepada PSK itu tentang cinta, Bahwa mereka tidak sendirian. Tuhan yang selalu ada untuk mereka. Kembalilah ke Tuhan, cukuplah Tuhan merawat dan menjadi sahabatmu sepanjang usia.


Ibu saya menasehati saya, Jangan kau hina orang yang berbeda agama denganmu sehingga kamu mengecapnya kafir, tapi bersabarlah. Jangan kau hina orang bodoh dan berakhlak buruk dengan hujatan, tapi nasehatilah dengan sabar. Jangan kamu hina orang duafa dengan cara menceramahinya tapi bantulah mereka dengan harta yang kamu punya.


Bertemanlah dengan siapapun dengan niat baik. Tunjukan kepada mereka bahwa kamu peduli. Soal mereka tidak peduli, tidak apa. Teman falsu selalu ada, tetapi teruslah berrteman. Kalau kita berharap sorga di akhirat, cobalah ciptakan sorga di dunia dulu. Kalau kita berseteru satu sama lain ya gimana sorga akan hadir. Kalau di dunia terasa sesak, ya gimana mau berharap sorga di akhirat. Sorga itu jiwa yang tenang. Bukan yang rusuh dan paranoid. Damailah, berdamailah, untuk kini dan bes


Comments

Popular posts from this blog

Keterpurukan ekonomi AS

Pria itu

Harapan ...