Sunday, February 20, 2022

Miskin literasi dan informasi.

 





Kadang saya engga habis pikir. Mengapa orang kalau bicara selalu mengutip kata kata dalam buku dan tak lupa menyebut nama pengarangnya. Anehnya jarang yang menyebut nama pengarang Indonesia. Selalu berbau asing. Kalau tokoh sekular, ya referensinya bahasa inggris. Kalau agama, referensinya bahasa Arab. Dan lebih aneh lagi, yang dengar semakin percaya kalau disebut referensinya. Padahal referensi itu belum tentu benar. Bisa saja itu hanya opini pada situasi dan kondisi ideal. Yang pasti, anda tidak akan dapat apa apa. Hanya memuaskan rasa kedunguan anda saja.


Akibatnya kita mudah sekali jadi korban hoax dan provokasi. Padahal di era internet ini, tidak ada informasi yang sulit diverifikasi. Kemarin ada kasus Wadas. Opini sangat seram. Negara represip dengan rakyat yang menolak lahannya dibebaskan untuk tambang batu Adesit. Padahal tidak ada satupun peluru keluar. Sikap tegas aparat ditengah kerumunan itu sudah standar dimanapun, negara manapun. Biasa Saja. Kecuali ada yang mati karena peluru tajam. Nah itu ceritanya lain.


Ada pengamat ekonom bicara tentang IKN itu sebagai jalan asing untuk kuasai indonesia. Dia gunakan teori konspirasi yang bernama oligarki bisnis. Tak lupa dia pakai berbagai macan referensi untuk menguatkan opininya. Orang ramai percaya. Lucunya esensi dari adanya IKN itu jadi bias. Framing media massa sengaja mengubah sudut pandang orang terhadap tujuan ideal dari IKN itu.


“ Di Indonesia itu, hal yang sederhana saja akan menjadi sulit dipahami orang. Hanya karena influencer bicara.” Padahal ada istilah berinvestasi “ Jangan pernah percaya kepada infuencer” Mengapa? karena dia bicara bukan untuk anda, tetapi untuk kepentingan dia. Setidaknya menaikan rating dia. Setelah itu uang akan mengalir ke dia dalam bentuk apa saja.


Mendengar dan membaca itu bagus saja. Tetapi jangan membuat anda bigot. Cukup jadikan itu sebagai pengatahuan, yang tidak perlu membuat anda jadi follower. Gunakan juga akal dan referensi lain. Setidaknya baca dan dengar juga dari sumber lain. Di situ anda bisa bersikap. Tetapi dalam bersikap. Tetap jadikan akal sebagai raja dan nurani sebagai hakim. Anda akan tercerahkan. Untuk anda saja. Setidaknya anda tidak jadi korban influencer dan media.


***


Kemarin malam sebelum tidur Oma tanya” Pah, di TV sering dengar ada kasus soal afiliator main .Apa sih itu pah.?


Saya terdiam. Mikir gimana jelasin ke Oma dengan bahasa sederhana. “ Ma, papa mau cerita. Ini kisah nyata. Kejadiannya tahun 2019. Mau dengar engga?


“ Mama tanya, papa malah mau cerita. Udah ngantuk pah.”


“ Cerita ini ada hubungannya dengan pertanyaan mama. Mau engga ?


“ ya mau”


“ Ada orang kaya. Namanya Jhon. Dia melihat tukang parkir yang sedang asik main sosmed. Dia dekati pria tukang parkir itu. Nama tukang parkir itu Sam. Saya akan beri kamu uang USD 1 juta. Datanglah ke apartement saya, kata John sambil memberikan kartu namanya. Malamnya Sam datang ke rumah Jhon. Benar. Dia dapat uang USD 1 juta kontan di tas koper. Apa syaratnya? tanya Pria itu. John engga bilang apa apa. Dia hanya bilang, ambilah.” Kata saya.


“ Wah malaikat ya Jhone itu. Pasti Allah kirim malaikat untuk Sam yang sholeh” Kata Oma.


“ Mama tahu apa yang terjadi setelah dapat uang?


“ Apa?


“ Tukang parkir itu berhenti kerja. Dia bergaya seperti orang kaya. Dia beli baju, sepatu, dan kendaraannya, memang milik dia. Itu semua di photo dan upload ke Istagram. “


“ Kok engga buat usaha uang segitu?


“ Sam itu mental miskin ma. Semangat juang rendah tapi selalu bermimpi jadi orang kaya. Setiap hari ada saja photo dia upload. Itu cara dia menutupi kelemahannya. Semua photo itu menunjukan Sam orang kaya. Tapi lama lama uang habis. Jhon tawarkan uang lagi. USD 1 juta lengkap dengan fasilitas liburan di villa di kepulauan pasifik dengan jet pribadi. Semua kemewahan itu tentu dia tampilkan di istagram. Bahkan video kemewahan itu dia upload ke Youtube. “


” Wah keren”


“ Orang terkesima. Lama lama follower nya di istagram dan Youtube makin banyak. Jutaan dah. Lama lama orang mulai kepo. Apa sih kerjaan Sam. “


“ Nah loh. Apa kata dia.”


“ ya dia jujur aja, bahwa dia dapat uang dari seseorang. Tapi orang banyak tidak percaya. Mana ada zaman sekraang orang mau beri uang untuk kemewahannya. Rasa kepo ini, mendorong rasa ingin tahu wartawan. Diam diam wartawan ikuti kemana Sam pergi. Satu saat Sam habis uang. Dia pergi ke apartement John. Seperti biasa, dia pulang dapat uang satu koper. Wartawan tanya. Apa isi tas itu. Sam bilang uang. Dia perlihatkan uang itu ke wartawan. Wartawan tidak tanya lagi.


“ Terus..”


“ Wartawan mulai selidiki siapa john itu. Oh ternyata John itu pemain di wallstreet. Besoknya wartawan buat cerita. Bahwa kekayaan Sam karena dekat dengan fund manager di Wallstreet. Namanya John. Sebulan kemudian John, buat program investas lewat internet. Bahasanya terkesan keren tetapi tetap saja itu money game. Orang ramai tertarik ikut dalam program itu. Mereka semua bermimpi ingin kaya mudah seperti Sam dan Afiliator itu. Kalau persepsi orang sudah terbentuk.  Apa itu program investasi.? Tidak penting lagi.  Tai kucing aja tetap dipercaya. Apalagi ada bumbu trading canggih. Makin hot.


Tapi Jon tidak meladeni. Dia hanya memberikan kesempatan kepada investor terbatas. Akhirnya datanglah 4 investor terbatas. Mereka tidak ada uang. Mereka buat sistem afiliator untuk menarik uang dari masyarakat yang ingin kaya seperti Sam. Setelah uang terkumpul mereka berinvestasi pada John. Kontrak semua legal. Akhir cerita. Uang investor semua habis. Alasan kalah atau rugi. Engga bisa dituntut. Karena akadnya bukan hutang tetapi investasi. Dah gitu aja.” Kata saya.


Oma terdiam cukup lama. Akhirnya Oma ngomong. “ Jadi hanya karena Sam, orang banyak ingin semua jadi kaya seperti Sam. Orang berprasangka sangat baik kepada John karena media massa. Dan Jon dapat uang banyak karena afiliator. Dan afiliator itu yang rajin bercerita tentang kemewahan hidup Sam dan termasuk dirinya sendiri. Semua berkat Jon. Sementara Jon diam saja.  Mungkin dia ketawa ngakak melihat kebodohan berjamaah.


“ Ya itu akibat kepoan. Lupa mengukur diri. Orang kaya seperti Jon itu jangankan uang, dosapun kita pinjam dia engga mau. Jadi kalau dia beri uang , itu pasti ada agendanya. Engga gratis. Hanya orang bego dan rakus yang percaya.” kata saya. Oma tersenyum  dan dia tertidur. Duh tangan saya jadi bantal lagi. Bakalan semutan bangun pagi.

No comments:

Pride mereka ada pada uang.

  Wenny , Risa, Yuni, Florence adalah sahabat saya. Mereka juga sehat. Tidak ada penyakit yang mereka tanggung. Walau usia mereka diatas 50 ...