Tuesday, April 06, 2021

Kapitalime agama.

 






Samad kecewa dengan kehidupan yang penuh dengan kemaksiatan. Dia bertekad menjauh dari hiruk pikuk kehidupan dunia transaksional serba kapitalis. Kehidupan penuh korup. Politisi yang hipokrit. Dia ingin mencari Tuhan.  Lewat tafakur dalam kesunyian. Pergilah dia ke sebuah desa yang jauh dari kota. Pagi hari dia masih mendengar burung berkicau. Embun yang menetes jatuh dari dedaunan. Hamparan hijau yang membuat hati dan pikirannya tenang. Ah ternyata untuk bahagia itu tidak perlu mewah. Tuhan memberikan mata dan hati. Alam menterjemahkannya untuk kebahagiaan manusia.


Untuk hidupnya, dia beternak ayam. Tetangga jauh datang. Mereka memberinya seorang pembantu wanita. Wanita muda yang tak cantik rupawan. Bibir sumbing. Sepertinya keluarga wanita itu hanya ingin melepas beban dari putrinya yang cacat dan tidak ditengok pria. Samad senang. Apalagi keluarga perempuan itu menghadiahinya sepasan kambing. Kebaikan dan kemudahan selalu datang dari ketulusan dan iman. Itulah yang tidak ada dalam dunia kapitalis. Pikir Samad.


Berjalanya waktu, ternak kambing semakin banyak. Wanita itu sangat telaten menjaga kambing kambing itu. Samad hanya asik dengan dunia tafakurnya. Tapi saat itu juga Samad jatuh cinta kepada wanita itu. Mereka menikah. Keluarga wanita itu senang. Peternakan semakin maju. Samad jadi orang kaya. Diapun membeli lahan lebih luas untuk pertenakannya. Istrinya dia bawa ke dokter bedah plastik. Bibir sumbing berubah jadi bibir manis. Buruk rupa berubah menjadi cantik.


Kecantikan istrinya juga mengubah tabiat istrinya. Dia mulai berpikir. Bagaimana mungkin dia bisa hidup bersama pria gaek di kampung bersama kambing kambing bau. Suatu waktu, istrinya pergi ke kota dan tidak kembali lagi. Samad tinggal bersama tiga orang putrinya. Dia juga tidak peduli istrinya pergi. Hartanya banyak. Belakangan di lahannya ditemukan zeolit. Ada investor kota yang ingin mengolahnya. Mengajak Samad kerjasama. Samad menolak. Dia lebih suka menjualnya. Dia tidak perlu berpikir jauh. Usianya tidak muda lagi. 


Kekayaan yang datang mudah. Membuat pride dan kesombongan mudah bangkit. Samad menikah lagi dengan wanita cantik rupawan. Apapun keinginan istrinya dia penuhi. Dia berharap suatu saat istri pertamanya datang dari kota. Melihat kehidupannya lebih bahagia dengan wanita cantik tampa operasi pelastik. Tapi istri pertamanya tidak pernah datang. Ketiga anaknya tumbuh dewasa, juga hidup hanya bersenang senang. Sampai hartanya habis, istri yang baru 5 tahun dinikahinya,  pergi begitu saja ke pria lain. Ketiga anaknya pergi ke kota. Samad seorang diri dalam kemiskinan. Namun dia masih ada rumah.


Samad mulai mencari Tuhan di masjid. Dari sana dia tahu arti berjihad. Namun sebenarnya dia berharap sorga yang too good to be true. Kekalahan di dunia ada pembenaran. Orang beriman dan beramal soleh tidak butuh dunia. Karena sorga jauh lebih baik. Samad menjual rumahnya untuk disumbangkan bagi gerakan jihad. Samad terpaksa tinggal di Masjid. Namun akhirnya orang mengusirnya. Masjid tidak untuk menampung tunaswisma. Tetapi untuk menyembah Tuhan. 


***


Samad kembali ke kota jadi gelandangan. Tua dan miskin. Tak ada lagi orang yang mengajaknya berjihad. Ketiga anaknya yang perempuan jadi pelacur di kota. Demikian Samad termenung di pojokan pasar. Samad berusaha menghindari kapitalisme. Pergi menyepi di sebuah dusun. Itu bukan karena dia benci kapitalisme. Mengutamakan agama. Tetapi kalah bersaing. Ketika kemudahan dan kemakmuran dia dapat. Dia mulai loba karena laba. Istri buruk rupa diubah jadi cantik dengan uangnya. 


Istrinya yang buruk rupa mau bekerja dan menikah dengan Samad. Itu juga karena merasa kalah dengan kapitalisme. Tetapi ketika dia mendapatkan kesempatan, dia loba. Samad pun dia tinggalkan. Ternyata fantasi bersama pria yang dia cintai jauh lebih besar daripada Samad yang berstatus sebagai suami. Dari koran bekas yang ada di emperan toko. Samad membaca berita. Seorang wanita berusaha ingin meledakan gereja. Belum sempat lakukan. Dia tertangkap. Wanita itu tergoda dengan pria, bukan karena harta dan kegantengannya. Tetapi karena magic word.  Wanita itu adalah  mantan istri pertamanya.


Pituah dan narasi agama memang lebih mudah menjerat orang yang kalah akibat kapitalisme. Akan lebih mudah lagi ketika fantasi too good to be true hidup senang tampa kerja itu ditawarkan.  Sorga jadi fantasi yang menggoda untuk jadi teroris. Samad sadar bahwa dia, korban kapitalisme agama. Istrinya korban kapitalisme agama. Tidak ubahnya dengan ketiga putrinya yang juga korban kapitalisme. 

Namun setidaknya ketiga putrinya tidak sebodoh ayah dan ibunya. Karena mereka menjual “ asetnya” dengan uang. Bukan dari fantasi too good to be true sorga. Mereka berani hidup. Ketiga putriya berproses karena berkah kehidupan. Samad sebetulnya takut bersaing karena loba, itu sebabnya dia mudah jadi predator kapitalisme agama. Mantan istrinya, sebetulnya takut hidup makanya dia berani mati. Keduanya tetap saja korban kapitalisme agama. Membuat segelintir orang kaya dari donasi dan narasi. Kemurnian agama? itu omong kosong!


No comments:

Wahyu dan Zaman

  Wahyu yang selama ini dikenal dan dipahami oleh umat Islam berbeda dengan fakta dan klaim sejarah. Karena wahyu yang absolute hanya saat w...