Thursday, November 19, 2020

Khilafah bukan solusi...

 



Pendahuluan.

Nabi Muhammad punya tiga putra. Dua dari istri pertamanya, khadijah. Satu dari Istri, Mariah Qibtiyah. Tetapi takdir bagi ketiga putra Rasul itu tidak berumur panjang. Dua putra dari istrinya Khadijah yaitu Abul Qasim, meninggal dalam usia dua tahun. Abdullah, meninggal dunia setelah lahir beberapa hari. Sementara dari istrinya Mariah Qibtiyah, putranya bernama Ibrahim meninggal dalam usia 16 bulan. Seandainya ketika Nabi Muhammad wafat punya putra yang ditinggalkannya , sejarah khilafah 4 mungkin tidak akan pernah ada. Artinya, dengan tidak adanya putra nabi penerusnya maka sumber fitnah dikemudan hari terhadap Islam tidak terjadi. Tidak akan ada orang mendewakan keturunanya dan bahkan mengangkatnya sebagai nabi atau imam besar. 


Mengapa ?


Secara budaya Arab atau penganut adat patriakat, garis keturunan itu ada pada pria, bukan wanita. Hasil penelitian Genetika diabad modern sekarang, memang membuktikan bahwa meski anak mewarisi DNA dari ayah dan ibu, namun GEN  ayah lebih dominan. Itu sudah dibuktikan dalam riset Genetika yang dilakukan oleh team  University of North Carolina’s School of Medicine. Bahkan penelitian yang dilakukan Corry Gellatly dari Newcastle University, ternyata Sperma laki-laki menentukan jenis kelamin bayi. Jadi kalau boleh disimpulkan prialah pembawa dan penentu faktor keturunan.  


Lantas mengapa ada orang mengatakan dia keturunan Nabi Muhammad, bahkan meng claim mereka sebagai cucu Nabi? Fakta sejarah yang ada adalah Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husein, yang adalah keturunan Sayyidah Fathimah Azzahra yang merupakan putri Nabi yang bersuamikan Ali Bin Abi Thalib. Nah ini disebut dengan keturunan jalur Nasab. Padahal jalur Nasab ini secara genetik bukanlah keturunan Nabi tetapi Ali Bin Abi Thalib.  


Tapi ada juga yang tidak ada kaitanya dengan Fatimah namun mereka dianggap sebagai pewaris Nabi. Siapa mereka itu? ya para ulama besar, yang selain alim juga mengamalkan ilmunya. Ini disebut dengan jalur sebab. Argumen bahwa para ulama itu sebagai pewaris Nabi ada banyak hadith dan Al Quran yang menerangkan itu. Setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa dianggap Habib dengan cara mengikuti jejak perilaku Nabi khususnya akhlak beliau, seperti jujur, berprasangka baik, tidak melakukan perbuatan maksiat, tidak membukan aib orang lain dan tidak mencampuri urusan orang lain, hospitality atau ramah, mengerjakan amar ma’ruf nahi munkar tetapi dengan cara yang ma’ruf. Kalau tidak, dia bukan siapa siapa. 


Nabi memang sang messenger atas lahirnya Islam, yang kemudian hari melahirkan dinasti besar di bawah panji Islam. Namun tidak ada hubungannya dengan keluarga Nabi. Keagungan Rasul dan Islam tidak ternoda dengan drama politik kekuasaan yang membawa Panji Islam. Bagaimanapun itu bukan islam. Itu tetaplah politik yang bisa saja menghalalkan segala cara.  Dalam sejarah Islam, cucu Nabi bernama Hasan meninggal karena diracun oleh lawan politiknya. Adiknya Hasein meninggal di Padang Karbala oleh pasukan Yazid bin Muawiyah. Bahkan menantu Nabi Ali Bin Abi Thalib , ayah dari Husein dan Hasan meninggal karena dibunuh  Abdurrahman bin Muljam, seorang kaum Khawarij, ketika ia sedang wudu untuk menunaikan salat Subuh.  Yang membunuh keluarga Nabi juga orang islam. Yang menginginkan kekuasaan atas nama Islam. Tapi itulah politik.


Kekhalifahan Umayyah.

Sejak kekhalifahah Ali bin Abi Thalib, situasi politik memanas. Terutama datang dari keluarga sahabat Nabi dari Bani Umayyah yang juga berambisi menjadi khalifah. Dalam catatan Al-Hamid Al-Husaini ( Dalam buku, Al-Husein bin Ali, Pahlawan Besar dan Kehidupan Islam pada Zamannya-1978), kebencian Muawiyah terhadap Ali bin Abi Thalib dilatari tiga hal: Pertama, fanatisme kekabilahan yang secara turun-temurun menanamkan kebencian dan permusuhan terhadap orang-orang Bani Hasyim (Ali bin Abi Thalib keturunan Bani Hasyim). Kedua, karena Muawiyah tahu bahwa dalam peperangan masa lalu antara kaum Musyirikin Quraisy dan kaum Muslimin, banyak keluarga dan kerabatnya yang tewas di ujung pedang Ali bin Abi Thalib. Ketiga, Muawiyah mengenal tabiat Ali bin Abi Thalib sebagai sahabat Nabi yang keras membela kebenaran dan keadilan serta berani bertindak tegas terhadap kebatilan dan kezaliman. Saat itu Muawiyah berkedudukan sebagai gubernur di Syam atau Suriah.  Pada subuh Ali sedang sholat, datanglah Abdurrahman bin Muljam, seorang kaum Khawarij membunuh Ali Bin Abi Thalib.  Sebelum Ali minggal dia tidak mengamanahkan kekuasaan kepada siapa. Jadi tidak ada suksesi yang dia tentukan. 


Namun kaum Muslimin di Kufah sebagai pusat pemerintahan Islam membaiat Hasan bin Ali atau putra dari Ali bin Abi Abi Thalib.  Hasan awalnya menolak baiat itu. Namu karena didesak rakya kuffah, akhirya dengan berat hati dia menerima juga. Selama dua bulan kekuasaannya dia tidak berbuat apa apa.  Bahkan ancaman dari Muawiyah bin Abu Sufyan tidak ditanggapi serius olehnya. Hasan justru mengirim surat kepada Muawiyah untuk rekonsiliasi. Namun ditolak oleh Muawiyyah. 


Dalam surat balasannya Muawiyyah  yakin jika ia lebih sanggup menjadi khalifah daripada Hasan karena lebih tua dan berpengalaman. Ia bahkan menyuruh Hasan untuk mendukung dirinya sebagai khalifah. Tidak sampai disitu saja. Muawiyah juga menyatakan berontak kepada Hasan. Ia  membawa pasukannya yang besar dari Syam menuju Kufah untuk menggulingkan Hasan. Hal ini dihadapi oleh Hasan dengan menyiapkan pasukannya. Namun prajurit dan penduduk Kufah tidak siap untuk bertempur. Bahkan panglima perang khalifah yaitu Ubaidillah bin Abbas berbalik mendukung pemberontak, Umayyah.


Dalam situasi tidak dapat dukungan militer dan elite politik, terpaksa khalifah mengajukan perdamaian kepada Muawiyah. Khalifah Hasan setuju menyerahkan kekuasaan kepada Muawiyyah. Itu kejadian dicatat sejarah pada 40 Hijrah. Hasan cucu Nabi lebih memilih melepaskan kekuasaannya demi perdamaian. Hasan keluar dari Kufah dan kembali ke Madinah. Sejak itu berdirilah Dinasti umayyah berpusat di Damaskus.  Setelah Umayyah wafat, kekhalifahan diserahkan kepada Putranya, Yazid bin Muawiyah. Walau Hasan sudah meninggal karena diracun oleh elite khalifah, namun masih ada Husen yang juga cucu Nabi.  Yazid tidak merasa aman sebelum Husen dan seluruh putra Ali dibunuh.


Sementara penduduk Kufah merasa kecewa dengan kepemimpinan Yazid. Mereka mengharapkan perubahan, dan harapan mereka ada Husein. Mereka mengirim utusan ke Madinah agar Husen datang ke kufah  untuk mereka baiat sebagai khalifah. Husen tidak serta merta percaya kepada kehendak penduduk kufah itu. Dia mengutus Muslim bin Aqil pergi ke Kufah untuk memperoleh keterangan yang pasti tentang keadaan yang sebenarnya. Tak lama setelah tiba di Kufah, Muslim bin ‘Aqil menulis surat kepada Husein yang isinya menginformasikan bahwa penduduk Kufah telah bulat untuk membaiat Husein sebagai khalifah.


Atas surat dari Muslim itu Husen memutuskan untuk berangkat ke Kufah.  Para sahabat dan keluarganya menasihati agar ia membatalkan niatnya berangkat. Namun Husen tetap dengan pendiriannya untuk berangkat. Tentu para sahabat dan keluarganya juga ikut mendampinginya. Sementara itu situasi terkini Kufah yang tidak diketahui oleh Husen adalah pencopotan Gubernur Kufah, Nu’man bin Bisyr dan digantikan oleh Ubaidillah bin Ziyad yang terkenal kejam. Muslim bin ‘Aqil ditangkap dan dibunuh pasukan Ubaidillah bin Ziyad. 


Dalam perjalanan sebelum tiba di Kufah, Husein mengutus Qeis bin Mashar As-Saidawiy untuk masuk kufah terlebih dahulu guna mengetahui situasi terkini.  Namun nahas, Qeis bin Mashar As-Saidawiy tertangkap Ubaidillah bin Ziyad dan pasukannya, lalu ia dibunuh.  Sebelum dapat kabar kematian Qeis, Husen sudah dapat kabar kematian Muslim bin ‘Aqil. Situasi kufah tidak lagi aman bagi dia dan rombongan. Pada 2 Huharram 61 Hijriyah sampailah rombongan Husen di Karbala.  Kehadirannya disambut oleh pasukan berkuda utusan Ubaidillah bin Ziyad yang dipimpin oleh Al-Hurr bin Yazid At-Tamimiy.  Pasukan infanteri yang berkekuatan 4000 orang dengan persenjataan lengkap dikomandani  oleh putra pahlawan perang Badar yaitu Umar bin Sa’ad bin Abi Waqqash. Sementara rombongan Husen hanya 72 orang; ; 32 orang prajurit berkuda dan 40 orang pejalan kaki, selebihnya terdiri dari anak-anak dan perempuan.


Pada 10 Muharam 61 Hijriyah atau 10 Oktober 680 Masehi,  terjadilah pertempuran yang tidak seimbang. Tepatnya adalah pembantaian dengan kejam. Putra Ali gugur adalah Ja’far bin Ali, Abdullah bin Ali, Utsman bin Ali, Umar bin Ali, Abbas bin Ali, Muhammad al-Ashgar bin Ali. Semua pria dalam rombongan itu dipenggal kepalanya. Mereka sahid, kecuali Zainal Abidin cucu dari Ali bin Abi Thalib berusia 11 tahun. Ia putra dari Husein. Ibunya bernama Shahrbānū, adalah putri raja Yazdigird, Kisra terakhir kekaisaran Persia. Bibinya merangkul dia erat erat. Seakan berkata kepada prajurit itu. “Kalian bunuh aku dulu kalau ingin bunuh ponakanku.” Akhirnya dia dijadikan tawanan dibawa ke Kufah. Kemudian dipindahkan ke Damaskus, Syria, dipertemukan dengan Khalifah Yazid. Saat bertemu dengan Khafilah. Bibinya memohon agar dia dibiarkan bebas, apalagi dia sedang sakit keras. Akhirnya Khalifah luluh. Membebaskan dia bersama Bibinya.


Pada zamannya, pengaruh dan kharisma Sayyidina Ali Zainal Abidin sangat kuat. Sehingga seorang khalifah pun mengkhawatirkan tahtanya. Ketika menggantikan ayahnya, Abdul Malik, sebagai khalifah, Walid sempat khawatir, jangan-jangan kharisma Ali Zainal Abidin mampu menggoyang tahtanya. Padahal Ali Zainal Abidin - cicit Nabi itu tidak pernah berambisi kepada kekuasaan. Dia selalu menghindari politik. Hidupnya sangat bersahaja layak seorang sufi. Dia sangat menjunjung tinggi sifat humanis. Baginya kecintaan kepada Allah adalah mencintai makhluk ciptaan Allah, termasuk hewan sekalipun.


Ali Zainal Abidin wafat di Madinah pada 18 Muharam 95 H / 713M. Waktu memandikan jenazahnya orang baru tahu pundaknya lebam, Ternyata itu akibat kebiasaanya memanggul gandum kerumah orang miskin tanpa ada orang tahu. Konon menurut sejarah, dia meninggal diracun oleh suruhan khalifah. Jenazahnya di kebumikan dekat makam sang paman, Sayyidina Hasan. Ia meninggalkan 11 orang putra dan 4 orang putri. Setelah peristiwa Karbala, praktis secara politik kekhalifahan Umayyah sangat kuat. Namun satu hal yang dilupakan oleh Umayyah bahwa mereka yang mencintai keluarga Nabi terus bertambah jumlahnya. Secara diam diam mereka membentuk golongan apa yang disebut denga Syiah. Setelah membesar terjadilah pemberontakan internal khilafah; pemberontakan di Makkah dan Madinah. Kemudian terjadi kerusuhan di Basrah. Diikuti kebencian yang membara di Persia, yang dipicu oleh permusuhan antar golongan. Keadaan ini tentu menggerogoti Pemerintahan Umayyah.


Apa penyebabnya ? Kekhalifahan mengandalkan kesetiaan atas dasar kesukuan. Prajurit berasal suku yang setia kepada khalifah. Akibatnya suku lain terutama Persia atau non Arab merasa diperlakukan tidak adil. Pada waktu bersamaan sistem pengelolaan pemerintahan yang korup.  Pada 747 M, setelah membentuk sebuah koalisi besar kelompok-kelompok pemberontak,  Di bawah pimpinan Abu Muslim, seorang bekas budak berkebangsaan Persia, berhasil menguasai Persia selatan dan Irak. Memukul mundur pasukan Umayyah dari Kufah ke Khurasan.  Khalifah Umayyah terakhir Marwan II melarikan diri ke Mesir. Ia kemudian tertangkap dan dibunuh. Berakhirlah Dinasti Umayyah pada 750 M yang terlah berkuasa selama 89 tahun.


Kekhalifahan Abbasiah.

Yang tampil sebagai Khalifah setelah jatuhnya dinasti Umayyah adalah Bani Abas yang juga keturunan dari paman Nabi.  Dia mendirikan Dinasti Abassiah. Naiknya Bani Abas ini berkat dukungan militan dari golongan Syiah. Makanya walau Abbasiah bermahzab Sunni namun mengakomodasi kelompok Syi'ah baik yang beretnis Arab maupun Persia. Setidaknya dengan runtuhnya Dinasti Muawiyyah, dendam golongan syiah terhadap muawiyyah yang membunuh keluarga Nabi tertunaikan sudah. Keturunan Nabi dari garis Ali yang memperistri Fatimah putri Nabi mendapatkan tempat istimewa. Makam Ali bin Abi Thalib di Najd dan Makam Husein bin Ali di Karbala semakin disucikan.


Dinasti Abbasiyah mencapai puncak kejayaannya ketika dipimpin oleh Khalifah Harun Al Rasyid yang merupakan Khalifah ke-5 dari dinasti Abbasiyah. Saat itu Perdana Mentri  (Wazir) dipercayakan kepada keluarga Barmak yang beretnis Persia yang berasal dari kota Khurasan. Saat itu ilmu pengetahuan, sain dan teknologi berkembang pesat. Berbagai ilmu yang berasal dari Yunani, India, dan China dipelajari,  kemudian dikembangkan dan dimoderenisasi. Banyak sekali temuan baru muncul di era ini. Sehingga Bagdad sebagai ibukota dikenal sebagai kota pelajar, karena para mahasiswa datang dari seluruh dunia.


Saat itu Bagdad juga menjadi kota industri, karena berbagai produk unggulan dibuat di tempat ini, di samping sebagai kota bisnis yang mengundang para pedagang dari berbagai negara datang ke tempat ini untuk mengadu nasib. Masa kejayaan bani Abbasiyah dilanjutkan oleh putra Harun bernama Al Makmun yang merupakan Khalifah ke-7 dari dinasti Abbasiyah. Pada masanya didirikan Baitul Hikmah (Rumah Kebajikan) yang mengoleksi buku-buku penting yang didatangkan dari seluruh dunia, kemudian diterjemahkan kedalam Bahasa Arab untuk dipelajari publik. Pada saat itu di Barat ilmu menjadi hak esklusif elite agama maupun politik, sementara rakyat terlarang untuk mempelajarinya.


Setelah era puncak kejayaanya, secara gradual dinasti Abbasiyah terus mengalami kemerosotan. Dimulai dari masa khalifah al-Mustakfi yang menjadi khalifah pada 333H atau  944M. Apa penyebabnya ?Perebutan kekuasaan oleh elite kerajaan. Dan timbulnya permusuhan rakyat yang dikarenakan perbedaan mazhab. Konflik ini terjadi diantara pengikut mazhab Hambali dan mazhab Syafii. Akibatnya timbul perselisihan di dalam furu’ syari’at, ini menyebabkan sesat menyesatkan dan kafir mengkafirkan.  Juga terjadi pemberontakan wilayah taklukan. Sebagai catatan di era Khalifah Umar Bin Khatap banyak wilayah yang sudah menandatangi perdamaian dengan kekusaaan islam di Madinah. Namun oleh Dinasti Abassiah mereka dianeksasi untuk menjadi wilayah koloni.


Keadaan ini semakin melemahkan dinasti.Pada saat itulah serangan datang dari Dailam, salah satu daerah koloni Abassiah. Dailam berada di dekat Laut Kaspia. Daerah ini terkenal sebagai daerah perang. Salah satu kaum yang menyebabkan seringnya terjadi peperangan adalah Bani Buwaih, berasal dari kaum keturunan campuran dari bangsa Turki dan Iran. Mereka terkenal kuat, keras, dan pandai berperang.  Tidak terjadi pertempuran. Khalifah memilih jalan damai. Kekuasaan khalifah dalam hal memimpin wilayah kedaulatan Abbasiyah dilucuti. Dia hanya jadi boneka. Kekuasaan  sebenarnya adalah Ahmad ibn Buhaihi.  Dengan demikian walau secara formal khalifah Abassiah masih berkuasa namun secara defacto Dinasti dari keluarga Abassiah sudah berakhir.


Setelah bani Buaihi berkuasa dalam beberapa waktu. Datang serangan dari Bani Saljuq yang akhirnya menggantikan Bani Buaihi. Khalifah berpindah ke Bani Saljuq. Lalu tibalah ke khalifah terakhir yang berkuasa di Baghdad yaitu zaman al-Musta’shim. Pada saat itu terjadi serangan dari bangsa Mongol. Hal ini karena dinasti Khwarezmia (  Islam Sunni ) yang berasal dari mamluk Turki dan menguasai Iran Raya, tumbang oleh serangan pasukan Mongol.  Padahal Khwarezmia merupakan benteng yang kuat antara Mongol dan Abbasiyah. Runtuhnya dinasti ini menyebabkan tidak ada penghalang lagi antara Mongol dan Abbasiyah.


Pada februari 1258 pasukan Mongol berhasil memasuki perbatasan kota Baghdad. Mengepung seluruh kota dan bersiap memulai penghancuran. Surrender or die. Kemudian Khalifah mengirim delegasi menghadap Hulagu Khan dengan membawakan bermacam-macam permata mahal sebagai tanda menyerah. Akan tetapi tak sebutirpun permata diambil oleh Hulagu, tetapi diberikannya kepada komandan pasukannya. Melihat negerinya akan jatuh, khalifah al-Musta’him meminta izin untuk menghadap kepada Hulagu Khan. Khalifah diminta agar menunggu kedatangannya di Pintu Keliazi, salah satu pintu kota. Setelah itu masuklah tentara mongol kedalam kota. Mereka merampas dan membantai siapapun yang di hadapannya.Menghancurkan berbagai macam peradaban dan pusaka yang telah dibina selama ratusan tahun. Buku-buku yang dikarang oleh para ahli selama ratusan tahun ini diangkut dan kemudian dihanyutkan ke dalam sungai Dajlah, sehingga air sungai berubah warnanya menjadi hitam karena tinta yang telah larut ke dalam air.


Pada tahun 1258 M, setelah kota peradaban yang melambangkan masa keemasan Islam ini hancur lebur, Hulagu Khan beserta pasukannya keluar dari kota tersebut untuk melanjutkan serangannya ke negeri-negeri yang lain. Khalifah dan anak-anaknya serta pengiringnya dibawa sebagai tawanan. Di awal perjalan diperintahkannya membunuh khalifah itu beserta anaknya, sementara 6 orang budak dikebiri. Akhirnya pupuslah keturunan Khalifah Bani Abbasiyah dan hancurlah kerajaan yang telah berkuasa selama 542 tahun itu..


Kekhalifahan Usmani.

Dinasti Abbasiyah langsung hancur dengan jatuhnya Bagdad. Tetapi masih ada dinasti islam lain yaitu Turki Seljuk yang kekuasaannya membentang dari Asia Tengah sampai Anatolia (Turki bagian Asia) termasuk wilayah Timur Tengah bagian Utara, dan dinasti warisan bani Umayyah di Andalusia (Spanyol dan Portugis saat ini). Walaupun sebagian besar wilayahnya disapu oleh tentara Mongol, akan tetapi Turki Seljuq masih mampu bertahan dan mengendalikan kekuasaan atas wilayahnya yang tersisa dari Konya. 


Akibat serangan Mongol, suku Turkistan yang beragama islam yang ada  di Utara Khurasan, menyebar ke Anatolia, ke sebelah Barat Iran dan utara Iraq. Diantara suku Turkistan itu ada suku kecil bernama suku Kayi. Semula mereka tinggal di sebelah Utara negeri Cina selama tiga abad. Karena adanya serangan-serangan Mongol, mereka pindah ke daerah Barat mencari tempat pengungsian di Asia kecil tempat saudara-saudara mereka, yaitu bangsa Turki Saljuq. Pemimpinnya bernama Sulayman Sah. Dia membawa sukunya pindah ke Anatolia. Untuk menghindari serangan Mongol. 


Sebelum sampai di Anatolia, Sulaiman mendengar kabar bahwa ancaman Mongol sudah mereda. Ia mengalihkan perjalanan ke Negeri Syam. Namun malang. ia mendapat kecelakaan. Hanyut di sungai Euphrat, yang tiba-tiba pasang karena banjir besar tahun 1228. Mereka akhirnya terpisah menjadi dua kelompok. Kelompok pertama pulang ke negeri asalnya, dan kelompok kedua berjumlah sekitar 400 keluarga dipimpin oleh  Ertuğrul , anak Sulaiman melanjutkan perjalanan ke Anatolia. Ertugrul terus bertahan dan melawan tentara Mongol dengan cara gerilya. Sambil terus bergerak dari Merv di Turkistan ke arah Barat sampai ke Anatolia  (Turki Timur). Nahasnya dari arah Barat, dunia Islam diserang oleh Tentara Salib. Bahkan tidak jarang terjadi kerjasama antara tentara Mongol dengan pasukan Salib untuk menaklukan umat Islam. Karena itu tentara Islam menjadi terjepit di tengah-tengah. Kebetulan saat mereka datang, pasukan Sultan Saljuq ( Sulthan Allaudin Kaikubad)  sedang berperang dengan Romawi. Kedatangan mereka menambah kekuatan Sultan Saljuq. Perang dengan Romawi dimenangkan oleh Sultan Saljuq.


Berkat prestasinya, Sulthan Allaudin Kaikubad yang berkuasa di  Konya kemudian mengangkat Ertugrul sebagai Kepala sejumlah kabilah Turki yang berada di wilayah itu.  Selain itu memberikan hadiah sebidang tanah di Karaca Dag dekat pegunungan Angors (Ankara) yang subur yang berada paling Barat dari wilayahnya, untuk ditempati Erthugrul dan sukunya secara permanen. Dengan berada di lokasi ini, Kabilah Kay yang dipimpin Ertugrul diharapkan menjadi benteng  penjaga wilayah perbatasan kekuasaan Turki Seljuq di sebelah Barat, yang berbatasan langsung dengan wilayah Bizantium yang dikendalikan dari Konstantinopel (kini Istanbul).


Dengan dukungan Sulthan Allaudin, Erthugrul dan pasukannya bukan hanya mampu mempertahankan wilayah perbatasan. Ia terus mengadu taktik dan bertempur melawan tentara Salib, sehingga wilayah yang dikuasai Kesulthanan Turki Seljuk dari waktu ke waktu bertambah luas ke arah Barat. Saat Kesulthanan Turki Seljuk berhasil dihancurkan oleh pasukan Mongol, menyebabkan kabilah-kabilah Turki kehilangan induk. Putra Erthugrul yang bernama Usman yang menggantikannya, kemudian mendeklarasikan Kesulthanan Turki Usmani yang dimaksudkan untuk meneruskan dinasti Turki sebelumnya. Keturunan-keturunannya melanjutkan ekpansi ke Bizantium sehingga berhasil menguasai wilayah Eropa. 


Kemudian di era khalifah Muhammad al-Fatih berhasil menaklukan kota Konstantinopel (857H). Nama Konstantinopel diubah jadi istanbul atau islam bul (kemunculan Islam). Di abad ke-15 sampai ke-17, Kekaisaran Turki Usmani berada pada puncak kejayaannya. Peradaban Turki Usmani sangat maju, mengalahkan kerajaan-kerajaan Eropa. Di masa kepemimpinan Sultan Sulaiman I (1520-1566), kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan perdagangan berkembang pesat. Namun setelah sang Sultan wafat, Turki Usmani mengalami kemunduran. Seperti peradaban hebat lainnya, Turki Usmani runtuh juga.


Dikutip dari Peradaban Turki (2019), ada beberapa faktor yang menyebabkan kemunduran Turki Usmani: Pengganti Sultan Sulaiman I tidak ada yang cakap dalam mengendalikan sistem pemerintahan. Pengangkatan bawahan tidak lagi didasarkan pada kemampuan mengatur daerah, namun pada perasaan suka atau tidaknya sang sultan. Korupsi merajalela dan gaya hidup berfoya-foya. Sikap ini menyimpang dari ajaran Islam. Terjadi pemberontakan pasukan bayaran yang membangkang. Selain disebabkan kesalahannya sendiri, ada faktor eksternal yang mendorong kemunduran Turki Usmani: Ancaman dari Dinasti Shafawi yang semakin kuat. Beberapa daerah di Semenanjung Balkan berturut-turut melepaskan diri dari Kekaisaran Usmani Kekalahan dalam perang melawan Rusia di abad ke-18


Kekalahan dan kemunduran ini membuat Turki Usmani dijuluki oleh negara-negara lain sebagai The Sick Man of Europe. Kondisi ini terus berlanjut hingga Sultan Hamid II naik tahta pada 1876. Pemerintahannya yang otoriter memicu munculnya pemberontakan. Gerakan Turki Muda dipimpin oleh Mustafa Kemal Ataturk. Ia juga didukung oleh tentara. Pada Juli 1908, Revolusi Turki Muda meletus. Revolusi itu berhasil menggulingkan Kekaisaran yang telah berkuasa 600 tahun. Turki berganti menjadi republik dengan Mustafa Kemal Ataturk sebagai presiden pertamanya. Setelah itu sampai kini tidak ada lagi kekuasaan islam seperti era Khilafah Umayyah, Abassiah dan ustmani. 


Hikmah sejarah

Setelah Nabi wafat, kekhalifahan melahirkan intrik politik yang selalu bau amis darah. Setiap lahir satu dinasti selalu darah tertumpah. Bukan dengan orang lain, tetapi sesama mereka juga. Dalam pengantarnya di buku Al-Husein bin Ali, Pahlawan Besar dan Kehidupan Islam pada Zamannya (1978), Hamka menerangkan jika dirinya ditanya akan berpihak ke mana dalam pertentangan yang terjadi pada masa lalu itu, maka ia mengungkapkan bahwa dirinya akan berpendirian seperti para ulama terdahulu seperti Imam Abu Hanifah, Hasan Al Bishri, dan Umar bin Abdul Aziz yang berkata, ”Itulah darah-darah yang telah tumpah, yang Allah telah membersihkan tanganku dari percikannya; maka tidaklah aku suka darah itu melumuri lidahku."


Dan selanjutnya dengan alasan agama, ambisi kekuasaan ekpansionis membuat mereka tidak pernah merasa puas. Seperti minum air laut. Perluasan wilayah tidak diikuti keadilan dan distribusi kemakmuran. Yang pasti makmur adalah ibukota , di Istana di mana sang khalifah dan keluarganya hidup bergelimang harta dengan ratusan selir. Pada akhirnya khilafah itu tumbang karena kehidupan dunia yang memabukan, korup dan intimidasi kepada mereka yang berbeda. Jadi khilafah bukan solusi membangun peradaban, tetapi perbaikan akhlak pribadi muslimlah sebagai solusi. Apapun sistem negara, akhlak itulah yang akan menjadi rahmat bagi semua.

No comments:

Rakus itu buruk.

  Di Hong Kong, saya bersama teman teman dari Jepang menikmati malam sabtu pada suatu private KTV. Para pramuria nya adalah profesional  ber...