Saturday, September 26, 2020

Menulis dengan hati


Waktu SMP saya sulit sekali membuat cerpen yang bisa menggugah orang. Ibu saya menasehati saya.  “Menulislah dengan hati”. Saya masih bingung, bagaimana sih menulis dengan hati. Kemudian ibu saya menyuruh saya membaca komik. Saya suka. Mengapa ? karena imajinasi saya terbantukan dengan adanya gambar. Kemudian, ibu saya mengatakan. Bagaimana kalau gambar itu kamu susun dalam bentuk tulisan. Ceritakan semua menurut imajinasi kamu apapun suasana, sedih, bahagia, kawatir, takut. Nah tanpa hati, penggambaran suasana itu tidak hidup. 


Kemudian saya mencoba menulis cerpen dengan diskripsi tentang tokoh dan suasana. Tetap saja gagal. Kemudian ibu saya mengataka bahwa manusia punya cara indah mengungkapkan suasana hati. Yaitu melalui metapora. Kalau kamu ingin menggambarkan cantiknya wanita. Contoh,“ Wajahnya bersinar seperti bulan. Bercahaya bagaikan berlian. Dagunya seperti sarang lebah bergantung. Juga bisa menggunakan personifikasi. Contoh, Pohon tertidur dalam dekapan musim dingin. Membawa pesan cinta bagi semua. Ada saatnya berhenti barang sejenak. Begitu Alam bertitah. Lantas bagaimana saya bisa mempertajam kemampuan mengolah imajinasi dalam bentuk metapora dan personifikasi? belajarlah menulis puisi. Kata ibu saya. Sejak SMP saya keranjingan menulis puisi.


Ada  cerpen yang saya tulis waktu SMP. Setelah saya merantau di Jakarta, tahun 1982  saya kirim cerpen itu  ke RRI dalam acara monolog. Saya masih ingat judulnya “ kereta terakhir”. Lucunya saya sendiri menangis mendengarnya. Karena suasana awal merantau dalam derita nestapa, cerpen “ kereta terakhir” itu membuat saya rindu ibu saya. Tetapi saya tidak ingin pulang gagal. Saya ingin membawa ibu saya pergi Haji. Kisah “ kereta terakhir “ itu membuat saya terpacu untuk bersemangat dalam derita dan tak kehilangan harapan. Ya menginspirasi saya sendiri. Tahun 1983 di Kebun Pala, Tanah Abang, saya sering mengintip latihan theater Koma asuhan Teguh Karya. Di situ  kemampuan imajinasi saya tentang dialogh dalam peran semakin tajam.


Menulis dengan hati, itu adalah dakwah untuk lahirnya perubahan lebih baik. Dalam bentuk prosa kita bebas bersatire tentang politik, agama, budaya, sosial dan ekonomi. Revolusi kebudayaan di China lahir dari panggung theater. Budaya kolot orang minang  yang mengutamakan harta dan Cinta dalam menetukan pilihan pasangan, dengan apik dibantah oleh Hamka dalam  bentuk kisah roman., “ Tenggelamnya Kapal van der Wijck. Bahwa harta dan cinta manusia bisa berubah. Tetapi cinta Tuhan abadi. Marah Rusli, dalam kisah “ Salah asuhan” sukses mengubah mindset orang Indoesia yang lebih suka kebarat baratan. Chairil Anwar, dalam puisi “ Kerawang-Bekasi, “Aku”  sukses mengubah takut menjadi euforia kematian demi membela negeri.


Tahun 2014 orang datang dari Medan khusus untuk bertemu saya. Sebelumnya saya tidak kenal. Mengapa? berkat baca kisah cerpen saya di blog, dia bisa berdamai dan kembali kepada istrinya. Diapun sadar kesalahannya dan minta maaf. Saya terharu ketika pasutri itu datang hanya ingin saya mendoakan mereka agar hidup rukun dan damai. Padahal usia mereka lebih tua dari saya. Ada anak yang merasa kecewa karena hidupnya susah . Dia merasa ibunya berlaku tidak adil terhadap dia. Dia datang menemui saya dengan bersimbah air mata. Itu karena dia membaca cerpen saya di blog. Dia datang bersama ibunya. Berdua mereka menangis di hadapan saya. Ada anak yatim yang sukses sebagai pengusaha karena terinspirasi dari tulisan saya. 


Mungkin dalam banyak hal saya tidak bisa mentunaikan apa yang saya tulis. Tetapi dengan orang membacanya, orang lain bisa mentunaikan. Di situlah kebahagian terjadi. Bahwa dengan segala keterbatasan, saya bisa menyampaikan pesan cinta Tuhan, tanpa harus menggurui dengan firman Tuhan. Karena kehidupan ini adalah rangkaian pesan cinta dari Tuhan. Masalahnya, bagaimana menyampaikannya dan membuat orang mau mendengar dengan hati. Tentu harus disampaikan dengan hati pula.


No comments:

Berbagi

  Sore jam 5 saya pulang ke rumah. Perut keroncongan.  “ Maaf. Kamu sudah makan ? Tanya saya ke supir taksi. “ Tadi siang sudah pak.” “ Bisa...