Thursday, July 23, 2020

Dalil Klepon dan Kurma


Ada orang berkata, dalil ini lebih tepat, yang lain salah. Begitu sikapnya dalam beragama. Kalau Klepon engga ada dalilnya, tapi kurma ada dalilnya. Walau tidak ada kata  Klepon haram atau kurma halal, namun dengan diksi seperti itu sudah jelas ingin menegaskan bahwa yang ada dasar dalilnya jauh lebih benar.  Padahal setiap manusia berdalil ( berteori) selalu berangkat dari persepsi yang sudah terbentuk lebih dulu. Sehingga hubungan sebab akibat yang ada dalam dalil bukanlah kebenaran sejati tetapi lebih kepada pembenaran. Artinya apapun dalil selalu cacat dan tidak pernah bisa disimpulkan sebagai kebenaran absolut. 

Mungkin anda bingung. Saya analogikan sederhana. Orang buta punya persepsi bahwa Gajah itu bentuknya panjang berjuntai. Demikian yang dia pahami. Dia raba kuping yang lebar, dia diamkan. Dia raba tubuh gajah yang bulat dan besar. Dia diamkan. Tetapi ketika dia raba ekor dan belalai, maka dengan  tersenyum dia katakan bahwa Gajah itu panjang berjuntai. Dalil nya mendapaktan pembenaran. Tetapi kalau bertemu dengan orang buta yang punya persepsi gajah itu bulat dan besar, pasti akan terjadi pertengkaran. Karena keduanya punya dalil yang kuat. Tetapi keduanya tidak menyadari bahwa mereka itu buta.

Beragama juga sama. Sejak Nabi wafat sekian abad lalu, kita sebenarnya buta terhadap kebenaran sejati tetapi atas dasar itulah kita beriman. Tetapi justru disinilah ketinggian nilai iman kita dibandingkan mereka yang hidup di era Rasul. Kita beriman secara buta. Cinta kita kepada Rasul cinta orang buta, sama seperti Cinta kita kepada Allah, cinta buta. Apa yang kita pahami tentang hadith itu sebagai dasar berdalil, adalah kitab yang disusun oleh Bukhari muslim  2,5 abad setelah Nabi wafat. Dalam sejarah, Bukhari hanya mewawancarai orang yang ada hubungan dengan keluarga atau sahabat Nabi. Artinya buyut mereka pernah hidup di zaman Nabi. Mengapa tidak ada referensi asli ? Setidaknya dalam bentuk artefak yang bisa dijadikan rujukan. ? Ya engga mungkin. Karena rentang waktu 2,5 abad engga pendek. Apalagi belum ada tehkhnologi data processing dan metodhe survey &riset.

Bukankah hadith itu selalu ada kisah pengantar atau asbāb al-nuzūl yang jadi dasar penilaian kebenaran?. Demikian kata mereka. Pertanyaanya adalah siapa pengarangnya sejarah Nabi itu? Baik kita mulai dari catatan tentang pengarangnya. Pengarang islam tertua adalah Ibn ishaq, yang hidup 200 tahun lebih setelah Nabi wafat. Tapi itu juga katanya. Faktanya tidak ada artefak sebagai referesi tulisannya. Belakangan Ibn Hisyam menjadikan Ibn Ishaq sebagai referensi. Tapi dia sendiri tidak pernah bertemu dengan Ibn Ishaq. Ibn Hisyam mencari nara sumber dari orang orang yang tahu tentang tulisan Ibn Ishaq, dan ditambah dari nara sumber lain. Hasinya jadilah Sirah Nabawiyah. Secara metodelogi keilmuan, keabsahan sejarah itu patut dipertanyakan.

Manuskrip Alquran tertua di dunia yang ditulis diatas kulit binatang ada di Birmingham, Inggris. Uji radiokarbon atas manuskrip Quran di Birmingham menunjukkan bahwa Quran ini berasal dari era tahun 568 hingga 645, 13 tahun setelah Nabi Muhammad wafat. Uji ini dilakukan oleh tim dari Universitas Oxford yang mengatakan tingkat akurasi pengujian mereka sekitar 95%. Lantas apakah sama Al Quran yang di inggris ini dengan yang sekarang kita baca setiap hari. Apakah sama tulisannya? Apakah kita pernah tahu fakta artefak al quran asli yang sekarang ada di tangan kita?. Kalau ada. Apakah ada uji lab untuk memastikan Al quran itu memang berasal dari zaman Nabi ?

Apa yang saya katakan ini bukan bertujuan untuk meragukan keabsahan hadith, sejarah Rasul, Al Quran. Yang wahabi silahkan engga percaya dengan tafsir, tetapi jangan salahkan sunny yang percaya tafsir. Yang suni silahkan percaya sahabat nabi sebagai narasumber tapi jangan pula menyalahkan syiah yang lebih percaya kepada keluarga Nabi sebagai narasumber. HT silahkan dengan keyakinan khilafahnya tapi jangan salahkan Pancasila. Kalau tetap tidak yakin sistem negara ini sesuai dengan agama, pindahlah ke negeri lain yang dianggap sesuai dengan islam. Kalau ada orang berbeda agama, engga usah dihakimi dengan sebutan kafir. Anggap biasa saja.  Mengapa? karena apa yang kita ketahui sebagai referensi itu hanyalah konsepsi yang lahir dari sebuah persepsi yang sudah terbentuk sebelumnya. Jangankan menghadirkan Nabi sebagai narasumber , menemukan atefak sejarah era awal islam saja kita tidak bisa. Semua hanya katanya. Itu mau diributin? ya Bego lah.

Agama itu bukan untuk diperdebatkan soal salah atau benar. Tapi untuk diyakini saja. Mana yang paling benar? hanya ALlah yang tahu. Kita wajib menggunakan akal, tetapi tidak bisa melupakan iman. Kita ada di tengah, hati sebagai hakim. Kita perlu kaya secara jasmani tetapi juga engga boleh miskin rohani. Begitupula sebaliknya. Jadi kita ada di tengah tengah, antara jasmani dan rohani. Pemahaman beragama secara wasathiyyah inilah yang membuat kita tidak mungkin radikal. Outputnya selalu mendamaikan, karena buahnya adalah akhlak. Rezeki lapang, beribadahpun mudah. Yang jauh mendekat, yang dekat merapat. Agama pun jadi indah, karena ia menebarkan cinta bagi semua

No comments:

Dosa kolektif.

  Kalaulah kerajaan di Nusantara ini tidak membuka pintu kepada Inggris, perancis, pertugal, belanda  untuk datang berniaga, mungkin tidak a...