Thursday, March 26, 2020

Berebut hegemoni di tengah krisis.

Kemarin saya chat dengan banker di Eropa. Apa yang dia kawatirkan bahwa keadaan ekonomi dunia sekarang jauh lebih buruk dari krisis tahun 2008, bahkan lebih buruk dari krisis tahun 1929.  Apa itu.? Kalau tahun 2008 krisis terjadi di jantung kapitalis dunia wallstreet. Itu hanya masalah financial dan dapat diselesaikan lewat sistem mata uang. Namun saat sekarang akibat Covid-19, krisis terjadi di jantung kapitalis pabrik dunia, China, yang berdampak sistemik terhadap supply chain dunia. Terjadi penurun kapasitas produksi barang dan jasa secara besar besaran. Ketidak pastian dari sisi demand and supply yang terus memburuk. Semua bidang bisnis slowdown. 

Dampak yang mengerikan adalah akan terjadi gagal bayar utang korporat, yang tentu akan berujung semakin besarnya NPL perbankan. Dan memaksa bank harus menambah modal atau jatuh tersungkur oleh sistem perbankan itu sendiri. Sementara  untuk tambah modal sangat sulit. Karena pendapatan bank sebelumnya tidak begitu bagus akibat kredit longgar dan bunga rendah. Kalau tidak ada solusi maka akan terjadi PHK besar besar di seluruh dunia. Puluhan juta orang akan kehilangan pekerjaan. Jumlah orang miskin akan bertambah. Rasio GINI aka semakin melebar.

Pada saat sekarang sebagian mata uang dunia selain  USD dalam keadaan terpuruk. Bursa juga terpuruk dalam. Pertanyaannya mengapa ? Ini sederhana sekali. Kejadian ini sudah berlangsung sejak tahun 2018. Namun semua negara berusaha menutupinya dengan kebijakan pumping moneter.  Sejak adanya pandemi Virus Corona, tingkat kepercayaan yang dibangun oleh pemerintah tidak mampu menahan kepanikan publik akibat adanya pandemi virus corona.  Para fund manager hanya sibuk melayani permintaan dari clients untuk melakukan aksi jual di  pasar surat utang maupun bursa saham. Semua investor butuh uang tunai, engga butuh asset. Dampaknya sistemik sekali. Harga saham berjatuhan dan kurs berjatuhan. Tingkat yield surat utang semakin tinggi. Lantas kemana investor memidahkan uangnya? Ke T-Bill atau surat utang AS. Mengapa? padahal the Fed menurunkan suku bunga? Jawabannya sederhana. 

Pertama, orang butuh rasa aman. Dengan penguasaan ekonomi 20% terhadap PDB dunia, AS memang masih merupakan tempat teraman menyimpan uang. Sementara negara lain masih menghadapi kendala serius akibat memiliki populasi besar, infrastruktur publik yang relatif lemah, dan keuangan yang rapuh akibat hutang yang tinggi serta semakin melebarnya defisit anggaran dan neraca perdagangan. Semua itu semakin terparah dengan ketidak siapan negara menghadapi pandemi virus corona, dengan implikasi yang luas secara sosial, politik dan ekonomi.

Kedua, kemungkinan besar The fed juga akan mengeluarkan kebijakan Lines SWAP kepada beberapa bank Central mitra utamanya seperti Bank of Japan, Bank of England, Bank of Canada, Bank of Canada, ECB , dan Bank Nasional Swiss. Dengan adanya Lines SWAP ini memungkinkan bank central bisa menyuplai kebutuhan dollar perbankan. Sehingga dapat dipastikan likuiditas kredit dollar kembali mengalir. Dunia usaha akan bangkit kembali. Rencananya kebijakan ini akan diperluas kepada negara mitra lainnya seperti Korea, dan Turki, namun tergantung kesekapatan dengan washington. Kalau indonesia bisa masuk dalam forum washington, mungkin akan aman dari kejatuhan kurs.

Ketiga, the Fed juga kemungkinan akan memberikan fasilitas Repo kepada bank central negara mitra. Ini solusi mengantisipasi semakin seretnya likuiditas. Caranya sederhana saja. Investment banker memberikan pinjaman  kepada perusahaan dalam bentuk T-Bill, yang akan dikembalikan pada kurun waktu tertentu dengan harga yang disepakati lewat perjanjian REPO. Dan T-bill itu oleh perusahaan dijual ke pasar uang untuk mendapatkan uang tunai. Itu sangat efektif dan efisien daripada menerbitkan reksadana atau obligasi yang belum tentu diminati oleh investor.  Kalau T-bill jelas diminati. Andaikan investor terbatas daya serapnya, the fed akan membeli sendiri T-Bill itu.

Bagaimana the Fed mendapatkan uang tunai untuk  operasi REPO itu? gampang saja. Pemerintah AS menerbitkan T-Bill dan pembelinya adalah the Fed. Oleh pemerintah AS uang hasil penerbitan T-Bill tersebut ditempatkan di rekening mereka yang ada di the Fed untuk digunakan membiayai REPO. Skema ini dikenal dengan istilah quantitative easing. Artinya AS mencetak uang bukan karena kelebihan cadangan tetapi karena sistem mata uang.

Dengan tiga hal itu maka AS akan jadi leading di dunia dalam mengatasi krisis ekonomi global. Kalau tadinya, banyak negara kabur dengan kebijakan AS dalam hal recovery ekonomi namun sekarang engga ada pilihan daripada gagal bayar utang dan ekonomi stuck. Masalahnya suka tidak suka , dunia terjebak dengan penyelesaian tidak berdasarkan sistem real tetapi dari sky.  Dampaknya GAP kaya miskin di negara berkembang dan negara maju akan terus melebar. Masalah ketimpangan negara kaya dan miskin semakin melebar. Bagaimana dengan negara miskin? IMF dan World bank diwajibkan mengurus keterpurukan negara miskin tentu dengan skema penyesuaian yang prokolnya ditetapkan oleh IMF.

Namun upaya AS itu sekarang dibayang bayangi oleh China yang juga berusaha menggandeng negara negara lain untuk bergabung dengan skema Lines SWAP dalam mata uang Yuan.  Sejak tahun 2008, PBC ( People bank of China)  telah membentuk jaringan swap sendiri memasok renminbi, bukan dolar. Sejak 2008, kegiatan China di luar negeri telah berkembang secara dramatis dan, seperti bisnis pasar berkembang lainnya, mereka banyak memberikan meminjam dalam mata uang Amerika. Bank central China juga punya cadangan dolar yang sangat besar tetapi dalam bentuk surat utang AS. Sementara AS tidak punya cukup cadangan mata uang Yuan. Disamping itu mata uang Yuan juga bisa di SWAP dengan emas di Bursa shanghai. Yuan jelas punya daya tarik tersendiri, bukan hanya karena kekuatan ekonomi China tetapi skema yang fleksibel dan transparan.

Yang jadi masalah tersendiri bagi AS dalam bersaing di pasar SWAP adalah AS tidak punya stok cukup mata uang Yuan, sementara Cina punya dollar besar. Sehingga dalam hal menarik negara mitra , China lebih unggul di pasar SWAP. Belum lagi mitra dagang China sangat luas karena China hampir punya semua industri untuk menghasilkan kebutuhan negara mitranya di seluruh dunia. Sementara industri AS tidak cukup mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri apalagi dunia.

Harapan semua pihak adalah bagaimana AS dan China dapat melihat persoalan dunia ini dengan kacamata kemanusiaan dan tidak mempolitisir krisis ekonomi dan virus corona untuk tujuan hegemoni.  Mungkinkah?

***
Akibat rupiah melemah melewati batas psikologi, banyak pengamat dan oposisi mengatakan sebaiknya Jokowi mundur. Menurut saya ungkapan pengamat ini tidak berdasar. Itu menandakan mereka tidak memahami dampak dari COVID 19 terhadap perekonomian dunia yang sedang berada di tengah tengah krisis. Sejak tahun 2008 krisis ekonomi belum begitu pulih. Setiap negara bergelut dengan masalah bagaimana bisa bertahan dan tumbuh ditengah ketidakpastian demand and supply.

Tahun 2018 perang dagang melanda. Upaya recovery semakit sulit menemukan jalan keluar. Dipenghujung tahun 2019, Virus corona melanda China dan masuk tahun 2020 februari akhir pendemi melanda dunia. Banyak negara tidak lagi focus kepada masalah ekonomi, tetapi beralih kepada bagaimana cara memenangkan perang terhadap virus corona. Kalau sekarang orang berdiam di rumah dengan alasan social distancing dan tidak belanja, produksi menurun. Itu bukan berarti aman. Akan ada ancaman serius setelah pandemi ini. Apa itu? resesi ekonomi terburuk dalam sejarah kapitalis. Karena ini bukan lagi krisis moneter tetapi krisis struktural.

Jadi kalau masih ada orang ribut mengkritik kinerja rupiah dan pada waktu bersamaan mengkritik penanganan wabah virus corona, itu menandakan mereka memang tidak paham situasi dunia sebenarnya. Yakinlah, saat sekarang modal utama negara di manapun di dunia adalah legitimasi kekuasaaan dan trust kepada pemerintah agar bisa melewati krisis. Italia yang sebelumnya mengalami krisis politik bisa berhenti dan berdamai. Krisis politik antara Irael dan Palestina, bisa berdamai. Krisis kekuasaan dan suksesi di Arab bisa berdamai. Turki dan Suriah bisa berdamai. Mengapa? negara di dunia butuh stabilitas politik untuk keluar dari resesi yang ada di depan mata.

Bijaklah. Hentikan dulu sahwat kekuasaan. Pemilu masih lama, dan persiapkan diri dengan baik, bukan melalui ocehan keberpihakan tetapi lewat bantuan sosial kepedulian kepada mereka yang menjadi korban terdampak dari adanya pandemi virus corona. Kalau tidak bisa bantu sebaiknya, DIAM! Ingat, hanya negara yang paling solid stabilitas politiknya yang bisa keluar dari resesi. Sementara negara yang tidak stabli politik nya, resesi ekonomi akan melahirkan pemimpin populis dan melempar orang ke tempat sampah mengais makanan sisa dan menjual anak wanita untuk sebungkus mie instant.

No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...