Saturday, February 15, 2020

Sikap Turki dalam berteman


Sikap Recep Tayyip Erdoğan
Mari kita bayangkan sebuah analogi sederhana. Andai terjadi pemberontakan di Indonesia. Indonesia menghadapi dua group. Pertama, grup yang ingin mendirikan negara Islam. Katakanlah ISIS. Kedua, grup oposisi, katakanlah Kadrun.  Grup kedua ini kebetulan didukung oleh AS dan Malaysia. Yang tujuannya menjatuhkan presiden Indonesia yang terpilih secara demokratis lewat pemilu. Kedua group ini melakukan pemberontakan serentak walau diantara mereka berlawanan dan berbeda tujuan. Pemerintah Indonesia diserang dari kiri dan kanan. Kemudian datanglah Rusia dan Iran membantu Indonesia. Tawaran juga datang dari AS dan Malaysia untuk membantu menumpas ISIS. Indonesia welcome saja.

Selama operasi penumpasan ISIS itu, Malaysia sempat sempatnya membantu grup kedua  untuk menguasai Riau dan menempatkan pemimpin disana. Tentu dihadapi oleh TNI. Perang terjadi. Akhirnya Rusia minta agar dilakukan gencatan senjata. Semua harus focus mengalahkan ISIS. Akhirnya ISIS bisa dikalahkan. Para pemberontak di Riau yang ingin memisahkan diri dari Indonesia, seperti anak ayam kehilangan induk. Mengapa? AS keluar dari Indonesia setelah ISIS kalah. Pemerintah Indonesia minta mereka menyerah dan kembali ke pangkuan ibu pertiwi. Para elite pemberontak akan dihukum. Rakyat yang mendukung pemberontak diampuni. Tetapi tawaran itu ditolak. Pemberontak tetap bertahan di Riau dan mengontrolnya. Tentu pemerintah indonesia harus bersikap tegas. 

Riau diserang oleh TNI untuk membebaskannya dari penguasaan kelompok pemberontak. Namun Malaysia melindungi. Dengan alasan kawatir, kalau sampai Riau direbut TNI, rakyat Riau akan mengungsi ke Malaysia. Ini akan menjadi masalah domestik bagi Malaysia. Itu sebabnya Malaysia mengirim pasukannya ke Riau guna melindungi pemberontak. Malaysia dapat bantuan dari AS. Malaysia tidak yakin Rusia akan membantu Indonesia. Karena antara Malaysia dan Rusia ada kerjasama ekonomi. Malaysia kebetulan adalah pembeli gas dari Rusia. Pembeli adalah raja.

Tapi Malaysia lupa. Posisi strategis Indonesia yang merupakan jalur penting pelayaran Migas dan memiliki SDA Migas, jauh lebih penting dari Malaysia yang hanya sebagai pembeli Gas.  Terbukti benar. Serangan Malaysia ke Indonesia , dihadapi TNI dengan bantuan dari Rusia. Kalau perang ini terus berlanjut, Malaysia yakin akan kalah. Walau AS dan sekutu berniat membantu, tetapi itu tidak gratis. Darimana duit? sementara Malaysia sedang dalam keadaan krisis. Padahal tadinya Malaysia mendukung pemberontak Riau karena permintaan dari AS untuk kepentingan menguasai jalur pelayaran migas, selat melaka. Tetapi sekarang diperas beli senjata dari AS.

Mengapa Malaysia tidak biarkan saja pemerintah Indonesia selesaikan masalah Riau? Oh, dukungan kepada pemberontak itu dukungan politik dari partai koalisi perdana menteri Malaysia. Kalau rakyat Riau mengungsi ke Malaysia dengan alasan tidak mau di bawah rezim Indonesia, apakah Malaysia bisa usir? Tidak mungkin. Kalau diusir secara politik akan merugikan PM Malaysia. Bisa bisa dia dijatuhkan oleh partai yang mayoritas kadrun. Belum lagi resiko di dalam pengungsi itu ada juga kelompok ISIS  yang ingin mendirikan negara islam di malaysia. Bingungkan, PM Malaysia?

Nah analogi diatas, kira kira kurang lebih itulah yang kini dihadapi oleh Erdogan. Dilematis. Erdogan tidak paham siapa itu ISIS. Partai pendukungnya terafiliasi dengan IM, dan ISIS menjadikan iM sebagai sumber inspirasi. Jadi antara IM dan ISIS sama saja. Bagi AS , Turki engga penting. Emang turki punya apa? engga ada SDA sehebat IRak dan Suriah. Turki hanya punya kadrun tok. Pentingnya bagi AS adalah menciptakan pemerintahan Kurdi, yang pro AS. Itu nanti bisa dijadikan proxy untuk merebut wilayah di Irak, sebagai penyeimbang pemerintah yang didukung Iran.

Konflik Turki-Suriah paska ISIS kalah, untuk pipa Gas.
Waktu berperang menghabisi ISIS semua negara bersatu. Baik AS bersama sekutunya maupun Rusia bersama sekutunya. Tetapi setelah ISIS kalah, kedua group Rusia dan AS kembali berhadapan dengan agenda masing masing terhadap kepentingan mereka di Suriah. Rezim Bashar al-Assad tetap dengan tujuan utamanya, bukan hanya menghabisi ISIS tetapi juga ingin merebut kembali kota kota yang dikuasai pemberontah. Ini soal kedaulatan Suriah yang harus dia perjuangkan. Kota terakhir yang ingin direbutnya adalah Idlib. Tetapi masalahnya tidak sederhana.

Karena di Idlib bukan hanya basis ex ISIS tetapi juga menjadi basis untuk kelompok-kelompok ekstrimis, seperti Hayat Tahrir al-Sham, sebuah kelompok bersenjata yang sebelumnya dikenal sebagai Front Nusra dan terkait dengan al-Qaida. Tetapi sebagian besar dari sekitar 3 juta orang yang tinggal di provinsi Idlib adalah warga sipil, yang banyak di antara mereka pengungsi berasal dari bagian Suriah seperti Aleppo dan Ghouta Timur, yang tidak mau hidup di bawah rezim Bashar al-Assad.

Lantas mengapa Turki sampai ikut campur ketika Suriah ingin menguasai Kota tersebut ? Masalah ini bukan rahasia umum. Bukan baru. Tetapi udah lama. Turki bersama Qatar berencana membangun jaringan pipa gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG) dari Qatar yang tersambung sampai ke Eropa. Pipa tersebut membentang melalui Arab Saudi, Kuwait, dan Irak, melintasi Suriah. Tapi pada 2009 Assad menolak proposal dari Qatar karena menjaga kepentingan sekutunya, Rusia. Maklum Rusia adalah pemasok gas utama di Benua Biru. Sekitar 37% pasokan gas di Uni Eropa datang dari Negeri Beruang Merah. Ya Rusia engga mau hilang kontrol market nya.

Intervesi Turki ke Idlib s menjadi perang terbuka antara Tentara Suriah dan Turki , yang masing masing bawa jagoannya. Turki bawa AS dan Suriah bawa Rusia. Ini perang terbesar sejak 9 tahun krisis Suriah. Harapan Turki adalah hak kontrol atas wilayah pengungsian seperti tertuang dalam memorandum Sochi 2018, dengan demikian Turki punya posisi tawar menentukan kebijakan Assad. Jelas saja Rusia menolak. “Enak aja. Ente mau jadi penjajah wilayah orang atas alasan kemanusiaan, karena mau amankan bisnis pipa gas. Masalah rakyat Suriah, itu urusan Assad.Dia mau apain, itu terserah dia. Kenapa elo yang repot? “

Tapi saya yakin. Perang ini tidak akan berlangsung lama. Turki engga punya duit banyak untuk perang. AS tidak mau terlibat terlalu jauh bantu Eropa menghadapi Suriah yang di back up Rusia. Dan lagi ini hanya business. Selesaikan aja secara bisnis. Setidaknya, dengan serangan terhadap Suriah, oposisi di Turki yang pro IM dan Al Qaeda kembali memuji Erdogan. Dampak buruk krisis ekonomi Turki secara politik dapat diredam.

No comments:

Magic Word

  Waktu saya pergi merantau. Setiap bulan pasti surat ibu saya datang. Walau saya tidak kuliah. Pekerjaan tidak tetap. Tetapi tidak pernah i...