Tuesday, February 18, 2020

Belajar dari Tan Malaka


Tan Malaka bukan komunis seperti cara berpikir Mao atau Lenin yang bersandar kepada Marx. Tan Malaka membaca buku dari Friedrich Engels. Dia pelajari sepenuhnya jalan pikiran Marx tentang filsafat alam dan ontologi material. Setelah itu Tan Malaka dengan terpelajar mengkritik Engels dan tentu Marx. Itu pernah disampaikannya dalam forum resmi Komunis sedunia di Moscow semasa dia masih mahasiswa di Belanda. Kalau anda baca buku Madilog karya Tan Malaka, anda akan tahu bahwa Tan tidak setuju dengan pemikiran Marxisme-Leninisme yang senantiasa menuntut ketaatan mutlak terhadap Partai Komunis, alias pimpinannya. Madilog menolak segala bau ideologis, menolak jargon ortodoksi partai yang tahu segala-galanya. Madilog adalah imbauan seorang nasionalis sejati pada bangsanya untuk ke luar dari keterbelakangan dan ketertinggalan.

Ketidak setujuan Tan Malaka kepada politisasi Agama juga punya alasan sama dengan ketidak setujuan dia dengan komunisme Marx. Mengapa ? karena adanya ketaatan mutlak kepada khalifah dan ulama. Ini akar kemunduran yang jadi penyebab mundurnya peradaban islam. Juga kemunduran China. Bahwa kemunduran China dan akhirnya dikalahkan oleh pihak asing karena terbelenggu dalam keterbelakangan oleh "logika mistika”. Orang percaya kepada Tuhan yang gaip namun orang tidak percaya hukum ketetapan Tuhan, bahwa Tuhan tidak kirim makanan kesarang burung tetapi Tuhan menyediakan sayap agar burung bisa terbang mendapatkan makanan. Keimanan kepada Tuhan justru melumpuhkan logika yang sehingga hilangnya etos kerja dan semangat kemandirian sebagai makhluk sosial. Tan menolak ini dengan keras.

Setelah perjalanan panjang Tan di negeri orang, dia heran ketika kembali ke tanah air. Mengapa orang masih terjebak dengan pemikiran mistik itu?. Dia yakin seyakinnya bahwa kolonialisme di Indonesia lebih disebabkan kepada tumpulnya akal akibat pemahaman agama yang salah. Kelemahan itulah yang membuat Indonesia mudah dijajah. Membuat Indonesia merdeka tidak sulit tetapi membuat rakyat merdeka dalam berpikir itu tidak mudah selagi agama membelenggu otak mereka. Kalau kebebasan berpikir tidak ada maka sampai kapanpun kolonialisme itu tetap akan terjadi. Bukan hanya dari pihak asing dan kapitalisme tetapi juga bisa akibat politisasi agama atau idiologi yang tujuannya sama yaitu menindas rakyat. Nah solusi dari kebebasan berpikir namun tetap dalam kuridor agama dan budaya, Tan menawarkan pemikiran materail, dialektika dan logika atau disingkat Madilog. Mari kita perhatikan pemikiran Tan Malaka. Dari "logika mistika" lewat "filsafat" ke "ilmu pengetahuan" atau “sains”.

Materialisme.
Orang Indonesia itu sangat suka melihat segala peristiwa di alam ini dengan pemikiran cocok logi, yang berbau takhyul. Bencana alam dianggap sebagai kutukan Tuhan. Padahal itu peristiwa alam sebagai hukum alam. Kita tidak terbiasa melihat persoalan dengan akal yang mengundang kita untuk mencari tahu mengapa terjadi. Kita tidak terbiasa mempelajari sesuatu yang realitas dengan dasar keilmuan. Konsepsi Tan sederhana saja, daripada mencari dalil sorga dan neraka, carilah penyebah terhadap realita yang ada pada diri sendiri. Daripada menganggap miskin dekat dengan sorga, mengapa tidak mencari sebab kemiskinan itu terjadi pada diri sendiri. Selidikilah realitas material dan itu berarti: pakailah ilmu pengetahuan! Jangan bego!

Dialektika 
Dunia ini berubah dan satu satunya yang tidak berubah adalah perubahan itu sendiri. Mengapa ? dengan rendah hati Tan Malaka menyatakan bahwa dialektika berarti bahwa realitas tidak dilihat sebagai sejumlah unsur terisolasi yang sekali jadi lalu tak pernah berubah. Dialektika mengatakan bahwa segala sesuatu bergerak maju melalui langkah-langkah yang saling bertentangan. Khususnya ia menyebutkan dua "hukum" dialektika: "hukum penyangkalan dari penyangkalan" dan "hukum peralihan dari pertambahan kuantitatif ke perubahan kualitatif”. Jadi melarang kebebasan berpikir dan memaksakan persepsi kebenaran terhadap orang lain adalah cacat akal. Makanya paham HT yang menjadikan khilafah sebagai kewajiban beragama diaggap itu cacat akal , tak ubahnya dengan Komunis.

Logika 
Tan malaka menegaskan bahwa logika tidak dibatalkan oleh dialektika, melainkan tetap berlaku dalam dimensi mikro. Tan Malaka justru menunjukkan bahwa pemikiran logis, dengan paham dasar dialektis, membebaskan ilmu pengetahuan untuk mencapai potensialitas yang sebenarnya. Logika gaib seharusnya dilawan dengan logika yang sebenarnya dan karena itu perubahan terjadi, keberadaan Tuhan diagungkan. Agama bukan tujuan tetapi hanya metodelogi mencapai Tuhan. Samahalnya, Komunis seharusnya bukan melaksanakan pemikiran Marx tetapi hanya sebagai metodelogi mencapai tujuan.

Walau Tan Malaka tidak pernah membahas tentang adat dan budaya bangsa Indonesia namun dia mengajak orang untuk tidak perlu memilih pemimpin karena faktor keturunan dan dengan embel embel dia titisan dewa ( atau penerus Rasul ). Ada faktor-faktor yang lebih penting memilih seorang jadi pemimpin yaitu seperti sumbangsih pemikiran dan kepeduliannya, kepintaran dan intelektualitas. Tan Malaka ingin mengajak orang agar lebih partisipatif dan meninggalkan segala hal berbau irasionalitas dan budaya primordial yang marak terjadi di Indonesia baik dalam politik, budaya maupun ekonomi.

" Bagaimana keluarga bisa melahirkan putra sehebat itu? tanya teman dari China. 
Dengan tersenyum saya katakan " Tan lahir dari keluarga muslim yang taat. Dalam usia belia sudah hafal Al Quran. Namun dia berkembang dari pemikiran islam moderat, bukan islam puritan pakai baju gamis dan celana cingkrang. Pasih dalam 6 bahasa dan terpelajar, jago berdebat namun tetap tidak merendahkan orang lain. Itu budaya kami dan begitu agama mendidik kami. Tan pernah berkata " Ketika saya berdiri di depan Tuhan saya adalah seorang Muslim, tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang saya bukan seorang Muslim, karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia! "
" Tapi mengapa Indonesia tidak belajar dari Tan ?
" Kami belajar dan di era Jokowi kami terapkan itu."
" Ya saya melihat itu ketika Jokowi berkunjung ke China. Dia pernah bilang, kami bisa melebih china dan itu tidak perlu lama dan tidak perlu ada revolusi kebudayaan..Caranya ? revolusi mental!

***
Teman aktifis islam  bertanya kepada saya "Sepertinya anda marhaen".
Dengan tersenyum saya menanggapinya tanpa berkata. Wajahnya nampak tidak suka. 

' Marhaen, itu kakak adik dengan komunis " katanya lagi.

Saya kembali tersenyum 

" Komunis anti Tuhan, betul, kan" Katanya 

"Komunis tidak anti Tuhan tapi memang melarang agama terlibat dalam politik.Tidak ubahnya dengan paham sekular lainnya seperti kapitalisme, liberalisme,sosialisme, pancasila. " kata saya dengan rendah hati.

" Anda juga pendukung semua paham sekular seperti demokrasi, kapitalisme, liberalisme. Padahal anda beragama islam.”

Saya tersenyum.

" Apa sebetulnya sikap anda"kejarnya dengan wajah tidak suka.

" Apapun sikap saya karena dasarnya agama yang saya yakini ya Islam. Semua orang suka demokrasi, utamanya yang berlaku untuk sistem yang modern. Tetapi islam bukanlah lawan dari demokrasi. Islam bukanlah lawan dari kristen atau-pun yudaisme. Dipandang secara ketat sebagai sebuah sistem keyakinan keagamaan, Islam memiliki lebih banyak wilayah persetujuan daripada perselisihan dengan agama kristen dan bahkan lebih lagi dengan yudaisme. Akan tetapi tentu saja menyesatkan untuk menganggap islam sebagai satu anggota dalam sebuah kelas yang anggota lainnya adalah Yudio-Kristen, Hindu, Budha, dll. Tidak akurat, tentu saja. Islam adalah sebuah agama , seperti yang lainnya,sehimpunan kepercayaan dan amalan berbeda, yang berkaitan dengan etika, moral, Tuhan, kosmos, dan kefanaan.

Tetapi islam bisa secara syah dianggap sebagai satu anggota dalam sebuah kelas yang anggota lainnya meliputi komunisme, demokrasi parlementer / presidentil, fasisme dan sejenisnya, Karena Islam adalah sebuah proyek sosial seperti yang lain itu, sebuah ide tentang bagaimana politik dan ekonomi harus dikelola, sebuah sistem lengkap hukum perdata dan pidana. Islam sebagai satu anggota dalam sebuah kelas yang anggota lainnya mencakup peradaban China, peradaban India, Peradaban Barat, Peradaban Indonesia dan seterusnya, karena ada semesta artefak budaya dari seni hingga filsafat hingga arsitektur hingga kerajinan hingga hampir setiap bidang usaha budaya manusia yang bisa dengan tepat disebut Islami.

"Mengapa anda bersikap seperti itu ?

"Ya karena Islam adalah narasi besar yang bergerak melintasi waktu, berlabuh dengan kelahiran komunitas itu di mekah dan Madinah empat belas Abad yang lalu. Jika kita melihat terbentangnya sejarah kemajuan peradaban dari masa kemasa maka tahulah kita bahwa Islam adalah sebuah kompleks luas tujuan bersama yang bergerak sepanjang masa, didorong oleh semangat meninggikan kalimat Allah untuk kebaikan, kebenaran dan keadilan.Mungkin saatnya esensi Islam itu harus di definiskan dalam bersyariat agar tidak ada komplik internal dengan asumsi yang berbeda beda. Sehingga terbentuk barisan yang kuat untuk sebuah projek social yang menentramkan bagi agama lain , budaya apapun , idiologi manapun , ya sebuah makna tentang rahmatan lilalamin…"


Dia terdiam...dan berlalu. 

***
13 Mei 1968, Revolusi Kebudayaan China, mereka menangkap Zhou dan membunuhnya. Tubuhnya dipotong potong. Jantungnya dimakan mentah mentah. Kaki dan kepalanya digantung di depan pasar kota, Wuhuan. Beribu ribu orang menontonnya. Janda, Zhou pun diseret kesana untuk melihat. Perempuan yang sedang hamil tujuh bulan itu diperintahkan untuk membuka bajunya. Ia menolak. Tapi seorang pemuda revolusioner, memaksa merenggut bajunya dari belakang. ” Terlalu kurus untuk dimakan ” kata pemuda itu setelah melihat tubuh kerempeng wanita itu dalam keadaan telanjang. Dalam ketakutan teramat sangat wanita itu melihat para pemuda revolusioner sedang memakan jantung suaminya dan sebagian ada pula yang sedang memakan kemaluan suaminya. Ini kanibalisme. Budaya binatang.

Dengan wajah dan mulut berlumuran darah , para pemuda itu berkata ” Ini suami mu ?
” Ya. ..” jawab wanita itu dengan rasa takut.
‘ Dia kapitalis penghisap darah rakyat. Benarkah ?
‘ Ya, Benar ‘ Suara wanita itu ketakutan, Dia sadar bahwa berkata “ tidak” adalah mengundang kematian.

Itulah gambaran sekilas tentang yang terjadi ketika Revolusi Kebudayaan yang menguncang China di paruh kedua tahun 1960 an sampai dengan tahun 1975 memang ganas. Yang paling buruk dari komunis adalah kebencian luar biasa kepada lawan politiknya. Berawal kepada kebencian karena perbedaan politik kemudian dengan seni propaganda yang diserang adalah pribadi lawan politik. Apapun dapat dijadikan alasan merusak reputasi lawan. Karena landasan moralnya bukan agama tapi politik maka mereka tidak merasa berdosa untuk memfitnah lawan politiknya dengan cara cara sistematis untuk menanamkan mindset kepada pengikutnya untuk terus menghidupkan kebencian dan amarah kepada lawan politiknya. Dan bila mereka menang maka hukum rimba dibenarkan akibat konsekwensi dari propaganda

Hal yang indentik dengan politik komunis soal kekerasan secara personal kepada lawan politik hanya sebanding dengan Islam radikal. Dimana agama dijadikan dokrin politik dengan pijakan tafsir Al Quran dan hadith yang dipolitisir. Targetnya adalah menggiring kaum BOTOL menjadi budak dan mesin perusak cinta dan kasih sayang. Tujuan utopia yang berlabelkan syariah islam menjadi pembenaran untuk meng-halalkan darah lawan politiknya atau siapa saja yang berbeda paham dengan mereka. Ada ulama yang mengeluarkan fatwa soal itu dan mereka siap bertarung bela ulama.

Makanya kini jangan terkejut bila cara mereka mengfitnah Jokowi sampai kepada masalah personal seperti meragukan ibu kandungnya, merusak rasa hormat seorang ayah yang menikahkan putrinya. Orang bermoral tahu bahwa issue ini jelas sangat menghina, apalagi adat orang timur dimana ibu sangat dihormati. Sangat memuliakan putrinya. Tapi mereka tidak peduli. Andaikan ada kesempatan mereka bisa membunuh Jokowi dan memakan daging jokowi seperti kasus Zhou di China ketika revolusi kebudayaan, pasti akan mereka lakukan. Saya pribadi pernah dikirim screenshot oleh nitizen yang memuat daftar orang yang jadi "target "kalau Jokowi jatuh dan kelompok mereka menang.

Mengenang ”Revolusi Kebudayaan ” , bagi china adalah mengenang sisi gelap. Tidak ada satupun warga China yang menginginkan jam berdetak mundur kemasa gelap itu. Kemajuan yang begitu pesat disegala sektor paska revolusi kebudayaan telah membuat mereka gamang dengan segala impikasi buruk seperti masa lalu. Koreksi demi koreksi adalah ujud dari ketakutan masa lalu yang gelap. Dari sinilah mereka belajar dari sejarah untuk hari esok yang lebih baik. Namun tetap saja Partai Komunis China exist hanya sebagai alat persatuan. Namun setidaknya mereka tidak lagi menyelesaikan perbedaan politik dengan hukum rimba tapi dengan pedang hukum. Tidak ada lagi politik personal tapi komunal dengat semangat gotong royong.

China sadar bahwa musuh utama China adalah politisasi agama, bukan berpolitik dengan moral agama. Musuh utama china adalah politisasi komunis , bukan berpolitik dengan moral komunis. China tidak menghapus komunis dan tentu tidak pula memusuhi agama tapi meluruskannya untuk peradaban yang lebih baik untuk china yang bersatu dan bermartabat.


No comments:

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...