Monday, May 06, 2019

Persepsi tentang puasa dan Tauhid.



Medio akhir tahun 90, Saya pernah ikut program healing di Ponpes di suatu desa di Banten. Saya harus melalui ritual puasa selama 41 hari. Saya hanya berbuka puasa dengan air putih dan nasi putih tanpa sayur. Setiap hari seusai sholat melakukan wiritan. Setiap tengah malam bangun untuk sholat tahajud tanpa tidur lagi sampai subuh. Setelah beberapa hari disana ada pengalaman yang menarik. Tengah malam seusai sholat tahajud saya melihat ustadz sedang duduk seperti orang bersemedi di masjid.

“ Saya perhatikan setiap malam kamu bangun dan melaksanakan ritual sholat. Sangat khusu. “ Terdengar suara. Tapi saya tidak tahu dari mana sumber suara itu. Ustadz nampak tersenyum ketika melihat saya kebingungan mencari sumber suara. “ Itu saya yang bicara. Saya menggunakan telepati bicara dengan kamu. Dengan bahasa ibumu“ Nampak wajahnya tersenyum. Langsung saya duduk menghadap dia.
“ Bagaimana anda bisa bicara dengan saya menggunakan bahasa ibu saya “ 
“ Persepsi saya tentang kamu bukanlah kamu seperti ujud mu.” 
“ Jadi apa ?
“ Gelombang pikiran, dan itu adalah energi. Makanya tidak sulit bagi saya masuk kedalam pikiran kamu, melalui gelombang itu.”
“ Bukankan energi manusia dibatasi oleh ruang dan waktu. Jadi bagaimana mungkin anda bisa masuk kedalam pikiran saya.”
“ Energi memang dibatasi ruang waktu tapi pikiran membebaskan itu.”
“ Pikiran apa ?
“ Tentang persepsi. Bahwa semua materi itu tidak ada. Yang ada hanya Tuhan.”
“ Lantas kita dan alam ini apa ?
“ Itu hanya visualisasi dari pikiran kita saja. “
“ Bagaimana dengan perasaan lapar, lelah, kecewa, dan senang, sakit, itu nyata ada dalam diri setiap manusia “
“ Itu manifestasi dari pikiran kita. 
“ Apa artinya itu semua? Bingung saya”
“ Semua yang ada disemesta ini tidak ada. Semua yang kita rasakan juga tidak ada.. 
‘ Tida ada ? Yang ada apa ? 
“ Yang ada hanyalah Tuhan. Tuhan memvisualkan semesta kepada kita agar kita mengagungkan Dia. Tuhan memanifestasikan pikiran lewat perasaan untuk kita mengagungkan Dia. Semua karena Dia. “
“ Oh…bagaimana dengan agama ?
“ Agama adalah kunci kamu memasuki gerbang keagungan itu dan menemukan rahasia tentang Tuhan.”
“ Caranya ?
“ Tiap agama punya cara yang diajarkan langsung oleh Tuhan melaui utusanNya.”
“ Untuk apa rahasia Tuhan ditemukan kalau toh pada akhir kita tidak ada.”
“ Untuk menunjukan Dia Maha Agung, tak terdefinisikan oleh apapun. Yang lain lenyap, bahkan kampung akhiratpun tidak kekal. Yang kekal hanya Tuhan, karena memang existensi Tuhan adalah Tuhan itu sendiri, bukan yang lain.

Setelah pembicaraan itu , sehabis sholat subuh saya lebih banyak tafakur tentang Tuhan. Lambat laun persepsi saya tentang Tuhan terbentuk. Bahwa tidak ada apapun di semesta ini selain Tuhan. Hanya Tuhan semata. Tanpa disadari saya tidak lagi merasa lapar bila makan sekali sehari. Yang lebih mencengangkan adalah saya bisa bangun tidur tepat waktu sesuai kehendak saya tanpa di bangunkan oleh alarm. Cukup saya berkata kepada diri saya “ Tuhan bangunkan saya jam 3 pagi.” Maka terjadilah.

Bagi kita orang yang terbiasa dekat dengan kebiasaan makan , rasanya ritual puasa mutih itu tidak akan mampu. Dan lagi terkesan menganiaya diri. Bahkan menurut ilmu kesehatan, itu tidak baik untuk tubuh. Tapi faktanya tidak ada  oang mati karena puasa putih. Bahkan banyak penyakit dapat disemubuhkan dari puasa itu. Umumya  orang yang berhasil puasa mutih, secara kebatinan orang itu lebih kuat, yang menurut orang awam terkesan magic. Hari ke 41 usai sudah ritual healing saya di Ponpes. Malamnya saya bermimpi entah darimana suara datang namun saya melihat cahaya dibalik suara itu “ Kehidupan dunia ini hanyalah main-main dan senda gurau belaka. Dan sesungguhnya disisi Tuhan kekal, disisi makhluk lenyap. Maka tidakkah kamu memahaminya ? jangan kuasai perasaan kamu karena kebencian, amarah, cinta, pujian, kepada manusia. Jangan kuasai pikiranmu karena sakit dan sehat. Jangan kuasai pikiranmu karena harta, jabatan dan kepintaran. Apapun yang terjadi dialam ini adalah cara Tuhan menampakan diriNya dan menyebut diriNya Maha Agung, penuh pengasih lagi Penyayang. Maka ikhlaslah selalu.

Teman saya beragama Budha ortodok pernah melakukan ritual puasa selama 7 hari 7 malam tanpa makan kecuali minum. Dia merasa nyaman dan tenang. Bila dia semedi, tubuh ringan seperti kapas. Makanya itu menjadi rutinitas baginya untuk menjaga tubuhnya tetap sehat dan pikiran serta batin juga sehat. Ada teman saya di Macao yang bisa menembus kayu tebal dengan kedua jarinya. Hanya sekali tekan, kayu tebal itu tembus. Kedua jarinya tetap seperti semula tanpa ada goresan. Saya perhatikan dia melakukan itu tanpa tenaga. Namun walau saya lakukan dengan tenaga tidak mungkin bisa melakukan hal yang sama dengan dia. Kekuatannya seperti magic. Menurutnya itu bukan magic. Tapi berkat latihan berpuluh tahun. Dia setiap hari latihan menggoreng pasir dengan menggunakan tangan sebagai sendok. Bertahun tahun itu dia lakukan. Berkali kali tanganya melepuh dengan rasa sangkit sangat. Namun dia ulang kembali setelah sembuh. Lama lama rasa sakit itu hilang. Saat itulah dia bisa menembus tembok tebal dengan dua jarinya.

Semua Agama punya ritual puasa. Puasa mutih ala kejawen, puasa ramadhan, puasa budha dan lain lain  adalah membunuh rasa lapar. Teman yang latihan berat menggoreng pasir dengan tangannya sebagai sendok adalah ritual membunuh rasa sakit. Kedua cara itu adalah suatu proses menghilangkan " rasa ". Apapun " rasa" itu kembali pada dirikita sendiri. Jeruk itu manis, tapi itu hanya dilidah. Lewat lidah "rasa manis " itu hilang. Kalau kita tidak ada lidah tentu tidak merasakan manis. Namun rasa manis itu tidak datang begitu saja tapi lewat proses berpikir melahirkan persepsi bahwa jeruk itu manis. Rasa manis itu tidak pada jeruk tapi pada diri kita sendiri. Jeruk tetaplah jeruk.  Nah , kalau kita bisa meng-eliminate "rasa " maka persepsi kita terhadap materi juga berubah. Otomatis nafsu sebagai pemicu timbulnya rasa lewat pikiran akan berkurang bahkan dengan latihan berat bisa hilang sama sekali. Dengan begitu, secara kejiwaan kita kuat. Kita tidak lagi terisolasi oleh nafsu dan pikiran yang mendorong ktia tergantung kepada materi dan lemah.

Ritual puasa yang diajarkan dalam islam pada intinya sebuah metodelogi untuk tujuan meraih taqwa. Taqwa itu adalah dekat kepada Allah. Mendekati Allah tentu tidak bisa dengan nafsu dan pikiran tapi dengan jiwa yang bebas dari ketergantunga terhadap materi. Bila kita bisa mencapai ini maka kita akan kuat secara lahir maupun batin. Kekuatan jiwa kita menuntun kita untuk tidak mendewakan materi dan menjauh dari kesenangan yang bisa menjebak nafsu dan pikiran kita menjadi lemah. Kalau berharta kita suka berbagi. Karena harta bukan apa yang didapat tapi apa yang diberi. Kalau miskin kita kuat dalam kesabaran, Karena hidup bukan apa yang dialami tapi bagaimana melewatinya. Kalau kita berkuasa, kita cenderung menjadi pelindung dan rendah hati daripada sombong. Kalau kita lemah kita cenderung berserah diri kepada Tuhan tanpa takut. KIta menjadi makhluk istimewa karena apapun yang terjadi baik bagi kita.

Ya puasa adalah ritual untuk membangun persepsi bahwa materi itu tidak ada. Semua di alam ini akan musnah dan lenyap kecuali Allah. Dan tentu membangun persepsi ini tidak bisa mengandalkan pikiran dan nafsu tapi keimanan. Bahasa keimanan adalah bahasa meniadakan diri kita dan semua yang ada kecuali Allah. Yang tahu kita puasa hanya Allah tapi manfaatnya kembali kepada kita sendiri. Kalau persepsi puasa kita benar maka apapun godaan tidak akan menggoyang keimanan kita. Engga perlu takut orang dagang makanan siang hari bolong. Selamat berpuasa, semoga kamu menjadi orang yang bertaqwa..

No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...