Saturday, May 18, 2019

Belajar dari kemenangan Assad dalam Pemilu



Pada musim panas 2015, Presiden Suriah Bashar Assad  sudah hopeless. Empat setengah tahun dalam perang saudara Suriah, pasukan kelelahan; tentaranya mundur dihampir setiap front di bawah tekanan dari pemberontak. Pada saat itu, dia hampir tidak menguasai seperempat wilayah negara. Bayang bayang kejatuhan di depan mata. Satu-satunya jalan keluar yang bisa dipikirkannya adalah beralih ke teman lamanya, Presiden Rusia Vladimir Putin. Putin menyetujui permintaannya, mengirim dua skuadron pesawat tempur Rusia ke pangkalan angkatan udara Khmeimim di Suriah barat laut pada bulan September. Kehadiran  dua skuadron pesawat tempur ini membalikkan arah perang dan menyelamatkan rezim Assad.

Keterliibatan Rusia disaat kedua belah pihak sudah benar-benar kelelahan. Oleh karena itu, jumlah pesawat yang relatif kecil sudah cukup untuk mengatasi perang yang tidak seimbang itu. Rusia mulai menggunakan pesawatnya secara sistematis dalam serangan tanpa pandang bulu, pemboman merata di daerah yang dikuasai pemberontak. Pilot Putin tidak mengindahkan masalah hukum atau hak asasi manusia. Rusia tidak ada urusanya dengan pengadilan HAM di Bassel. Karena pasukan Putin dibawah komando dari pemerintah Suriah. Ini masalah dalam negeri dan pemberontak telah serius ingin menjatuhkan pemerintah yang terpilih secara demokratis. Hukum harus tegak.

Rusia tidak terganggu oleh Konvensi Jenewa atau oleh tweet protes masyarakat internasional. Mereka menghancurkan segala yang menghalangi rezim dan secara bertahap mengembalikan kendali Assad terhadap negara itu, dengan mengorbankan nyawa ratusan ribu warga sipil Suriah. Pada bulan Desember 2016, kota terbesar kedua di Suriah, Aleppo, jatuh di bawah tekanan pemboman. Pada musim panas 2018, organisasi pemberontak di sisi Suriah dari perbatasan dengan Israel di Dataran Tinggi Golan juga menyerah.

Assad sekarang secara efektif mengendalikan sekitar 70 persen wilayah Suriah, di daerah yang mencakup sebagian besar pusat populasi terbesar. Pemberontak memiliki satu benteng kunci yang tersisa, sebuah kantong di daerah Idlib di utara negara itu, antara Aleppo dan perbatasan Turki. Suriah Timur Laut dikendalikan oleh pasukan Kurdi tetapi kehadiran mereka tidak significant terhadap pemerintahan Assad.Disamping itu berkah yang diterima Assad adalah kampanye yang dilakukan oleh Amerika Serikat, melawan ISIS. Amerika mengumumkan pembentukan koalisi internasional untuk melawan ISIS pada musim panas 2014, setelah serangkaian eksekusi mengejutkan para sandera asing oleh para pejuang organisasi itu.

Amerika, dengan cara sistematis khas mereka, menghancurkan ISIS hingga berkeping-keping melalui puluhan ribu serangan udara. Hilangnya ISIS secara bertahap dan organisasi yang terhubung dengan Al Qaeda memungkinkan rezim untuk pulih. Rusia, sementara itu, memfokuskan sebagian besar serangan udara di daerah-daerah yang dikuasai oleh kelompok pemberontak lainnya, dengan menyatakan bahwa mereka melakukan misi perang internasional melawan teroris. Berkah berikutnya adalah dengan adanya dukungan dari Iran. Disaat Suriah banyak kehilangan prajurit terlatih akibat perang. puluhan ribu pejuang milisi Syiah - Hizbullah dari Libanon dan milisi dari Irak, Afghanistan dan Pakistan berdatangan. Para pejuang Syiah, disponsori oleh Iran, menjadi ujung tombak perlawanan Suriah menghadapi pemberontak, melengkapi tekanan Rusia pada para pemberontak dari udara.

Pada awal 2019, setelah delapan tahun perang saudara yang mematikan, Assad dapat tidur nyaman lagi. Perang tidak sepenuhnya berakhir tetapi tampaknya seolah ancaman langsung terhadap rezim telah berkurang secara signifikan. Situasi vis-à-vis kantong Idlib relatif statis dan saat ini tidak ada gesekan militer yang berkelanjutan dan langsung dengan Kurdi. Berbagai kelompok pemberontak, termasuk beberapa yang terkait dengan ISIS, masih melakukan serangan teror di daerah-daerah yang dikendalikan oleh rezim, tetapi pada tingkat yang jauh lebih rendah daripada selama puncak perang.

Damaskus relatif aman. Rezim Arab - termasuk UEA - memperbarui hubungan diplomatik mereka dengan Suriah dan membuka kedutaan besar di Damaskus. Perwakilan pemerintah Suriah kembali disambut dengan hangat di berbagai ibu kota, di antaranya Teheran, Moskow, dan Ankara. Pembunuh massal terbesar abad ke-21 yang dilakukan rezim Suriah dalam menghadapi pemberontak tidak dianggap sebagai pelangaran HAM International. Tidak hanya itu - dia tetap berkuasa dan melanjutkan agendanya memimpin Suriah dari puing puing kehancuran. Rakyat Suriah belajar banyak dari perang saudara selama 8 tahun dengan korban tak terbilang. Andaikan tadinya mereka yang mayoritas tidak memilih diam atas provokasi oposisi minoritas untuk berontak atas kemenangan Assad dalam pemilu, mungkin Suriah tetap sorga  timur tengah sampai sekarang. Semua adalah pelajaran, bukan hanya bagi rakyat suriah tapi negara lain termasuk Indonesia.




No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...