Sunday, February 05, 2017

Kebodohan


Ketika nitizen berkata kepada saya bahwa apabila ada orang islam membela Al Quran itu biasa tapi yang aneh adalah orang islam bukannya membantu malah ikut menjatuhkan semangat membela Agama. Padahal puncak taqwa adalah melakukan jihad.  Bagi saya, engga perlu bicara tentang jihad. Hari ini sejak orang yang paling keras menyuarakan perjuangan Islam, kemaruk harta dan doyan dengan kemewahan harta , saya sudah tak tahu lagi apa maksudnya. Kamu bisa saja berkata, jihad bukanlah kekerasan. Ini gerakan super damai.Tapi berbareng dengan itu orang lain berkata jihad itulah yang membenarkan bila orang yang dianggap kafir atau murtad dibunuh atau di enyahkan atau di cerca. Tiap tafsir bisa dibantah tafsir lain. Kepada siapa saya bisa minta kata akhir tentang apa sebenarnya yang diperintahkan agama? Maka jangan bicara kepada saya tentang jihad. Kekerasan  tak perlu dan tak bisa diterangkan dengan sabda atau fatwa.

Kalau kamu menafsirkan ada hubungan yang erat antara kekerasan dan ajaran agama, maka itu sama saja kamu menyeret pemahaman agama untuk orang yang malas berpikir. Hal yang universal pesan dari setiap agama adalah cinta dan kasih sayang. Kekerasan karena konsesus UU , itu adalah penegakan hukum yang bertujuan untuk tegaknya keadilan dan ketertiban bagi semua. Suka tidak suka, tidak ada konsesus yang memuaskan semua orang tapi semua orang yang cerdas paham untuk berdamai dengan kenyataan. Kekuasaan bukanlah menempatkan seseorang sebagai yang kalah dan siap menjadi pecundang di hadapan UU.  Namun juga harus di maklumi bahwa pemenang berhak mendapatkan pampasan. Dan yang kalah punya kesempatan merebutnya lewat sistem yang lahir dari sebuah konsesus. Kelak bila kamu bisa mencapai kemenangan , konsesus UU syariah juga tidak akan ada bedanya dengan yang kamu anggap sekular. Tidak akan memuaskan semua orang. Mengapa ? Karena perbedaan itu adalah takdir.

Di situasi dimana sistem demokrasi terbuka yang memberikan peluang bagi sikalah merebutnya, tidak di sikapi cerdas oleh para kaum radikal yang menjadikan agama sebagai emosi pemeluknya. Mereka mengisolasi diri, menjadikan dirinya oposisi, merawat khayal atau phantasma-nya, menyimpan tenaga, dan menanti sampai saatnya datang. Tapi yang nampak saat ini mereka  tak melihat hidupnya berharga makanya tak akan nampak passion berkompetisi secara intelek, dan tak memandang hidup orang lain berharga pula. Maka andai ketika saat itu tiba dan mereka menjadi pemenang maka agama di lembagakan untuk membenarkan penguasa jangan di tanya kalau korup.  Di Indonesia, Aceh yang menerapkan syariah islam, jika dibandingkan dengan provinsi lain, Aceh masih menduduki peringkat teratas dalam korupsi.

Bagaimana kekuasan yang di rebut dengan jargon Islam  di negara islam lainnya ?  Lembaga transfaransi International, mengeluarkan Corruption Perception Index (CPI), dimana  Yaman, Sudan, Libya, Suriah ,Sudan Selatan , Somalia, Pakistan, Iran adalah negara yang termasuk buruk indek korupsi, bahkan jauh lebih baik Indonesia yang berbasis Pancasila. Memang petualang politik sangat suka dengan idiolgi di bungkus agama. Itu sebabnya ia punya cara mencocokan isyu agama yang bisa di makan kaum radikal: petuah dan petunjuk itu, tentang jihad atau perang, lahir dari tafsir yang diutarakan ulama. Makanya cara seperti inilah yang jika ”Islam” adalah nama bagi sebuah peradaban, yang terjadi adalah sebuah riwayat panjang tentang arus yang surut. Penyair muslim kelahiran India, Hussain Hali (1837-1914), yang menggambarkan bagaimana peradaban yang pernah jaya pada abad ke-8 itu akhirnya ”tak memperoleh penghormatan dalam ilmu/tak menonjol dalam karya dan industri”.

Yang kemudian berlangsung adalah Islam yang hanya memungut, cuma meminjam, dan tak bisa lagi memperbaharui. Terutama di dunia Arab, yang pada satu sisi bangga telah jadi sumber dari sebuah agama yang menakjubkan tapi di sisi lain gagal mengalahkan hawa nafsunya sendiri. Bagi setiap orang Islam yang peduli untuk merenungkannya, tiap benda yang kini hampir mutlak dipakai di kehidupan sehari-hari … mewakili sebuah penghinaan yang tak diucapkan—tiap kulkas, tiap pesawat telepon, tiap colokan listrik, tiap obeng, apalagi Sosial media berbasis IT ”. Bahkan terorisme—dari gagasan, gaya, serta peralatannya—datang pada abad ke-20 dari ”Barat” yang mereka haramkan. 

Lingkaran setan tak dapat dielakkan lagi. Merasa di pinggirkan dan kalah. Dalam lingkaran itu kebencian pun berkecamuk—gabungan antara kepada ”mereka” dan juga kepada diri sendiri. Tak mengherankan, di wilayah ini, si radikal berkelimun. Akankah ada kemenangan yang di janjikan Tuhan? Mungkinkah ada ? Saya percaya, kekalahan bukanlah hukuman tapi hanya kurang cerdas berjuang. Dengan syarat perlu melihat kekalahannya sebagai bagian dari pengalaman dan memandang pengalaman itu sebagai, seperti kata petuah lama, guru yang baik. Tapi saya sadar, mereka yang radikal akan sulit untuk bersikap demikian. Terutama ketika petualang politik memperkaya "ulama" untuk terus benci dengan jargon bahwa kekalahannya karena sikafir dan si murtad yang  lahir dari system thagut. Maka chaos diupayakan terjadi, surga yang kekal dijanjikan, maka memang kebodohan menjadi tak ada batasnya…

No comments:

Bencana itu karena Tuhan murka?

  Tahun 2008 atau tepatnya 14 Mei saya mendengar kabar dari berita TV terjadi gempa di Sichuan China. Saya teringat dengan sahabat saya yang...