Tuesday, February 28, 2017

Selamat datang Raja Salman


Menjelang kedatangan Raja Arab Saudi Salman ke Indonesia pada 1-9 Maret nanti. Kemarin Delegasi yang dipimpin Darmin terdiri dari Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Arcandra Tahar, Duta Besar RI untuk Iran, sejumlah pejabat tinggi dan jajaran eksekutif dari Badan Usaha Milik Negara, dan pengusaha nasional, malah terbang ke Iran. Padahal Iran berseteru dengan Arab. Mereka membahas isu strategis yang meliputi kerja sama energi, perdagangan, investasi, keuangan, perbankan, ilmu pengetahuan, teknologi, pertanian, pariwisata dan mendorong peran aktif dari kerja sama dunia usaha dari kedua negara. Indonesia dan Iran juga sepakat mempererat kembali hubungan ekonomi bilateral, setelah sempat mengalami kemunduran selama pengenaan sanksi ekonomi, atas isu nuklir oleh Barat kepada Iran. Semua tahu bahwa di belakang Iran ada China dan Rusia yang telah menjalin aliansi sejak Iran di embargo..

Mengapa ? Indonesia tidak terikat dengan negara manapun. Selagi menguntungkan kepentingan nasional maka kerjasama akan di jalin. Bagaimana dengan Arab Saudi ? Secara ekonomi Saudi sekarang dalam posisi sulit, atau tepatnya krisis. Dengan harga minyak di bawah USD 100 per barrel tidak akan mencukupi untuk menanggun biaya sosial negara yang mencapai USD 92 per barrel. Tahun 2015 nilai ekspor tersungkur sebesar 34% dari tahun sebelumnya. GDP dari USD 753 miliar di tahun 2014 , pada 2016 terjun di bawah USD 700. Jatuhnya sangat drastis. Pada waktu bersamaan hutang nasional digali semakin dalam. Bila tahun 2010 hutang nasional sebesar USD 44, 5 miliar , tahun 2016 sudah mencapai USD 90 miliar, dan di perkirakan tahun 2017 akan tembus USD 100 miliar. Para analis memperkirakan tahun 2020 hutang Saudi akan mencapai USD 255 miliar, lebih besar dari Indonesia yang berpenduduk 10 kali dari Arab. Namun upaya menggali hutang sudah semakin sulit karena investor tidak melihat masa depan cerah pada ekonomi Saudi.

Yang membuat Investor berkerut kening adalah tahun 2016 kemarin Saudi membatalkan sepertiga proyek yang sudah ditetapkan dalam APBN. Ribuan proyek senilai sekitar 260 miliar rial Saudi atau sekitar 69 miliar dolar di batalkan. Sementara anggaran perang di Yaman serta dukungan finansial kepada kelompok-kelompok teroris di beberapa negara kawasan terus di pacu. Bedasarkan laporan Organisasi Internasional Pembangunan Sumber Daya Manusia (WHDO), meskipun Arab Saudi memperoleh pendapatan ratusan miliar dolar pertahun dari penjualan minyak, namun sekitar 70 persen warga negara ini mengalami kesulitan ekonomi dan tidak puas dengan kondisi ekonomi mereka. Mereka menginginkan perubahan dasar di Arab Saudi terutama di sektor ekonomi. Artinya tidak ada hasil lain dari kekuasaan bertahun-tahun rezim Al Saud di Arab Saudi kecuali lemahnya ekonomi negara ini yang selalu bergantung pada hasil penjualan minyak.

Yang jadi pertanyaan adalah kemana saja hasil dari penjualan Minyak selama bertahun tahun.? Teman saya seorang bankir di Dubai mengatakan bahwa bisnis minyak Saudi bukanlah bisnis negara. Itu bisnis keluarga kerajaan yang berkonspirasi dengan Barat. Saudi Aramco walau sudah di nasionalisasi tahun 1988 sejatinya tetap di miliki mayoritas oleh konsorsium TNC Amerika. Hampir 90% dari pendapatan minyak masuk kekantong TNC Amerika melalui biaya engineering, construction, management, procurement. Dan biaya itu di mark up untuk mengalir ke rekening keluarga kerajaan yang ada di London, Swiss, New York. Yang menyedihkan , rekening gendut itu di SWAP dalam bentuk Asset synthetic  dari produk derivative Wallstreet dengan nilai future 10 kali lipat. Tahun 2008 ketika krisis wallstreet, nilai asset jatuh tinggal hanya 0,1. Atau bisa di katakan uang yang di rampok bertahun tahun itu hilang begitu saja akibat konspirasi bursa. Dan sampai kini tidak meningkat secara significant karena AS dan Eropa sebagai pemicu likuiditas pasar uang dan modal juga terkena krisis.

Visi Saudi 2030 yang dicanangkan oleh kerajaan, di tanggapi dengan sinis oleh pasar. Karena visi bagaikan lampu aladin. Betapa tidak. Solusi mengatasi krisis di lakukan melalui IPO Saudi ARAMCO. Hampir semua investor dunia tahu bahwa Saudi Aramco tak lebih hanya proxy dari TNC Amerika dan Eropa yang memang akan melakukan cut loss dari bisnis minyak sejak mereka berhasil dalam mengembangkan shale gas di AS.  Semua tahu bad attitude dari TNC tersebut yang menjadi biang jatuhnya harga komoditas utama dunia di Bursa Boston dan merembet ke London. Sehingga menjadi pemicu terjadi krisis struktural di Eropa dan AS, juga Asia. Makanya jangan kaget bila Penasehat Investasi kelas dunia seperti Goldman Sachs, JP Morgan, HSBC Global Asset Management, UBS Global tak tertarik untuk memegang mandatory advisory IPO Saudi Aramco. Yang di tunjuk adalah Moelis & Co yang bermarkas di Beijing.  Moelis mungkin punya exit strategy yang bisa meningkatkan libido Pasar dengan cara menjadikan Indonesia dan China sebagai salah satu konsumen minyak terbesar di dunia untuk terjadi aliansi strategis. Tentu dengan iming iming akan menggunakan hasil IPO untuk proyek kemitraan. 

Namun dari seorang analis investasi di Hong kong mengatakan bahwa China dan Indonesia tidak mungkin bisa masuk dalam rekayasa IPO Saudi Aramco. Mengapa ? Walau arus politik Islam sedang naik daun di Indonesia namun Jokowi yang berlatar pengusaha tahu percis bahwa bermitra itu seharusnya dengan negara yang punya uang, bukan negara yang di landa masalah. Indonesia punya banyak masalah ekonomi akibat puluhan tahun tidur, dan sekarang Indonesia sedang bergiat mengatasi masalah itu, dan itu butuh mitra yang kuat secara ekonomi. Saudi datang ke Indonesia justru menawarkan aliansi strategis IPO Saudi Aramco dan penjualan SUKUK. Makanya jangan kaget bila di pandang sebelah mata oleh team Ekoonomi Jokowi yang lebih memilih terbang ke Iran untuk kemitraan ekonomi. Sementara China, tidak mungkin bisa menyetujui kemitraan permaneh dengan Saudi karena China sudah lebih dulu memberikan dukungan pembiayaan kepada Pemerintah Yaman dan mendukung Basar mengusir ISIS.  

Wahai Raja Salman, penjaga Baitullah, sudahilah berpikir bahwa hanya uang yang bisa menyelesaikan masalah. Persoalan Saudi bukanlah uang tapi keadilan ekonomi. Bukan hanya kepada rakyat Saudi tapi juga kepara umat islam di dunia. Jadikan krisis ini sebagai pesan cinta dari Allah untuk perbaiki niat karena Allah. Masa lalu sudah cukup sampai di moment kirisis ini saja. Selanjutnya lakukan konsolidasi nasional dan international untuk kembali sebagai negara penjaga Baitullah yang menjauh dari segala upaya Barat menciptakan krisis di mana mana. Sudahi hidup glamour yang bermewah mewah dan kembalilah seperti teladan rasul yang lebih memilih hidup tawadhu walau beliau mampu untuk bermewah…

No comments:

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...