Thursday, August 04, 2016

Generasi Pemberani



Brigadir Bethell di kenal sebagai perwira inggris yang hebat dalam perang dunia kedua , mendarat di Semarang pada 20 Okt 1945 dengan maksud mengurus tawanan perang dan tentara Jepang yang berada di Jawa Tengah. Kedatangan sekutu ini diboncengi oleh NICA. Mereka mempersenjatai para bekas tawanan perang Eropa, sehingga pada tanggal 26 Oktober 1945 terjadi insiden di Magelang yang kemudian terjadi pertempuran antara pasukan TKR dengan pasukan Sekutu. Insiden berakhir setelah Presiden Soekarno dan Brigadir Jenderal Bethell datang ke Magelang pada tanggal 2 November 1945. Mereka mengadakan perundingan gencatan senjata dan memperoleh kata sepakat yang dituangkan da1am 12 pasal. Naskah persetujuan itu berisi antara lain: Pihak Sekutu akan tetap menempatkan pasukannya di Magelang untuk melakukan kewajibannya melindungi dan mengurus evakuasi pasukan Sekutu yang ditawan pasukan Jepang (RAPWI) dan Palang Merah (Red Cross) yang menjadi bagian dari pasukan Inggris. Jumlah pasukan Sekutu dibatasi sesuai dengan tugasnya. Jalan raya Ambarawa dan Magelang terbuka sebagai jalur lalu lintas Indonesia dan Sekutu.  Sekutu tidak akan mengakui aktivitas NICA dan badan-badan yang ada di bawahnya.    

Pihak Sekutu temyata mengingkari janjinya. Pada tanggal 20 November 1945 di pertempuran Ambarawa pecah  pertempuran antara TKR di bawah pimpinan Mayor Sumarto dan pihak Sekutu. Pada tanggal 21 November 1945, pasukan Sekutu yang berada di Magelang ditarik ke Ambarawa di bawah lindungan pesawat tempur. Namun, tanggal 22 November 1945 pertempuran berkobar di dalam kota dan pasukan Sekutu melakukan terhadap perkampungan di sekitar Ambarawa. Pasukan TKR di Ambarawa bersama dengan pasukan TKR dari Boyolali, Salatiga, dan Kartasura bertahan di kuburan Belanda, sehingga membentuk garis medan di sepanjang rel kereta api yang membelah kota Ambarawa. Sedangkan dari arah Magelang pasukan TKR Divisi V/Purwokerto di bawah pimpinan Imam Androngi melakukan serangan fajar pada tanggal 21 November 1945. Serangan itu bertujuan untuk memukul mundur pasukan Sekutu yang bertahan di desa Pingit. Pasukan yang dipimpin oleh Imam Androngi herhasil menduduki desa Pingit dan melakukan perebutan terhadap desa-desa sekitarnya. Batalion Imam Androngi meneruskan gerakan pengejarannya. Kemudian Batalion Imam Androngi diperkuat tiga hatalion dari Yogyakarta, yaitu Batalion 10 di bawah pimpinan Mayor Soeharto, Batalion 8 di bawah pimpinan Mayor Sardjono, dan batalion Sugeng.

Akhirnya musuh terkepung, walaupun demikian, pasukan musuh mencoba untuk menerobos kepungan itu. Caranya adalah dengan melakukan gerakan melambung dan mengancam kedudukan pasukan TKR dengan menggunakan tank-tank dari arah belakang. Untuk mencegah jatuhnya korban, pasukan TKR mundur ke Bedono. Dengan bantuan Resimen Dua yang dipimpin oleh M. Sarbini, Batalion Polisi Istimewa yang dipimpin oleh Onie Sastroatmojo, dan batalion dari Yogyakarta mengakibatkan gerakan musuh berhasil ditahan di desa Jambu. Di desa Jambu, para komandan pasukan mengadakan rapat koordinasi yang dipimpin oleh Kolonel Holland Iskandar. Rapat itu menghasilkan pembentukan komando yang disebut Markas Pimpinan Pertempuran, bertempat di Magelang. Sejak saat itu, Ambarawa dibagi atas empat sektor, yaitu sektor utara, sektor timur, sektor selatan, dan sektor barat. Kekuatan pasukan tempur disiagakan secara bergantian. Pada tanggal 26 November 1945, pimpinan pasukan dari Purwokerto Letnan Kolonel Isdiman gugur maka sejak saat itu Kolonel Sudirman Panglima Divisi V di Purwokerto mengambil alih pimpinan pasukan. Situasi pertempuran menguntungkan pasukan TKR.

Kehadiran Kol. Soedirman memberikan napas baru kepada pasukan-pasukan RI. Koordinasi diadakan di antara komando-komando sektor dan pengepungan terhadap musuh dengan memutus jalur komunikasi pasukan lawan dengan induknya dan menutup semua akses musuh keluar dari kepungan. Ini siasat perang moderen. Karena sebelum serangan kolosal dilakukan , pasukan khusus di kirim ke pusat markas musuh untuk melakukan sabotase melumpuhkan saluran komunikasi radio. Dan harus di lakukan dengan cepat mengingat sistem perlindungan pasukan musuh per sektor sangat solid karena di dukung pasukan udara yang canggih. Serangan harus seperti air bah. Tidak boleh terhenti karena apapun dan serentak dari segala sektor. Karenanya perlu dukungan dan Kordinasi yang hebat serta disiplin yang tinggi untuk mengikuti alur komando. Soedirman di dukung pasukan dari Yogyakarta, Solo, Salatiga, Purwokerto , Magelang, Semarang , dan lain-lain. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana mungkin prajurit muda dan pemuda yang tak pengalaman tempur secara kolosal harus menghadapi prajurit sekutu yang berpengalaman dalam perang dunia Kedua. Tapi mereka siap tanpa ragu menjemput takdirnya.

Seusai sholat subuh berjamaah , letusan tembakan sebagai isyarat dimulainya serangan umum pembebasan Ambarawa, terdengar tepat pukul 04.30 WIB pada 12 Desember 1945. Pejuang yang telah bersiap-siap di seluruh penjuru Ambarawa mulai merayap mendekati sasaran yang telah ditentukan, dengan siasat penyerangan mendadak secara serentak di segala sektor. Seketika, dan segala penjuru Ambarawa penuh suara riuh desingan peluru, dentuman meriam, dan ledakan granat. Serangan dadakan tersebut diikuti serangan balasan musuh dengan hujan roket dan senjata berat yang di dukung kendaraan panser. Sekitar pukul 16.00 WIB, TKR berhasil menguasai Jalan Raya Ambarawa Semarang, dan pengepungan musuh dalam kota Ambarawa berjalan dengan sempurna. Karena persediaan logistik maupun amunisi sudah berkurang. Pertempuran jarak dekat tak bisa di hindari. Golok berhadapan dengan bayonet dan Sangkur berhadapan dengan bambu runcing. Kesaksian perwira inggeris mengambarkan suasana ketika itu bahwa perang Ambarawa perang yang paling brutal dan heroik. Prajurit sekutu yang terlatih dalam perang pacific praktis tak berdaya dengan gagah beraninya pemuda dan tentara menghadang maut.

Pertempuran berakhir dengan kemenangan gemilang pada pihak TKR. Serangan pembebasan Ambarawa yang berlangsung selama empat hari empat malam dilancarkan dengan penuh displin dan pantang menyerah. Ketika perang itu berlangsung usia mereka masih d bawah 30 tahun dan Soedirman sebagai komanda lapangan baru berusia 29 tahun. Dari sini muncul perwira muda cemerlang seperti Imam Adrongi, Soeharto, Soegeng, Sarbini dll.Mereka semua alumni sekolah kepanduan Hisbul Wathan ( HW) di bawah asuhan Muhammadiah, yang kemudian di bina oleh jepang sebagai pasukan inti PETA. Dari perang Ambarawa itu menaikan nama nama hebat seperti Soedirman,  Soeharto , A Yani , Sarwo Edie,  Gatot Subroto, dll yang kelak jadi generasi penentu melawan hegemoni PKI terhadap Soekarno dan berhasil menumpas pihak yang ingin memisahkan diri dari Republik Indonesia dan yang ingin merubah Pancasila sebagai dasar negara . Mereka menjadi inspirasi hebat bagi generasi TNI sekarang untuk menjadikan NKRI harga mati dan Pancasila akan bela sampai mati. Peristiwa Ambarawa di peringati sebagai hari infantri oleh TNI.

Bagaimanapun kita bersyukur bahwa negara ini berdiri karena jasa para pemuda pemberani. Karena agama di yakini sebagai pemersatu untuk tegaknya keadilan, dan tidak dipakai untuk saling membenci apalagi saling fitnah..

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...