Monday, July 18, 2016

Erdogan dan Geopolitik nya...


Bagaimana politik regional Erdogan setelah aksi kudeta yang gagal ini ? tanya teman saya. Soal  ini saya masih tingat tahun 2008 saya di ajak teman untuk melakukan investasi di Turki untuk membuka lahan perkebunan. Sebelum saya memasuki pembicaraan lebih serius, saya minta pendapat dari consultant for global strategy yang punya reputasi tinggi.  Setelah saya membaca laporan itu,saya terhenyak. Betapa tidak. Karena ini kali pertama saya membaca laporan yang tidak biasa namun memberikan pencerahan kepada saya luar biasa.  Atas dasar itu saya memutuskan mundur dari rencana investasi itu. Namun selang 2 tahun kemudian teman dari China menanamkan uangnya di Turki dengan menggandeng mitra local. Belakangan dia sendiri merasakan betapa keadaan tidak stabil. Semakin kokoh kekuatan Erdorgan,  korupsi semakin sistematis. Sepertinya rezim Erdorgan sengaja membangun kekuatan dari system korup, yang pada waktu bersamaan menjadikan agama serta subsidi sebagai cara membujuk rakyat untuk terus melegitimasi kekuasaannya. Pertumbuhan ekonomi selama ini terkesan fake growth karena di picu oleh utang dan banjirnya likuiditas akibat suku Bunga AS yang rendah. Rasio Debt2GDP Turki sudah mencapai 37%. Rasio  DSR mendekati 70%. Rasio ini sudah mengindikasikan Turki di ambang insolvent. Nasip Turki akan menyusul anggota EU yang gagal bayar.

November tahun lalu ketegangan Turki-Rusia memanas karena pesawat SU-24 milik Rusia ditembaki oleh militer Turki hingga terbakar dan jatuh di perbatasan Turki dan Suriah, Turki mengklaim bahwa Rusia telah dengan sadar memasuki wilayah mereka. Karena serangan tersebut 1 pilot Rusia bernama Oleg Peshkov tewas setelah melontarkan diri dan akhirnya ditembaki oleh militer Turki yang berada di Suriah. Keadan ini semakin membuat Turki tergantung dengan Negara Eropa dan AS untuk melepaskannya dari krisis ekonomi. Namun Obama tidak memberikan bantuan yang significant, bahkan Turki di keluarkan dari Negara yang tergantung dari kebijakan moneter AS. Amerika sudah tidak tertarik dengan gaya Erdogan yang terkesan dictator. Gulen yang dianggap musuh Erdogan kini ada di bawah perlindungan pemerintah AS. Erdorgan tetap membujuk Obama. Caranya menjalin rekonsiliasi dengan Israel. Rekonsiliasi terjadi namun Israel tidak sepenuhnya ikut dengan syarat yang di tetapkan dan ini memancing sentiment negative dari koalisi Erdorgan. Erdorgan melancarkan permainan  dua kaki sambil berharap Amerika atau Rusia terpengaruh atas maneuver politik regionalnya. Caranya ?

Erdorgan berusaha melirik ke Rusia dengan permintaan maaf secara pribadi ke pada Rusia atas insiden penembakan pesawat tempur Rusia di Syiriah. Namun di sikapi dingin oleh Rusia karena masih berharap permintaan secara resmi atas nama Turki dan Turki belum bersikap. Tahun 2015 saya bertemu lagi dengan consultant strategy global yang dulu pernah memberikan saya nasehat. Menurutnya kalau ingin selamat , Erdogan harus menerima kenyataan agar keluar dari oligarki kekuasaan yang ada di AS. China yang koalisi dengan Rusia sudah lebih proaktif membantu Turki melalui pinjaman miliaran dollar. Ada lima alasan mengapa Erdogan melirik ke Rusia.  Alasan pertama, dukungan elite politik Turki yang selama ini setia kepada Erdogan nampak melemah dan memilih menjadi oposisi diam karena sikap rezim Erdogan yang terkesan diktator, mengabaikan hak hak demokrasi, terutama terjadi ketegangan antara pemerintah dengan kelompok kurdi. Juga dampak buruk dari kebijakan rekonsiliasi dengan Israel. Isyu kerjasama bisnis Israel dan Turki untuk memasok  gas lewat jalur pipa gas sepanjang 550 KM  menuju kota pelabuhan Mersin, Turki itu terletak di Selatan negara tersebut dan di pesisir pantai Timur Laut Mediterania. Rencana ini juga belum nampak kemajuan berarti. Gas masih tergantung dengan Rusia.

Alasan kedua, ketidakstabilan politik dalam negeri ini juga datang di saat ekonomi Turki sedang memburuk. Pertumbuhan ekonomi melambat, korupsi merajalela dan investasi asing mengering. Belum lagi sangsi Rusia telah menyulitkan Turki karena 55% gas alam di suplai oleh Rusia. Berdampak penerimaan devisa menurun drastis. Karena 20% penerimaan sector pariwisata berasal dari Rusia. Sebagian besar jasa kontraktor Turki mendapatkan pekerjaan proyek APBN Rusia yang bernilai miliaran dollar. Pembeli utama produk pertanian Turki adalah Rusia. Erdogan butuh perbaikan ekonomi Turki sebagai alat melanggengkan kekuasaanya. Karena kalau ekonomi terus turun maka rakyat yang tadi di belakang dia akan berbalik menjatuhkannya. dan di sini Rusia dapat memainkan peran yang sangat penting untuk menyelamatkan Erdogan. Alasan Ketiga, Erdogan menyadari bahwa campur tangan Rusia di Syria mendukung rezim Assad jauh lebih efektif secara politik dan rencana Turki menjatuhkan Presiden Bashar al-Assad praktis gagal. Erdogan mungkin juga ingin menemukan cara untuk menenangkan situasi di Syria dan mengurangi risiko ketidakstabilan Suriah mengarah ke Turki. Dan ini perlu Rusia membantunya.

Alasan Keempat, Pemilu yang akan datang di AS akan mengakhiri masa jabatan Obama. Erdogan harus menjaga diri dari perubahan kebijakan politik AS terhadap Turki yang kemungkinan tidak menyukai kebijakan Erdogan dalam membangun demokrasi di Turki. Kalau ini terjadi tidak menguntungkan partai Erdogan. Sikap kepada Rusia adalah posisi tawar yang strategis dengan AS. Alasan Kelima, walaupun upaya untuk rekonsiliasi dengan Moskow telah di lakukan, Guncangan tabrakan "Brexit" mungkin sebagai pemicu Erdogan harus menemukan cara untuk melindungi diri terhadap dampak dari ketidakstabilan Eropa. Karenanya ia berharap peningkatan hubungan dengan Rusia dapat membantu dia keluar dari krisis domestik maupun regional. Bagi Rusia ,ini kesempatan untuk menggunakan bantuan Turki dalam upaya menstabilkan Suriah dan menemukan solusi kemenangan politik di Suriah pada khususnya dan Timur tengah pada umumnya.

Teman saya sebagai consultant global strategy mengatakan kepada saya bahwa manuver Turki ini secara geopolitik merugikan AS. Apabila Turki menjalin rekonsiliasi dengan Rusia maka peta politik regional akan berubah drastis. Dampaknya bisa membuat konplik baru. Maklum biasanya proxy AS yang ada di Turki akan melancarkan serangan keras kepada rezim Erdorgan dan ini akan menimbulkan konplik baru. Tentu dampaknya akan mendorong harga minyak terkerek keatas. Mengapa? Ya karena jalur pipa minyak dan gas alam ke Eropa melintasi Turki akan terganggu dan ini akan mendorong harga minyak naik. Namun nampaknya Obama tidak terpengaruh dengan manuver Erdogan ini, bahkan Obama menilai langkah Erdogan untuk rekonsiliasi dengan Rusia suatu hal yang positip khususnya bersatu melawan ISIS. Dan bila Turki pada akhirnya menjalin aliansi dengan Rusia maka otomatis China akan ikut mem back up nya. Rekonsiliasi dengan Israel akan bubar. Ini akan meningkatkan popularitas Erdogan di hadapan Elite Politiknya. Selanjutnya Turki akan bersama iran dan suriah berhadapan dengan israel.

Namun masalahnya apakah rakyat Turki yang sebagian besar bermahzab Sunni mau menerima aliansi dengan Rusia yang otomatis bersama Iran yang syiah ? Akankah Israel berdiam diri? Apakah presiden AS yang terpilih kelak mampu menolak lobi oligarki kekuasaan yang mendukung Israel ? Kalau Erdogan berani melakukan akrobat politik ini maka AS akan berupaya menjatuhkannya, dan tentu Rusia tidak akan tinggal diam. Namun demi ekonomi dan kemakmuran rakyat, di era globalisasi ini setiap pemimpin harus menentukan pilihan yang tepat. Ini bukan soal agama atau mahzab atau idiologi tapi soal ekonomi. Apalagi seperti Turki yang diapit oleh dua kekuatan besar dan berada di kawasan yang paling strategis bagi Barat dan Timur.

1 comment:

Unknown said...

Oh ya,......

Wahyu dan Zaman

  Wahyu yang selama ini dikenal dan dipahami oleh umat Islam berbeda dengan fakta dan klaim sejarah. Karena wahyu yang absolute hanya saat w...