Wednesday, July 13, 2016

Agama dan berpikir ?


Saya sering menulis tentang spiritual tanpa menyitir ayat atau firman Allah , ternyata di like bukan hanya oleh mereka yang beragama islam tapi juga  non islam. Padahal semua pesan dalam tulisan itu saya dapat dari firman Allah dan hadith Nabi. Mengapa ? karena pesan spiritual sosial adalah hubungan horizontal antara manusia dengan manusia. Ini bahasa universal , apalagi di sampaikan berdasarkan ajaran Islam maka ia bukan hanya universal tapi semesta ,lintas waktu.Tentu di terima oleh semua orang.  Tapi kalau sudah bicara hubungan vertikal atau hubungan antara kita dengan Allah maka keadaannya lain. Bukan hanya dengan non muslim yang tidak akan dapat like tapi juga banyak dari kalangan islam juga tidak sependapat. Bahkan kalau saya mencoba membangun teori dengan pemikiran bebas terhadap firman Allah dan hadith maka orang islam akan cap saya islam leberal karena pendapat saya tidak sesuai dengan ulama yang di imaninya. Kalau saya ladenin maka hubungan kemanusiaan saya dengan dia akan rusak. Mengapa ? karena itu akan jadi ajang pertengkaran.

Memang aneh dalam beragama. Kalau bicara hubungan dengan Allah akan selalu saja menjadi medan perang dalil. Seakan kebebasan berpikir di haramkan. Padahal Allah sendiri dengan jelas mengatakan bahwa gunakan akalmu. “Sesungguhnya didalamnya terdapat tanda-tanda (ayat) bagi orang-orang yang menggunakan aqlnya . Tidak sedikit Al Quran dalam ayat-ayatnya menganjurkan dan mendorong manusia supaya banyak berfikir dan mempergunakan akalnya. Banyak variasi kata dalam al Quran yang menggambarkan aktifitas berfikir, bukan hanya aql tetapi juga kata-kata seperti : Nadzara; melihat secara abstrak, dalam artian berfikir dan merenungkan, Tadabbara; merenungkan, Tafakkara; berfikir, Faqaha; mengerti, faham, Tadzkkara; mengingat, memperoleh peringatan, memperhatikan, Fahima; memahami, Selain itu juga terdapat alam al Quran sebutan-sebutan yang memberi sifat berfikir bagi seorang muslim yaitu : Ulul Albab ; orang berfikiran, Ulul Ilmi; orang yang berilmu, Ulun Nuha; orang bijaksana. Berkaitan dengan filsafat Islam, Integralitas wahyu dan Akal adalah sebuah keniscayaan, dimana posisi akal dapat berdampingan dengan wahyu yang transendental untuk ‘melihat’ kehadiran Tuhan dalam relitas kehidupan.

Lantas bagaimana bedanya hubungan antara konsep berpikir hubungan antar manusia dengan hubungan dengan Allah?  Kalau anda berhubungan dengan manusia tanpa dasar Tauhid maka itu hanya akan jadi hubungan transaksional. Anda berbuat baik karena berharap orang lain juga berbuat baik kepada anda. Anda inginkan damai agar orang lain juga tidak menyerang anda. Tapi kalau harapan tidak bersua dengan kenyataan , anda pasti kecewa. Artinya ketika anda berbuat sesuatu  tidak ada kesan positip pada jiwa kecuali rasa kawatir kalau harapan tidak  bersua kenyataan. Dan bila benar buruk yang didapat , anda kecewa. Kalau baik yang di dapat ,anda senang. Artinya dalam proses kehidupan anda sangat tergantung dengan situasi dan kondisi di masa depan. Hidup anda renta.  Bagaimana dengan perbuatan yang di dasarkan kepada Tauhid ? Kita berbuat baik  tidak tergantung kepada manusia. Tidak berharap kepada manusia. Kita berbuat baik dan bergantung hanya karena Tuhan. Apa yang terjadi dengan jiwa kita ? Ketika kita berbuat,  jiwa kita merasa bahagia dan bila yang buruk yang terjadi kita sudah siap karena kita percaya bahwa setiap keimanan yang di dasarkan  niat baik serta perbuatan baik akan selalu di uji oleh Allah. Mengapa ? agar kita semakin matang secara kejiwaan. Jadi baik dan buruk yang kita dapat dari perbuatan baik kita , selalu baik untuk perkembangan jiwa kita. Kita sehat lahir dan batin karena situasi dan kondisi yang ada. Kini atau besok sama saja. Indah kan.

Kalau benar bahwa cara berpikir berdasarkan Tauhid itu menentramkan, lantas bagaimana caranya? Bukankah banyak orang beragama tapi justru spiritual sosialnya miskin sekali.  Kembali lagi persepsi anda tentag Allah harus di perbaiki dulu.  Persepsi tentang agama itu juga harus di perbaiki.  Kalau anda anggap cara berhubungan dengan Allah itu rumit maka agama akan menjadi cara yang rumit di laksanakan sehingga tidak semua orang bisa memahaminya. Ini salah. Allah itu tidak rumit di dekati. Agama bukan hal yang sulit di laksanakan dan dipahami. Yang rumit adalah cara umatnya yang berpikir ekslusif karena akalnya di penjara. Anda harus melaksanakan ritual yang diajarkan oleh Agama. Ritual ini keliatannya seperti sulit dipahami oleh akal. Tapi mudah di pahami. Mengapa ? Karena kita tinggal di dunia dan terikat dengan aksi dan reaksi. Hubungan anda dengan Tuhan yang imaginer itu tidak akan menyatu tanpa ritual seperti  contoh dalam islam melaksanakan syahadat ,  sholat , puasa, zakat dan haji. Kalau kegiatan ritual ini anda lakukan secara rutin dengan disiplin tinggi maka secara kejiwaan akan melekat menjadi auto response terhadap realita yang ada. Tapi kalau anda tidak melakukan ritual maka informasi tentang Tuhan hanya akan berputar putar di dalam pikiran anda tanpa bisa menjadi sebuah keyakinan. Mengapa ? karena memahami Tauhid tidak bisa hanya di selesaikan dengan akal tapi juga harus melalu prosesi ritual.

Bahwa melaksanakan ritual dalam agama adalah hubungan antara kita dengan Allah. Hanya Allah yang berhak menilai dan kalau kita lalai maka hanya Allah yang berhak mengampuninya. Apabila ritual kita baik maka secara ke jiwaan kita kuat. Hubungan dengan manusia di sikapi sebagai cara kita beribadah kepada Allah tanpa berharap kepada manusia kecuali kepada Allah semata. Tapi kalau persepsi kita secara ritual salah maka hubungan dengan manusia menjadi transaksional ,tak ada bedanya dengan orang yang tak ber-Tauhid. Anda melaksanakan ritual karena berharap sorga dari Allah. Anda berdoa agar dapat berkah dari Allah. Dan ketika doa tidak bersua dengan harapan maka keberadaan Allah di pertanyakan. Keadilan Allah di ragukan. Secara ke jiwaan, agama tidak membuat anda kuat malah renta , baik secara realita maupun secara imaginer. Anda suka marah dan kecewa bila orang tidak seperti yang anda suka. Mudah berprasangka  buruk. Mari perbaiki konsepsi berpikir secara Tauhid untuk meninggikan kalimah Allah melalui hubungan dengan sesama manusia yang menentramkan bagi siapa saja. Ingat bahwa perbuatan dosa kepada orang lain tidak akan di ampuni Allah bila tidak mendapatkan maaf dari orang yang anda zolimi walau ia bukan seiman dengan anda.

2 comments:

Zafira Lovers.Indonesia said...

Saya sepakat, prespektif Tauhidlah yg akan membuka simpul aplikasi ibadah dan pemahamannya yanh lain. Krn Tuhan itu benar2 ada dan bukan imajiner belaka.. #like

Zafira Lovers.Indonesia said...

Saya sepakat, prespektif Tauhidlah yg akan membuka simpul aplikasi ibadah dan pemahamannya yanh lain. Krn Tuhan itu benar2 ada dan bukan imajiner belaka.. #like

Dosa kolektif.

  Kalaulah kerajaan di Nusantara ini tidak membuka pintu kepada Inggris, perancis, pertugal, belanda  untuk datang berniaga, mungkin tidak a...