Thursday, May 19, 2016

HIdup bermakna..

Minggu lalu saya datang ke Medan. Saya bertemu dengan bekas mentor bisnis saya.  Sudah lama tidak bertemu. Terakhir saya bersama dengan dia tahun 1996. Kami berpisah karena dia memutuskan untuk mundur sebagai businessman.  Usahanya di serahkan kepada professional dan dia hanya berindak sebagai presiden komisaris. Belakangan putranya berhasil menempati posisi sebagai Presiden direktur. Posisi yang di capai oleh putranya itu tidak dengan mudah.  Karena harus melalui proses berkompetisi dengan professional lainnya. Dia mendidik putranya tidak dibawah  bayang bayang dirinya tapi memang memberikan kebebasan putranya untuk berkembang. Harta tidak membuat keluarganya mabuk tapi menyadarkan keluarganya bahwa harta itu adalah berkah yang harus mereka syukuri dengan menjaganya agar menjadi sarana berbagi untuk ribuan karyawan dan mitra.

Saya tidak akan membahas tentang putranya tapi saya ingin membahas tentang dia. Setelah pension sebagai businessman , dia kembali ke daerah dimana dia pernah di lahirkan. Dia kembali ke desa dimana dia merasa pulang kepada ke sejatiannya. Setelah sekian jauh jalan di tempuh , tergiring arus besar dan di lamun ombak sehingga mengantarkan dia ke segala penjuru dunia mencari rezeki Allah. KIni dia menemukan keramahan atas dasar ketulusan. Sangat berbeda dengan kehidupan dia yang sebelumnya dimana segala sesuatu harus pamrih dan memastikan harus berujung ada uang yang di dapat. Di desa dia menemukan orang hidup dengan cara sederhana. Bukan mereka tidak butuh kekayaan dan malas bekerja keras. Tapi memang mereka tidak menjadikan hidupnya habis untuk memikirkan uang dan kehormatan. Sikap hidup seperti ini tidak salah namun tidak juga seratus benar. Hidup adalah bergerak dan berubah karena waktu. Menerima pasrah atas kehidupan tidak sesuai dengan fitrah manusia dan sunatullah.

Karenanya dengan pengalaman dan pengetahuan yang dia punya, dia ingin berbuat sesuatu terhadap penduduk desa.  Setiap hari ada saja orang kampong datang ke rumahnya untuk bersilahturahmi. Setiap waktu pula dia tidak lupa  memotivasi mereka agar berbuat sesuatu yang bisa memakmurkan mereka. Tidak elok membiarkan waktu dan potensi hilang begitu saja. Agama memang mengajarkan kita tidak perlu mengejar harta tapi Tuhan tidak pernah mengirim makanan ke sarang burung.  Kemakmuran harus di perjuangkan seperti burung yang terbang melintasi pulau menghadang musim untuk mendapatkan makan. Kepala desa mengumpulkan orang kampong untuk mendengar pencerahan dari dia. Semakin hari semakin banyak orang di sadarkan bahwa kesempatan selalu ada dan kemakmuran itu bukan hal yang tak mungkin asalkan ada kemauan untuk berubah.

Berawal dari usaha peternakan sapi dengan memanfaatkan kebun sawit yang dimilikinya dan kemudian dari rumput yang ada dari kebun sawit di samping untuk pakan ternak juga di ekspor ke Australia. Sampah pelepah pohon sawit dan cangkang sawit di olah jadi pallet untuk bahan bakar listrik yang juga di ekspor ke China. Semua di kerjakan secara gotong royong oleh penduduk desa. Bukan hanya satu desa tapi beberapa desa yang ada di sekitar perkebunan sawit  ikut bergabung. Berawal dengan niat baik untuk memperdayakan orang lain akhirnya berimbas positip terhadap dirinya sendiri. Ketika harga sawit jatuh yang membuat bisnis tidak feasible untuk di kelola, justru usaha sosialnya memberikan manfaat bagi warga desa dan ini juga di manfaatkan oleh buruh sawit, tentu memberikan pemasukan bagi perusahaan. Pemasukan itu bahkan lebih besar dari hasil kebun sawit sebelumnya. Di kala krisis datang , kebersamaan dan gotong royong mampu menyelesaikan masalah keseharian tanpa harus meratapi keadaan. Semua karena pemahaman agama dan budaya tidak hanya sampai sebatas retorika tapi mampu diterjemahkan dalam bentuk perbuatan nyata sebagai sebuah spiritual sosial yang memberikan harapan bagi semua.

Menurutnya hidup ini memang harus terus bergerak.  Ketika saya pension orientasi saya bukan lagi uang tapi social. Tapi kegiatan social yang didukung oleh pengalaman dan pengetahuan yang mumpuni bisa berguna bagi orang lain dan tentu akan membuat kita tidak pernah sendirian. Akan selalu merasa di perlukan. Inilah yang membuat hidup kita penuh energi dan cahaya. Menjadikan usia sebagai berkah Tuhan untuk berbuat dan berbagi. Karena pada akhirnya hidup bukanlah apa yang kita dapat tapi apa yang kita beri. Bukan apa yang kita pelajari tapi apa yang kita ajarkan.  Bukan apa yang kita ketahui tapi apa yang kita beri tahu. Dari sisa usianya yang semakin menua dia berhasil membuat hidupnya lebih berarti. Masyarakat dan perusahaan sama sama mendapaktan kemakmuran, yang pada gilirannya Negara akan mendapatkan pajak untuk mendukung program social pemerintah membuat negeri ini bergerak kedepan kearah sebuah harapan yang lebih baik…


1 comment:

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...