Monday, May 02, 2016

Keadilan..

12-13  Mey 1998 . Jakarta guncang, tegang, dan suasana menakutkan. Entah dari mana datangnya gerombolan orang membakar gedung dan mall. Api dengan asap hitam membumbung di empat wilayah jakarta. Merusak apa saja yang di miliki etnis china. Nampaknya ini aksi balas dendam, kata sebagian orang. Penyababnya kecemburuan sosial terhadap etnis china. Soeharto sebagai creator dan Golkar  sebagai designer poltik ketidak adilan tetap aman aman aja tanpa seujung rambut di ganggu rumahnya. Gerakan kaum berjuis berperut buncit. Revolusi? Mungkin itulah yang dibayangkan para pelakunya. Entah siapa itu. Tapi, bagi saya, hari itu yang terjadi sebuah aksi tanpa ide. Kreatornya kerusuhan di bulan mey itu nampaknya paham betul metodelogi komunis mencapai tujuan.Ganyang ! Tapi tahukah dia ? memang revolusi Lenin berangkat dari kesenjangan ekonomi dan sosial . Dari situ disusun program menyeluruh. Tujuannya rebut kekuasaan, perubahan di ciptakan. Revolusi Oktober 1917 di Rusia jadi teladan. Tapi sang kreator bulan Mey, Gatot alias gagal total. Dia tidak secerdas lenin. ! Bahkan pantas disebut bego. Pecundang.

Beda dengan Revolusi Prancis yang di ledakan tanpa program apapun.Tapi, itu juga sebuah revolusi besar: dengan itu dasar baru masyarakat diletakkan dan tak bisa diubah lagi. Perebutan kekuasaan—sang raja dipenggal—bahkan jadi tanda zaman baru: tak ada lagi yang kekal di takhta itu. Revolusi Prancis juga tak hanya meletus dari konflik sosial, dan sebab itu melibatkan orang ramai. Ia sambungan cita-cita yang lahir dari konflik sosial itu, yang dirumuskan oleh para pemikir dan disaripatikan dalam semboyan liberté, egalité, fraternité. Tahun 1945 di Indonesia juga sebuah ”revolusi”. Sebab sejak itu, sejak kekuasaan berpindah tangan dari Hindia Belanda dan Jepang, Indonesia tak bisa ditarik kembali ke kerangkeng kolonialisme. Bertahun-tahun sebelumnya, gagasan tentang sebuah bangsa dicanangkan dan sejak 1945 bangsa itu bersedia mati untuk merdeka. Dari kancah mereka yang bersedia mati itu Pramoedya Ananta Toer, dalam Di Tepi Kali Bekasi, bersaksi tentang sebuah ”epos revolusi jiwa”. Revolusi: awal transformasi yang tak dapat dibalikkan. Tapi Muso mencoba copy paste revolusi 45 dengan PKI nya. Belum sempat api besar namun telah membantai banyak ulama dan petani yang tidak sealiran. Hanya sebentar api padam oleh kekuatan TNI bersama rakyat. Gagal total.

Tahun 1966 paska G30S PKI, saya masih kecil usia 3 tahun.Namun dari cerita paman saya ada pembantaian dengan korban para anggota PKI atau yang dicurigai jadi pendukung. Ya, ada hal-hal yang mengerikan dan busuk. Pelan-pelan tampak bahwa militer mengambil alih gerak perubahan politik yang dipelopori mahasiswa ke arah sebuah rezim baru yang antidemokrasi. Sebetulnya ada hasrat demokratisasi yang kuat di tahun 1966, ketika para aktivis merobohkan sistem ”demokrasi terpimpin” Bung Karno. Suara untuk mengukuh­kan hak-hak asasi manusia terdengar nyaring, usaha me­negakkan kemerdekaan pers dan rule of law serius. Apa yang dicita-citakan itu kemudian memang dikhia­nati. Namun yang terjadi bukan hanya kemarahan. Juga bukan hanya rencana per­ubahan kekuasaan. Yang terjadi adalah gerakan untuk gagasan yang datang dari mulut yang tercekik, perut yang tak tenang. Setelah 1966, demokrasi memang dibalikkan jadi kediktatoran, tapi ada yang sejak itu tak dapat dibalikkan lagi: sistem ”ekonomi terpimpin” ditinggalkan—30 tahun lebih sebelum Cina dan Vietnam meninggalkan sistem ”ekonomi sosialis”.

Setelah 12-13 Mey tahun 1998, tak membuat orgasme politik barisan islam mencapai klimak.Apalagi tokoh poros tengah di jatuhkan dari kursi RI-1 dengan skandal bulog gate. Poros islam jadi "Edi Tansil ". Peristiwa Mey itu tak punya dampak sosial yang berlanjut. Bahkan bisa disebut, amuk hari itu hanya bagian sebuah operasi intelijen, konspirasi elite Golkar dan militer menjatuhkan Soeharto,  lengkap dengan dusta dan propagandanya—sebuah fragmen sejarah yang kelak perlu lebih jelas diungkapkan. Tapi bahwa itu terjadi, di sebuah Mey menunjukkan betapa mudahnya revolusi ditiru. Meskipun harus dicatat: revolusi seperti puisi: sekali dilahirkan, ia tak bisa diulang. Amarah yang meledakkannya dan gairah yang menyertainya tak bisa di copy paste. Tiap usaha mengulangnya akan tampak sok-pahlawan dan absurd. Dulu 1945, 1965 memang berhasil tapi 1948 dan Mey 1998 gagal total dan bila sekarang mau di ulang lagi itu hanya upaya orang bego!.Keadaan telah berubah , rezim tidak bisa berdiri tanpa pengakuan international dan kejahatan HAM akan di buru kemana saja dia sembunyi, dan lagi orang bosan dengan revolusi. Karena pada akhirnya hanya melahirkan para bedebah!

Di suatu malam di pusat kota Beiing , saya meliat wanita bersama anak balitanya sedang berdagang  ubi rebus. Wanita itu duduk memagut kakinya menahan dingin menggigit di bawah suhu 7 derajat celcius. Teman saya yang juga kader partai komunis china berkata “Wanita itu sedang berjuang dengan keyakinannya bahwa dia tidak peduli dengan komunisme, kapitalisme, sosialisme, agama.  Dia hanya peduli kapan konsumen datang membeli dan dia bisa hidup tanpa harus mengemis dihadapan  pemerintah, dan menadahkan tangan dihadapan kaum feodal, meratapi nasip kepada Tuhan. Wanita itu menyadarkan kami bahwa keadilan sosial itu bukan hadiah tapi di perjuangkan oleh setiap orang untuk menghidupi dirinya dan keluarganya, tanpa harus berkeluh kesah. ”

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...