Sunday, February 14, 2016

Sahabat dari masalalu

Kemarin ketemu teman lama.Wajahnya nampak bersih dengan senyum khasnya membuat saya yakin dia sehat. Dia saya kenal lebih dari 27 tahun lalu. Dulu saya dan dia sama sama supplier kediaman Pak Harto di Cendana. Saya supplier ikan dan udang, sementara teman itu mensuplai sayuran yang dia dapat dari Bogor. Setiap akhir pekan kami akan mendapat bayaran langsung dari Ibu Tien. Namun yang membuat kami akrab karena kami sama sama suka olah raga bela diri dan mendengar siraman rohani. Setiap kamis malam kami mengaji kitab Ihya ulumuddin di masjid di bilangan Benhil. Kami menyukai pengajian itu karena gurunya dapat menyampaikan pesan dalam kitab ihya dengan analogi yang tepat dan mencerahkan tanpa ada rasa bosan. Kini, teman itu sebagai pengusaha tanker dengan kantor pusat di Singapore. Dia juga punya saham galangan kapal di Malaysia. Penampilannya tetap seperti dulu, sederhana. Pasih bahasa inggeris, Arab, Cina walau pendidikannya hanya SMU. 

Kami berbicara banyak untuk sekedar mengingat kenangan masa lalu. Alhamdulillah dalam usia diatas 50 tahun dia tetap sehat tanpa ada kurang apapun. Dengan tersenyum dia bertanya “Apakah kamu masih ingat pelajaran mengaji kita dulu? Saya menyebut tentang hikmah dari ayat Al Ashr. Benarlah, katanya setelah lama belajar ilmu agama,akhirnya dia hanya menjadikan QS. al-Ashr [103]: 1-3 sebagai sandaran.. “ Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. Mengapa ? Karena pada Firman Allah itu ada tiga hal yang sangat prinsip yaitu Pertama BERIMAN. Kedua, BERBUAT( amal sholeh). Ketiga, PENASEHAT yang bijak.

Orang yang BERIMAN adalah orang yang menjadikan akalnya sebagai raja namun hatinya sebagai hakim agung untuk menjadikan nafsu sebagai laskar hanya untuk kebaikan. Nafsunya perkasa melewati segala rintangan untuk menjadikan hidup ini sebagai caranya beribadah kepada Allah. Dia percaya kepada Allah , dan dia tentu yakin akan hukum ketetapan Allah bahwa semua hal harus di perjuangkan dengan gigih dan sabar. Nafsu ditempatkan sebagai laskar bukan sebagai raja, apalagi sebagai hakim. Sehingga keberadaan nafsu sebagai suatu rahmat Allah bagi dia untuk melaksanakan ikhtiar mencari rezeki. BIla mendapat dia akan bersyukur dan berbagi, bila gagal, dia akan bersabar.Itu aja.

BERBUAT. Apalah dia, pribumi dari kampung dengan pendidikan terbatas. Dia tidak berpangku tangan dalam doa dan zikir. Dia tidak hidup dalam retorika yang miskin berbuat. Hari hari dia isi dengan kerja keras untuk melewati sunatullah. Kemauan kerasnya belajar mandiri dan kemauan membuka diri terhadap hal hal baru yang ada di luar dirinya , telah membuat dia mampu beradabtasi dengan dunia international dan di akui sebagai pengusaha berkelas dunia dalam usia 50 an. Dia mendidik anak, keluarga, teman tidak dengan kata kata tapi lewat keteladanan. Dia berusaha tidak merasa paling benar dan paling baik , paling berkuasa dihadapan karyawan dan keluarga, sehingga semua kehendak dia harus dituruti. Sejak kami masih muda saya tahu dia,  bagaimana taatnya dia beragama dan paham bagaimana mencintai serta menghargai orang lain. Bahkan dia pacaran dengan wanita non pribumi yang akhirnya dia nikahi setelah pacarnya masuk islam dan setelah itu dia berhasil meng islamkan bukan hanya istrinya tapi juga keluarga besar istrinya. 

PENASEHAT yang bijak. Dia sebagai nice advisor bagi orang lain untuk patuh kepada kebenaran ilahiah. Bahwa jika cobaan sepanjang sungai, maka Kesabarannya seluas Samudra. Jika harapan sejauh hamparan mata memandang, maka tekad mesti seluas angkasa membentang. Jika pengorbanan sebesar Bumi, maka keikhlasan harus seluas Jagad Raya, dan meyakinkan orang untuk mengerti bahwa hidup tidak mudah, dan seyogianya bersabar. Kalau kita mengimbau orang tentang kebenaran dengan cara kasar maka jangankan orang bisa mengerti bahkan menjauh dari kita. Dan lagi ada daya kita?Hak merubah orang ada pada Allah. Tugas  manusia hanya menyampaikan kebenaran dengan bahasa lemah lembut, dan setelah itu berdoa kepada Allah. Biarlah Allah berbuat dengan kekuasaanNYA.

Kata ‘Ashr’ di ayat tersebut bisa juga diartikan waktu ‘Ashr atau shalat Ashar. Allah Subhaanahu wa Ta'aala bersumpah dengan masa yang mencakup malam dan siang; yang merupakan tempat terjadinya perbuatan hamba dan amal mereka, bahwa setiap manusia akan rugi, yakni tidak beruntung sebagaimana diterangkan dalam ayat selanjutnya. Kerugian ada beberapa macam; ada kerugian yang mutlak dan ada kerugian yang hanya sebagiannya saja. Kerugian yang mutlak adalah kerugian di dunia dan akhirat; di dunia mendapatkan kesengsaraan, kebingungan dan tidak mendapatkan petunjuk, sedangkan di akhirat mendapatkan neraka jahannam. Allah Subhaanahu wa Ta'aala meratakan kerugian kepada semua manusia kecuali orang yang memiliki empat sifat; iman, amal saleh, saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabara. 

"Bayangkahlah, bahwa Allah bersumpah bahwa semua manusia merugi kecuali yang bisa menerapkan ketiga hal tersebut." Katanya. Saya tersenyum. " Saya dan kamu selalu ingat tiga hal itu dan berusaha sepanjang usia untuk menerapkan.." Kata saya. Teman itu merangkul saya ...

No comments:

Rakus itu buruk.

  Di Hong Kong, saya bersama teman teman dari Jepang menikmati malam sabtu pada suatu private KTV. Para pramuria nya adalah profesional  ber...