Sunday, September 27, 2015

Buah kebaikan

Dia sudah saya anggap sebagai orang tua. Dia adalah mentor saya dalam business. Bukan saja mentor bahkan ketika saya terpuruk , saya mendatanginya dan dia terima dengan wajah bersih. Dia berkata kepada saya sambil memeluk saya." Kamu tidak bangkrut.Kamu hanya sedang di jewer Tuhan agar kamu sadar bahwa banyak hal yang harus kamu perbaiki agar kamu bangkit menjadi lebih baik. Tenang saja. Saya akan membantumu bangkit kembali. " Walau setelah itu bertahun tahun saya jarang sekali bertemu dengannya. Namun disetiap ada kesempatan saya akan mampir kerumahnya. Dia selalu menceramahi bagaimana harus bersikap dalam bisnis. Dia kristiani namun pribadi kasih sayang sangat lekat pada dirinya .  Dia selalu terbuka kapada siapapun anpa mengenal agama suku atau kedudukan sosial.Itulah mengapa dia diterima oleh siapapun dan hidupnya yang bersahaja telah menjadi inspirasi saya untuk menyikapi hidup dengan rendah hati.  Dia karunia satu anak yang diarahkannya menjadi penggantinya dalam meneruskan business nya yang terus berkembanga. Saya tahu betul bagaimana dia menjadi mentor yang hebat terhadap anaknya. Sejak tamat kuliah sudah diberi kesempatan mengelola satu unit business dan memang terbukti hebat.Like father like son. Itu yang saya ketahui tentang puntranya.

Dia pernah bercerita bertapa dia bangga akan satu satunya putranya. Dia berharap anaknya dapat  melanjutkan usahanya dengan memberikan kesempatannya pensiun diusia 60 tahun. Dia bisa menikmati masa tuanya dengan damai. Benarlah setelah dia pensiun, perusahaannya dibawah kendali putranya dan berkembang dengan pesat. Namun empat tahun lalu atau tepat usianya 78 tahun saya mendengar kabar dia tinggal di rumah Jompo.. Saya berusaha menghubungi putranya prihal berita tersebut. Dijawab bahwa berita itu ada benarnya. Karena putranya tidak bisa mengurus dia yang sudah uzur. Alasanya karena kesibukan. Dan lagi rumah jompo itu dilengkapi fasiitas terbaik dan ongkosnya mahal. Ketika saya mendatangi rumah jompo ttu ,ternyata dia sudah tidak ada ditempat itu lagi. Menurut pengelola rumah jompo bahwa dia sudah diambil oleh seorang wanita. Pengurus rumah jompo memberikan alamat lengkap wanita yang mengambilnya dari rumah jompo. Putranya membenarkan ketika saya beri tahu bahwa dia diambil oleh seorang wanita.Menurutnya wanita itu adalah putri ayanya dari hubungan gelapnya dengan seorang wanita indonesia.Putranya mengizinkan wanita mengurus ayahnya secara pribadi. 

Saya mendatangi wanita itu sesuai alamat yang ada. Benarlah dia ada dirumah itu. Daya ingatnya masih jernih dan nampak tersenyum cerah ketika saya datang menjenguknya. Menurut dia bahwa wanita yang kini yang merawatnya adalah putri dari seorang janda miskin yang bertahun tahun dia tolong. Tidak ada hubungan istimewa.Hanya dia merasa terpanggil menolong karena wanita itu pernah menjadi ART dirumahnya. Dia berlinang air mata sambil berkata " putra saya yang mendapatkan perlindungan dan kesempatan berkembang karena harta saya ternyata menempatkan saya dirumah jompo. .Sementara putri dari seorang janda yang bukan siapa siapa,berikhlas hati merawat saya dimasa tua,tanpa berharap apa apa kecuali melaksanakan amanah dari almarhum ibunya agar berterimakasih atas permberian yang pernah saya berikan." Wanita itu nampak terharu melihat dia berlinang air mata. "saya dan suami memang berkekad merawat ayah. Jangan sungkan bersama kami. Karena ayah telah memberi banyak membuat saya terhormat dengan mendapatkan kesempatan pendidikan terbaik dan mendapatkan suami yang sholeh..Jangan sungkan ya ayah..tenangkan hati ayah..ayah bersama kami dan aman selau karena kami akan mejaga ayah dengan sepenuh cinta kami.."

Saya menahan haru meninggalkan rumah wanita itu..kembali saya disadarkan bahwa kebaikan kepada siapapun tidak akan sia sia Tuhan tidak pernah salah menghitung kebaikan dengan tulus dan selalu cinta ikhlas kerena Tuhan akan mendapatkan sebaik baiknya balasan.

No comments:

Dosa kolektif.

  Kalaulah kerajaan di Nusantara ini tidak membuka pintu kepada Inggris, perancis, pertugal, belanda  untuk datang berniaga, mungkin tidak a...