Tuesday, June 10, 2014

Pilihan...?

Kemarin ketika nonton debat Capres, saya merasakan sedang menonton dua putra terbaik Indonesia berdebat untuk Indonesia yang lebih baik. Walau saya pendukung salah satu capres namun jujur saya katakan bahwa keduanya memang terbaik diatara yang baik atau baik diantara yang buruk. Terserahlah, yang penting mereka bedua memang qualified. Ketika  JK bertanya kepada Prabowo tentang pelanggaran HAM masa lalu dan bagaimana menerapkannya dimasa akan datang. Semua tahu bahwa arah pertanyaan ini ditujukan langsung secara pribadi kepada Prabowo. Karena berdasarkan dokumen resmi Dewan Kehormatan ABRI bahwa Prabowo memang terbukti terlibat dalam penculikan aktifis dan itu semua tanpa izin dari panglima ABRI. Dengan penuh semangat Prabowo menjelaskan yang  intinya adalah apa yang dia lakukan bukanlah pelanggaran HAM tapi justru untuk melindungi HAM mayoritas Rakyat akibat dari ulah segelintir orang. Dari sini seakan Prabowo ingin mengingatkan kepada kita semua tentang difinisi pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Pemerintah. Sepanjang sikap pemerintah itu untuk menjaga agenda nasional demi stabilitas Politik, Stabilitas Keamanan, Stabilitas Ekonomi maka syah saja bila tentara harus menculik aktifis yang berseberangan denga pemerintah dan syah juga bila harus “menghabisi” para aktifis itu. Itu bukan pelanggaran HAM menurut versi Prabowo,versi Orde Baru. Dan lagi dia melakukan itu karena loyalitas sebagai Prajurit yang harus tunduk perintah atasan. Siapakah atasannya? Bukan panglima, tapi Presiden,Soeharto,yang juga mertua tercintanya.

Dengan penjelasan Prabowo yang penuh semangat itu maka semua pembelaan para pendukungnya tentang Prabowo tidak terlibat penculikan dibantas sendiri oleh Prabowo dengan kejujuran sikapnya sebagai seorang serdadu terlatih. Kejujuran inilah yang kita perlukan.Bagaimanapun kita adalah bagian dari masa lalu. Menutupi masa lalu juga tidak baik, apalagi berdusta tentang masalalu. Sebatas ini saya salut kepada Prabowo. Bagaimana dengan Jokowi? Rasa rendah dirinya yang luar biasa dengan mengucapkan terimakasih terlebih dahulu kepada Istrinya karena telah mendukungnya. Ini luar biasa.  Seorang calon Presiden yang dikelilingi oleh orang hebat namun tetap terimakasih pertama diberikan kepada Istri, bukan kepada Ketua Umum Partai atau ketua team sukses Pilpres. Rasulullah pernah bersabda, “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kaian adalah yang paling baik akhlaknya terhadap istri-istrinya.” (HR. Tirmidzi). Bersikap seperti ini tidak mudah. Dari sikap rasa terimakasih kepada Istri ini membuat saya yakin bahwa Jokowi adalah pria yang tahu menempat rasa hormatnya kepada orang terdekat dia , tentu tidak sulit baginya untuk menempatkan rasa hormatnya kepada rakyat yang jauh dari dia. Rasa hormat itu tidak dibangun dengan ancaman culik dan tangkap, tapi dibangun dengan sikap cinta dan kasih sayang. Mau mendengar dan bersedia untuk mengutamakan kepentingan orang lain daripada diri sendiri.

Tidak ada manusia yang sempurna. Namun baik Jokowi maupun Prabowo adalah calon presiden kita. Kalaupun mereka terpilih tidak ada yang luar biasa yang bisa mereka lakukan.Yakinlah.Mengapa? Walau presiden dipilih langsung oleh rakyat dan andai 100% rakyat memilihnya menjadi presiden, dia tetap tidak akan efektif sebagai presiden.Karena dia harus tunduk pada system balance of power dengan DPR yang dikuasai oleh banyak partai. Ini akan sangat melelahkan. Dengan hak yang ada pada DPR maka DPR bisa melakukan apa saja untuk adu kekuasaan dengan presiden seperti misal DPR bisa menghentikan pembahasan APBN dan pemerintahan bisa stuck seperti yang dilakukan oleh Parlement di Amerika. Atau kalau Presiden berani melakukan tindakan revolusioner merubah UUD dan berniat membubarkan Parlemen karena tidak mendapat dukungan dari Parlemen maka militer bisa mengambil alih kekuasaan sesuai UU. Karena walau militer tidak berpolitik namun secara konstitusi, militer bisa mengambil alih kekuasaan bila Presiden menggunakan kekuasaanya melebih UUD. Jadi kesimpulannya, siapapun yang terpilih jadi presiden jangan dituntut dia dengan janjinya seperti katanya dalam Pemilu karena presiden bukanlah satu satunya penentu agenda tapi mereka yang ada di parlemen juga ikut menentukan. Jangan memilih capres karena ada partai Islam dibelakang capres. Jangan. Itu semua tidak ada korelasinya dengan perjuangan membela syariah islam. Ini negeri Pancasila. Itu sudah final. Dalam debat itu , kedua belah pihak sepakat tentang itu. Dengan demikian dasar pertimbangan kita untuk memilih presiden harus lebih focus kepada pribadi calon, bukan agendanya.

Secara umum baik Prabowo maupun Jokowi adalah orang baik. Mereka telah melewati proses seleksi alamiah untuk qualified menjadi presiden di Republik ini. Karenanya cukuplah pertimbangan sederhana untuk keduanya, yaitu pertama, pilihlah mereka yang tidak terjerat hutang. Karena orang yang berhutang adalah orang yang lemah dan tersandera secara moral untuk bersikap. Kedua, pilihlah yang mempunyai keluarga harmonis karena keluarga adalah miniatur dunia. Keluarga adalah latihan bagi setiap pria untuk menjadi pemimpin sejati. Karenanya bila keluarganya baik maka dia akan baik memimpin apapun. Ketiga, pilihlah karena dia lahir dari seorang ibu yang muslim. Karena anak yang lahir dari seorang muslimah sudah mendengar bisikan kalamullah ketika ia didalam kandungan.Ketika lahir dia akan diazankan oleh ayahnya. Keempat, pilihlah karena dia tidak memuji dirinya sendiri, dan rendah hati besikap,yang bukan karena retorika tapi dibuktikan dengan kesehariannya. Apapun pilihan anda, termasuk tidak memilih juga adalah pilihan, akan dipertanggung jawabkan kelak diakhirat.

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...