Friday, October 25, 2013

Dia ikhlas...

Nuri mengundang saya makan siang di Pullman Hotel  karena kebetulan saya lagi ada di Jakarta dan dia juga ada di Jakarta untuk urusan bisnis. Dia tinggal di Balikpapan. Sebetulnya saya mengenal dia dari suaminya. Setelah suaminya meninggal dan dia menjanda, hubungan kami tetap berlanjut sebagai sahabat. Dalam setiap kesempatan, kami berusaha untuk saling berkomunikasi untuk sekedar bersapa. Bila ada waktu kamipun saling bersilahturahmi. Ketika bertemu kemarin, tahulah saya bahwa Nuri yang sekarang berbeda dengan Nuri delapan tahun yang lalu ketika dia terpuruk karena prahara rumah tangganya. Dia sudah menjadi business woman yang sukses dan penuh percaya diri.  Dua tahun setelah suaminya meninggal atau tepatnya tahun 2008 dia saya kenalkan dengan relasi saya di China. Dari perkenalan itu dia mendapat trust dari relasi saya sehingga mereka bermitra untuk berbisnis Batubara. Semua biaya modal untuk bisnis batubara itu berasal dari mitranya di China. Dia hanya bertindak sebagai buying agent. Menurutnya dia jaga kepercayaan relasi saya itu seperti dia menjaga persahabatan dengan saya. Begitulah caranya berterimakasih kepada saya. Tentu dia mendapatkan berkah materi dari business ini. Sejak dua tahun lalu dia bersama mitranya di China sedang mempersiapkan business plan untuk membangun smelter untuk barang tambang di Indonesia. Ini peluang bisnis yang bagus menurutnya sejak pemerintah mengesahkan UU tahun 2009 tentang larangan eksport bahan mentah. Tentu sebentar lagi dia akan jadi industriawan berkelas dunia.

Tapi saya tidak akan bercerita tentang business teman ini. Saya ingin ceritakan disini bahwa Nuri  adalah guru kehidupan saya dalam dunia realita. Karena Allah, Nuri dipertemukan dengan sahabat saya , Burhan. Pria yang gagah dan dari keluarga kaya raya. Jodoh akhirnya bertaut dan Nuri menjadi istri dari sahabat saya itu. Lima tahun perkawinan itu berlansung begitu indahnya. Nuri mendapatkan suami yang sangat mencintainya. Sangat memperhatikannya. Sangat menjaga perasaanya walau dia terlahir dari keluarga miskin. Ketika anak lahir dari rahimnya maka lengkaplah kebahagiaanya. Kedua anaknya wanita yang cantik cantik.  Namun kebahagiaan yang berlangsung lebih dari 6 tahun suatu ketika berubah menjadi prahara. Kedua anaknya meninggal dalam satu kecelakaan ketika dalam perjalanan pulang dari darmawisata. Penyebab kematian inilah yang tidak bisa diterima oleh Burhan dan akhirnnya menyalahkan Nuri sebagai istri. Mengapa? Karena Nuri memerintahkan supirnya untuk menjemput anaknya ditempat wisata dan pulang dengan kendaraan pribadi, bukan dengan bus rombongan. Sementara Nuri sendiri tidak ikut menjemput karena dia sibuk merawat mertuanya ( ibu Burhan ) yang sakit.

Burhan tidak bisa menerima kenyataan itu dan selalu menyalahkan Nuri. Andaikan kedua anaknya  pulang dengan bus rombongan mungkin anaknya masih hidup. Saya tahu précis soal ini. Pernah Burhan berkata kepada saya bahwa ketika kedua putrinya meninggal dengan sangat mengenaskan. Rasanya dunia seperti ditimpakan ketubuhnya. Dia hancur. Bagaimana mungkin , anak belahan jiwanya, darah dagingnya, harus meninggal terjepit didalam kendaraan tanpa ujud utuh. Mengapa ini bisa terjadi pada dirinya. Mengapa ? Dimana keadilan Tuhan ? Seakan harta dan segala yang dia punya tak berarti sama sekali. Andai bisa mengembalikan anaknya  dengan membayar maka dia  akan bayar berapapun. Termasuk bila itu harus melepas seluruh hartanya. Namun yang terjadi terjadilah. Burhan kecewa dengan Nuri karena hanya satu bulan  merasa berduka. Tapi setelah itu Nuri nampak tenang saja. Seperti tidak pernah merasa kehilangan apapun. Sementara Burhan tak pernah bisa melupakan. Kadang terbawa bawa kedalam mimpi.  Burhan merasa Nuri hanya mencintai hartanya  bukan anak anaknya. Nuri merasa aman dengan segala yang Burhan punya. Itu saja. Makanya Burhan putuskan untuk bercerai. Dan Nuri menerima itu tanpa meminta satu senpun harta dari Burhan. Nuri datang dalam keadaan miskin dan keluar dari rumah dalam keadaan miskin pula.

Setahun setelah perceraian itu, Burhan terkena stroke.. Enam bulan setelah itu, Burhan meninggal. Walau terlambat , saya datang melayat kerumah duka di Semarang . Saat itulah saya mendengar cerita Dari Nuri tentang kehidupannya.., inilah katanya : Ketika aku dipinang oleh Burhan. Aku sangat bahagia sekali. Aku yang miskin tak berpendidikan tinggi. Mendadak mendapatkan sesuatu yang diidamkan oleh hampir semua wanita. Tapi pada waktu bersamaan aku serahkan diriku kepada Allah. Agar tetap sabar mendapatkan limpahan kebahagiaan yang dicurahkan Allah lewat seorang pria yang dikirim untukku sebagai suami. Sulit untuk menggambarkan betapa hancur hatiku ketika kedua buah hatiku meninggal dalam kecelakaan. Mereka masih anak anak dan lucu lucu. Tapi, seketika aku sadar bahwa inilah kehendak Allah. Kucoba untuk ikhlas. Keyakinkan diriku hanya ikhlas dalam setiap detak jantungku. Tapi inilah yang membuat suamiku tidak bisa menerima. Dia sangat mencintai segala yang dia punya diatas segalanya. Itupula yang membuatku serba salah ketika aku berusaha membangkitkan jiwanya untuk kuat menerima kenyataan. Tapi dia memang tak pernah mau menerima kenyataan. Akupun diceraikannya.  Abang tahu bagaimana hancurnya hatiku ?. Setelah kehilangan anak, kemudian suami menceraikan dengan kata kata yang pedih. Tapi aku cepat kembali dan ingat akan Allah. Aku ikhlas. Tak ada satupun harta yang kuambil dari suamiku. Tak ada. Inilah caraku untuk membenamkan nafsuku agar tetap ikhlas.

Setiap hari aku terus berdoa kepada Allah agar aku dikuatkan dalam menghadapi segala cobaan. Akupun tak henti memohon kepada Allah agar Burhan dibukakan pintu hidayah. Alhamdulillah,doaku terkabulkan ketika aku dapat kesempatan untuk merawat Burhan yang dalam keadaan sakit. Karena anggota keluarganya semua sibuk dan hanya sempat melihat sekali sekali. Pada waktu itulah aku tak henti mengaji disampingnya. Kubisikan kalamullah ditelingannya. Kusampaikan pula ungkapan maafku atas segala sikapnya padaku. Burhan meninggal dalam keadaan tenang. Memang benar. Begitu banyak orang paham akan makna Ikhlas. Tapi tak banyak orang bisa menerima kenyataan ketika hartanya habis, jabatan melayang, anak meninggal ,suami atau istri meninggal atau suami kawin lagi. Bahkan banyak orang takut terhadap kematian. Bahkan dengan segala macam cara menghindari dari kematian yang tak bisa dielak itu. Padahal semua yang ada dialam semesta ini milik Allah, termasuk nyawa kita. Ikhlas adalah suatu kesediaan kita menyerahkan segala sesuatu yang ada pada diri kita , yang pada waktu bersamaan kita sangat membutuhkannya. Semuanya itu hanya karena cinta kepada Allah. Bisakah ? Nuri telah membuktikan itu.

No comments:

Ujian keimanan

  Banyak orang hebat, tetapi tidak hebat. Sama seperti Mie istant. Mie Ayam tapi bukan ayam. Rasa doang yang ayam. Itupun artificial atau bu...