Thursday, December 27, 2012

Angkutan Massal yang murah..


Dalam business di era sekarang, siapa yang menguasai komunitas maka dialah sebagai pemenang. Ketika komunitas dibawah kendali anda maka banyak hal yang bisa anda lakukan untuk me leverage business itu menjadi valuable dan profitable. Demikian kata teman pengelola consulting strategy. Facebook yang seketika mendapatkan dana miliaran dollar lewat bursa hanya karena ia proven menciptakan komunitas dunia dalam satu platform. Samahalnya dengan jaringan social lainnya seperti Google, Yahoo. Saham perusahaan pengelola jaringan komunitas social itu setiap tahun terus meningkat dibursa. Apa kuncinya mereka bisa mendatangkan komunitas begitu besarnya? Jawabannya adalah kemampuan creative untuk menggugah orang berinteraksi satu sama lain dalam satu platform. Keliatannya sederhana tapi untuk meng implementasikannya tidaklah mudah. Facebook, yahoo, google dan lainnya harus menginvestasikan dana tidak sedikit untuk membuat insfrastruktur database, perangkat lunak dan lain sebagainya. Semua itu tidak dikerjakan sehari tapi bertahun tahun dengan konsistensi idea yang terus diperkaya dan dipertajam demi memanjakan komunitas agar patuh dan setia

Begitu hebatnya kekuatan komunitas meng generate value business. Lantas bagaimana jadinya bila komunitas itu sudah tersedia dan dipaksa patuh karena aturan/Undang undang? Service pun sudah ada. Tentu itu berkah.  Apa itu? Komunitas pengguna jasa angkutan massal. Komunitas itu tidak sedikit dan jumlahnya hampir semua yang menjadi penduduk kota. Tinggal bagaimana caranya membuat komunitas itu menjadi kekuatan membangun value business. Caranya? mari kita lihat Hong Kong. Di Hong Kong ada octopus card yang berfungsi sebagai alat pembayaran pengguna jasa angkutan MTR, Hong Kong express , Bus ,dll. Card ini dapat di isi ulang melalui ATM atau Mesin isi ulang atau Counter (loket isi ulang). Syarat untuk mendapatkan card ini tidak membutuhkan KTP atau apapun. Siapapun ( termasuk orang asing ) bisa mendapatkannya dengan mudah disetiap loket yang ada di stasiun. Setoran awal HKD 50 ( Rp. 50 ribu). Diperkirakan  kurang lebih 10 juta orang sebagai pengguna jasa angkutan mempunyai octopus card. Dengan komunitas sebesar 10 juta orang itu membuat octopus card sangat bernilai dibandingkan money card lainnya sepeti debit card yang diterbitkan oleh Bank. Tidak diperlukan pemasaran untuk mendatangkan member karena by design setiap pengguna angkutan cenderung akan menggunakan octopus card sebagai alat pembayaran.

Benarlah, bila awalnya octopus card hanya digunakan untuk alat pembayaran angkutan umum namun berikutnya berkembang menjadi alat pembayaran untuk apa saja. Akibatnya dapat ditebak,  perputaran dana public dalam octopus card system ini sangat besar sekali.  Bila rata rata per hari pengeluaran orang menggunakan octopus card sebesar HKD 100 (RP. 100,000) maka setiap hari dana berputar HKD 1000.000.000 atau atau Rp. 1 triliun. BIla dari perputaran dana itu pihak provider card mendapatkan fee dari bank sebesar 2,5% maka total fee yang didapat adalah HKD 25 juta atau Rp. 25 miliar per hari. Di Hong Kong , Fee itu sebagai side income dari pengelola MTR yang juga bertindak sebagai Octopus card provider.  Seorang banker yang saya temui di Hong Kong mengatakan bahwa hanya dari fee octopus card saja, sudah lebih dari cukup untuk mengembalikan investasi MTR. Artinya, andaikan pengelola MTR meng gratiskan biaya ticket, tetap saja MTR tidak akan rugi dan investasi tetap dapat kembali tanpa harus subsidi dari PEMDA.  Inilah hidden cash yang sebetulnya dari business insfrastrutkur publik. Pendapatan ini lebih acceptable dibandingkan pendapatan conventional dari penjualan ticket. Makanya tak heran walau fasilitas angkutan massal yang dimiliki Hong Kong sangat mewah namun ongkosnya relative sangat murah dibandingkan tariff angkutan dinegara lain.

Ide Pemda DKI untuk menerapkan e-money sebagai alat pembayaran transjakarta termasuk Kopaja, metro mini yang melintasi jalur busway adalah smart. Ide ini dilontarkan oleh Ahok. Sebelumnya Ahok telah menjalin kerjasama dengan semua Bank di Jakarta untuk mengelola Pajak Online Pemda DKI.  Tentu tak begitu sulit bagi Pemda DKI untuk menarik bank bekerjasama menyediakan debit card ( e-money) untuk alat pembayaran angkutan umum. Diperkirakan ada 10 juta orang komunitas pengguna jasa angkutan umum di Jakarta. Dari komunitas sebanyak ini , dapat dibayangkan berapa perputaran dana dari e-money itu. Apalagi bila kelak e-money itu dapat pula digunakan untuk berbagai transaksi retail. Tentu akan semakin besar perputaran dananya. Seorang teman yang ahli financial analysis mengatakan kepada saya bahwa  tidak perlu lama, bila dalam setahun perputaran dana e-money itu significant maka semua bank akan berlomba lomba memberikan pendanaan bagi perluasan akses angkutan massal , agar semakin banyak orang menggunakan dan semakin banyak pula uang berputar dalam e-money. Mengapa ? ini akan menjadi salah satu cara mudah bagi bank untuk menarik dana tunai public kedalam system perbankan secara tertip dan teratur.

Semoga Jokowi dan Ahok dapat smart mengelola public service obligation ini menjadi business opportunity yang tetap menguntungkan tanpa membebani rakyat dengan tariff yang mahal atau atau murah subsidi. Cukup jadikan penyediaan fasilitas angkutan itu sebagai business concept.  BIla APBD tidak cukup , tidak perlu inferior  dihadapan penyandang dana. Semua bisa dihitung bahwa kekuatan komunitas pengguna jasa angkutan yang menjadi tanggung jawab Pemda DKI adalah potensi business yang lebih dari cukup untuk membiayai semua kebutuhan investasi. Kekuatan ada pada komunitas dan kelolalah kekuatan itu dengan smart, dihadapan lender, banker, dan mitra…untuk menjadikan angkutan massal yang murah. Semua untuk rakyat 

No comments:

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...