Tuesday, December 21, 2010

Sabar ?

Pernah pada satu kesempatan saya pergi ke kampung. Banyak hal yang bisa dinikmati di desa. Khususnya udara yang sejuk dan suasana kekeluaragaan yang begitu kental. Yang pasti senyum begitu murahnya di kampung. Beda dengan dikota. Mungkin ini juga yang membuat orang kota rindu datang kedesa. Tapi diluar itu, ada sesuatu yang lebih saya dapatkan di desa. Seorang kerabat saya , pagi pagi sekali setelah sholat subuh sudah berangkat ke Sawah. Saya sengaja mengikutinya. Dia tersenyum ketika langkah saya terseok seok mengikutinya dijalanan yang becek. Ketika sampai di sawah, yang saya lihat adalah hamparan tanah luas. Mungkin ada dua hektar tanah terbentang yang siap dibajak ( digemburkan ). Saya tidak bisa membayangkan berapa lama pekerjaan ini akan selesai. Apalagi dikerjakan hanya oleh tangan dua saja dengan berbekal cangkul.

Kerabat itu, tidak melihat kearah hamparan tanah luas. Dia dengan sigap melewati gili gili sawah dan masuk kedalam hamparan sawah yang luas itu. Saya perhatikan tangan kokohnya mengayungkan cangkul untuk menggemburkan tanah sebelum ditanami padi. Logika saya berkata bahwa ini pekerjaan yang sangat terbelakang. Terbayang waktu terbuang dan tenaga terkuras untuk itu semua. Saya tak ingin mempertanyakan kerja kerasnya. Saya hanya memandang dari dangau kecil setiap gerakannya mengayungkan cangkul. Berlangsung sampai tengah hari. Kerabat saya itu istirahat dan masuk kedangau untuk makan siang.” Apakah kamu tahu berapa luas tanah ini dan berapa lama biasanya kamu harus bekerja seperti ini agar tanah siap ditanam. ” Tanya saya

Dia memandang saya cukup lama dan akhirnya tersenyum sambil berkata” Saya tidak pernah menghitung luas lahan yang akan saya cangkul dan juga tidak ingat berapa lama waktu saya perlukan untuk menyelesaikan itu semua. Saya hanya tahu setiap pagi seusai sholat subuh saya harus kesawah dan mencangkul. Itu saja” Kemudian kerabat ini melanjutkan kata katanya ” Tuhan sediakan tanah untuk kita, Tuhan sediakan iklim untuk kita bercocok tanam, Tuhan juga sediakan waktu siang dan malam agar kita bisa membagi waktu kerja dan istirahat. Semua sudah Allah sediakan. Apalagi yang harus kita keluhkan. Soal lelah dan tidak menyamankan dan mungkin cukup menderita dari sudut pandang kamu tapi ketahuilah, bekerja itu adalah ibadah. Setiap ibadah adalah cobaan dari Allah untuk menguji keimanan kita beragama. Bahwa hidup harus dilewati dengan akal dan keyakinan. Untuk itu sikap sabar sangat penting”.

Apa yang diungkapkan oleh kerabat itu juga berlaku bagi kita dalam kehidupan dan profesi yang lainnya, sebuah bentuk pengakuan bahwa keyakinan kepada Allah juga keikhlasan mengikuti hukum alam dengan tak henti bersyukur kepada Allah walau prosesnya tak mudah dan murah. Hidup serba terbatas tanpa dukungan tekhnologi seperti orang kota tidak membuat kerabat saya itu berpaling dengan cara lain. Dia tetap bersyukur diberi kesehatan untuk bekerja dan lahan untuk mencari nafkah karena mungkin ada diplanet bumi ini orang yang sakit dan tak punya lahan untuk digarap. Dengan itu dia kaya dengan keyakinan dan kaya dengan rasa syukur. Dia tidak mengeluh dengan segala keterbatasan itu. Dia bekerja keras dengan apa yang bisa dia perbuat dan dia hidup dengan damai didesa tanpa kelaparan. Dalam Al-Baqarah 153 Allah berkata “ Wahai orang orang yang beriman! Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sungguh Allah beserta orang orang yang bersabar”

Bacalah dengan teliti kata kata Allah itu. Kata kata sabar lebih dulu daripada sholat sebagai alat minta tolong. Disini Allah berusaha meyakinkan kepada orang yang percaya ( beriman ) bahwa apa yang dialami bukanlah suatu yang buruk. Sabar bukan hanya berdoa dan membiarkan keadaan terjadi dengan begitu saja sambil menanti keajaiban.. Harus dilewati dengan berani walau menyakitkan. Sebagai sumber keyakinan ( keimanan ) sabar harus diaktualkan sebagai energi batin untuk terus melangkah. Jangan berhenti atau diam. Kita harus confidence , consistence dancontinous. Confidence ( percaya diri ) yang tinggi untuk mampu melewati proses yang sulit itu. Tidak gentar akan masa depan, Tidak gentar untuk bangun pagi dan menyapa mentari. Karena dia yakin ( istiqamah ) bahwa Allah sedang berdialogh dengannya lewat perjalanan hidupnya yang serba menyakitkan dan penuh kekecewaan.

Hidup dilingkungan yang brengsek ,yang serba materialistis, yang serba ingin cepat dan mudah dengan cara culas memang menyakitkan. Apalagi melihat kenyataan banyak orang yang dapat menikmati kemudahan lewat cara cara itu untuk dikatakan sukses. Sementara kita harus bergulat dengan segala yang sulit dan lama. Morgan Scott Peck sang psikiater yang menulis buku the road less Travelled , mengatakan “ Life is difficult “. Ya hidup tidak mudah. Penuh dengan banyak problema. Problema itu tak lain hanyalah permainan akal dan nafsu. Karenanya hidup adalah battle field ( ladang pertempuran ) melawan hawa nafsu. Ini perang tiada tiada akhir kecuali maut menjemput. Dan yang pasti bahwa kesuksesan didunia dan akhirat adalah akumulasi dari banyak kekecewaan, penderitaan dan tentu kelelahan. Maka mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat. Sungguh Allah beserta orang orang yang bersabar. Subhanallah...

No comments:

Wahyu dan Zaman

  Wahyu yang selama ini dikenal dan dipahami oleh umat Islam berbeda dengan fakta dan klaim sejarah. Karena wahyu yang absolute hanya saat w...