Friday, July 23, 2010

Puasa

Entah mengapa saya teringat dengan sahabat yang lama tak berjumpa. Mungkin sudah sepuluh tahun berlalu. Dia warga negara asing dan sempat tinggal di Jakarta beberapa bulan. Perkenalan dengannya di Perpustakaan Nasional karena dia dan saya kebetulan sedang melakukan riset dengan topik yang sama. Setelah itu kami sering berdiskusi tentang banyak hal. Teman ini punya kebiasaan puasa selama 40 hari. Tapi puasanya hanya tidak makan kecuali minum. Selama 40 hari benar benar tidak ada satupun makanan masuk kedalam perutnya kecuali air putih. Saya sempat mengkawatirkan kesehatannya. Tapi dia tampak tegar dan tak nampak sekalipun dia lelah dengan “puasanya “ itu. Setelah 40 hari , dia kembali makan secara normal. Apa katanya “ Air adalah sumber kehidupan., Semua unsur kimia yang dibutuhkan tubuh ada pada air.

Tapi mengapa ada rasa lapar ? Tanya saya. Teman ini mengatakan bahwa makanan yang disediakan Tuhan diplanet bumi ini hanyalah pelengkap namun ia juga perangkap. Makanan bisa seperti narkoba. Membuat orang ketagihan untuk terus makan. Sejam saja telat makan maka otaknya akan bereaksi memaksa orang harus makan dan makan. Padahal sebagian besar makanan itu menjadi beban organ dalam tubuh untuk mencernanya. Bahkan sebagian besar menimbulkan kerusakan secara sistematis terhadap organ dalam tubuh.Sebagai mana korban narkoba, makanan bukan hanya merusak organ dalam tubuh tapi juga merusak jiwa dan pikiran. Banyak orang tak bisa bekerja dengan focus bila terasa lapar. Banyak orang lupa moral bila perut menuntut untuk diisi. Banyaknya penyakit sosial seperti korupsi, merampok dll lebih disebabkan oleh perut dan otak yang teracun makan.

Ritual puasa dikenal bukan hanya oleh umat islam. Hampir semua kepercayaan mengenal ritual puasa. Ini suatu fakta bahwa sumber agama berasal dari satu yaitu Tuhan. Sebagaimana firman Allah. Hai orang yang beriman diwajibkan kepada mu untuk berpuasa sebagaimana kaum kaum sebelum kamu semoga kamu menjadi orang yang bertakwa. Puasa diperintahkan hanya kepada orang yang beriman. Karena puasa itu adalah ibadah untuk Allah. Allah ‘azza wa Jalla berfirman; ‘Setiap amalan baik anak Adam adalah untuk dirinya melainkan puasa; ia adalah untukKu dan Akulah yang akan membalasnya.’ Puasa itu adalah perisai dari kerusakan jiwa dan raga. Itulah sebabnya ibadah puasa tidak sama dengan ritual lain yang kualitasnya dapat dilihat oleh orang lain. Ritual puasa hanya berhubungan dengan diri kita dan Allah yang tahu. Manfaatnyapun dapat dirasakan langsung oleh kita sendiri didunia ini dalam bentuk tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat. Sehingga pantas disebut manusia yang sempurna untuk pantas pula menjadi rahmat bagi alam semesta

Mengapa puasa ini untuk Allah ? Karena puasa adalah berhubungan dengan design manusia diciptakan oleh Allah. Sebagai pencipta , tentu Allah ingin ciptaannya itu sempurna. Dan Puasa adalah sistem dan procedure yang ada pada jiwa dan raga manusia untuk comply properly. Artinya , Allah mengetahui dengan pasti bahwa perusak raga manusia adalah makanan. Bila raga rusak maka dia akan meracuni jiwa. Bila jiwa teracuni maka manusia tak ubah sepertinya binatang. Mungkin inilah rahasia dibalik perintah puasa. Untuk kita pahami bahwa kecintaan Allah kepada kita sangat tak terbilang. Segala sesuatu yang membuat kita sempurna telah Allah berikan jalan yang tepat dan benar. Kita hanya diminta percaya untuk melewati itu semua dengan ikhlas, tentu pada akhirnya untuk kepentingan kita juga sebagai manusia.

Dari kebiasaan teman saya itu, saya terinspirasi hebat. Saya merindukan Ramadhan. Bahkan , dari ritual puasa itu, saya mulai mencoba untuk berkompromi dengan raga saya untuk membatasi segala makanan yang menbuat saya makan dengan lahap. Pikiran tentang makanan yang mendorong selera makan lebih, saya kendalikan dengan baik. Hasilnya, dalam konteks dorongan untuk marah, tidak sabar, putus asa, dapat saya kendalikan pula. Yang menolak untuk berpuasa tentu tidak percaya ( beriman ) kepada Allah maka dia bukanlah manusia seperti yang Allah maksud.

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...