Friday, January 01, 2010

Selamat jalan Gus Dur

Seorang Gus Dur adalah seorang yang berpikir Holistik. Ketika umat islam membenci Yahudi , Gus mendekat kepada Israel. Dia tidak membenci orang tapi membenci Pola pemikiran Yahudi sebagai sebuah silent idiology against Islam. Gus Dur tidak membenci Departement Penerangan tapi dia tak suka pola berpikir yang memaksa rakyat berkiblat pada satu informasi yang disakralkan. Gus Dur sangat peduli dengan fungsi sosial negara tapi dia tidak mau pola berpikir yang menempatkan pemerintah sebagai badan charity yang akan membuat rakyat semakin lemah bargain position nya. Itulah dasar dia membubarkan Depsos. Dia suka bersikap jenaka terhadap prilaku Kiyai tapi sebetulnya itu adalah sikapnya yang gerah terhadap budaya sektarian. Gus Dur menentang segala budaya Soehartoisme. Tapi dia tidak membenci Soeharto dan keluarganya.

Dengan itu semua membuat Gus Dur dikenal sebagai tokoh controversial. Sebetulnya yang controversial itu adalah lingkungannya. Berbagai bendera LSM dan Partai bertebaran dinegeri ini. Semua orang meng claim dia paling benar. Yang Partai teguh berpikir dengan caranya untuk atas nama rakyat. Para LSM juga bersikap yang sama. Maka kita renta akan kedamaian. Kita oportunis. Budaya sektoral ini hidup subur ditengah euforia demokrasi. Padahal hakikat dari cara berpikir holistik adalah berpikir dalam konteks kebangsaan. Pluralisme bukanlah menganggap semua agama sama. Bukan. Gus Dur hanya ingin meyakinkan semua pihak bahwa agama bukan sebagai biang untuk bertikai. Tapi menentramkanm begitupula politik.

Berpikir holistik bagi Gus Dur adalah jalan berliku dan terjal namun dia tetap melangkah dengan caranya. Bukanlah hal yang mudah dan murah. Kadang di elu elukan sebagai pemersatu. Tapi kadang dia dikecam secara ekstrim. Kalaulah kita dapat ikut larut sedikit dalam pola berpikir Gus Dur maka kita akan sampai pada hakikat membangun sebuah bangsa. Bahwa hakikatnya jangan ada lagi politik sebagai dewa. Jangan ada lagi agama dijadikan alat untuk berpikir sektoral karena Agama itu termaha luas untuk rahmat bagi seluruh manusia. Jagan ada lagi pemerintah segala galanya menentukan salah dan benar. Jangan ada lagi jabatan dan kekuasaan itu sakral untuk dipuja. Jangan ada lagi tentara itu garang menakuti rakyat. Jangan ada lagi istana itu sakral.

Gus Dur dengan sikapnya , bagaikan menari diatas kubangan lumpur. Licin dan kotor. Dia tetap menari dengan gayanya. Dia sadar baik penonton maupun teman serta keluarganya akan kecipratan kotoran itu. Tapi sebetulnya dia sedang membersihkan lantai untuk semua orang dapat menari tanpa harus kotor dan licin. Sebelum kubangan itu bersih, orang tak sabar melihatnya menari dan kena cipratan lumpur. Diapun terpaksa disingkirkan untuk diam. Benarlah dia di diamkan. Tersisihkan dari NU, juga dari PKB. Hiruk pikuk pesta berlangsung lagi ditengah lampu yang temaram diatas permadani indah melapisi lumpur. Kita puas. Karena semua seperti biasa kembali. Tapi kita lupa permadani itu akan kembali kotor karena alasnya kotor. Alas itu adalah pola berpikir kita yang sektoral dan oportunis.

Kini Gus Dur telah tiada. Takdir telah berlaku untuk seorang Gus Dur. Seberapa kuat tekadnya, Seberapa kuat niatnya untuk rakyat yagn dicintainya. Semua itu hanyalah permainan dihadapan Allah. Karena sesungguhnya manusia diukur bukan dari apa yang diraihnya tapi cinta dibalik perbuatannya. Dia kembali kepada dekapan Rabb nya , dimana kebenaran , kebaikan dan keadilan akan diperlihatkan kepadanya dengan jelas dan terang. Kita berdoa semoga Gus Dur mendapat tempat sebaik baiknya disisi Allah. Dan kita yang ditinggalkan dapat belajar dari sosok Gus Dur dari segala kekurangan dan kelebihannya untuk masa depan yang lebih baik. Semoga..

Selamat Jalan Gus Dur ...

Propaganda lewat Film.

  Selama lebih dari 10 tahun di China, Saya suka nonton drama TV. Padahal di Indonesia hal yang jarang sekali saya tonton adalah Drama TV. M...