Saturday, January 23, 2010

Kebahagiaan

Ketika dialogh dengan sahabat, ada sesuatu yang menarik ketika dia bertanya “ Apakah yang dimaksud dengan kebahagiaan”. Saya tahu bahwa dia sudah menemukan jawaban menurut versinya berdasarkan taffakur. Tapi saya mencoba untu menjawab menurut versi saya sendiri. Bahwa kebahagiaan itu adalah ketika kita tidak lagi bertanya. Tidak ada reaksi apapun dari teman ini atas jawaban saya itu. Kemudian saya mulai masuk dalam analogi sederhana tentang jawaban saya itu dan dia mulai tersenyum. Jawaban sederhana tapi tidak mudah untuk menerapkannya. Begitulah bahagia itu sangat sederhana tapi tidak banyak orang dapat memahaminya.

Kebahagiaan itu berkaitan dengan jiwa. Antara jiwa dan raga selalu berinteraksi tentang rasa dan karsa. Kadang interaksi ini mengakibatkan komplik yang tak berkesudahan. Komplik ini datang dari raga kita dalam bentuk pertanyaan yang tak berkesudahan. Ketika anda melihat orang kaya, kita bertanya ” Kenapa dia kaya dan mengapa bukan saya ?Melihat wanita cantik melintas didepan kita, kitapun bertanya ” oh cantiknya wanita itu. Mengapa bukan dia istri atau pacar saya ?. Ketika melihat orang berkuasa , kitapun bertanya mengapa bukan saya yang jadi persident atau mengapa bukan saya yang jadi pemimpin. Ketika kita sakit, kita bertanya ” mengapa saya tidak sesehat orang lain dan mengapa sakit ini datang? Ketika bencana datang ,kita bertanya ” mengapa harus saya?

Pertanyaan tersebut diatas akan panjang sekali hingga tak ada ujungnya. Dalam kondisi apapun kita akan terus bertanya dan bertanya. Pesatnya ilmu pengetahuan juga karena hasrat yang tinggi untuk terus bertanya. Pesatnya ekonomi suatu bangsa karena hasrat tinggi untuk terus bertanya. Setiap pertanyaan itu memacu orang untuk mengabaikan apa yang sudah diraihnya dan berjuang untuk mendapatkan apa yang masih menjadi tanda tanya itu. Kita berargumen tentang ”tanya ” ini sebagai sikap aktif , progressive atau tidak nrimo. Ini menjadi budaya keseharian kita sebagai ujud berkompetisi. Budaya kompetisi dilegalkan untuk meraih apa saja. Termasuk untuk jadi pemimpin untuk mengendalikan orang banyak.

Tanpa terasa kita terjebak dalam ruang yang tak menghasilkan apa apa. Kemarin kita berjuang keras karena sebuah ”tanya” dan hari ini kita raih itu namun kembali berjuang untuk sebuah ”tanya” agar besok kita dapatkan. Ketika besok kita dapatkan maka yang kemarin akan terlupakan untuk kembali berjuang dan melupakannya. Artinya dalam ”waktu:” kemarin , hari ini dan besok kita nothing. Terperangkap dalam kesia siaan. Padahal dalam rentang waktu itu kita telah mengorbankan segala galanya., tapi suatu pengorbanan yang bersyarat untuk besok karena kemarin dan hari ini bukanlah apa apa bagi kita. Itulah biang persoalan manusia modern dan kita hidup dalam kondisi kapitalis yang berkompetisi.

Bila anda tidak lagi bertanya maka hari ini adalah milik anda. Lah artinya kita tidak progresif dan nrimo? Tidak ! Kita hanya berusaha menjadi sempurna atas nikmat yang kita terima hari ini. Apa itu ? Nikmat umur. Nikmat waktu. Karena memang hanya hari ini yang menjadi milik kita. Kemarin sudah menjadi masa lalu dan tak akan pernah kembali. Sementara masa depan bukanlah milik kita karna belum terjadi. Lantas bagaimana caranya agar kita tidak terjebak oleh permainan waktu ini ? Caranya ya sederhana saja. Mulailah bersyukur dengan segala kondisi apapun, dalam susah maupun senang, sehat maupun sakit, kaya maupun miskin. Jelek maupun cantik, gemuk maupun langsing .

Rasa syukur ini akan menjelma menjadi kebahagiaan pada hari ini dan untuk mempersiapkan besok maka lengkapilah dengan Ikhlas.Untuk ikhlas , maka bersabarlah karena besok kalau kita masih hidup , toh akan menjadi tak lebih sama dengan masa kini. Kita tidak mungkin makan sepuluh piring sekali makan dan kaki kita akan tetap menginjak bumi, ya kan. Sama. Dan bila besok kita almarhum, semua menjadi lain karena yang kita bawa hanyalah sifat syukur, ikhlas dan sabar. Itulah hakikat kita diadakan untuk meraih kebahagiaan didunia dan diakhirat.

Wahyu dan Zaman

  Wahyu yang selama ini dikenal dan dipahami oleh umat Islam berbeda dengan fakta dan klaim sejarah. Karena wahyu yang absolute hanya saat w...